You My Destiny

You My Destiny
Episode. 24



Waktu berlalu begitu cepat dan hari sudah malam. Tampak Harley yang baru pulang bekerja, hendak memasuki mansion namun dirinya justru berpapasan dengan Arya.


" kenapa larut malam kesini? " tanya Harley sembari menatap intens Arya, pria yang bisa dibilang teman masa kecilnya.


" Aku mau mengantar dokumen." jawab Arya dengan datar tanpa menatap pada lawan bicaranya.


Hatinya sungguh tak senang bila bertemu dengan Harley sebab, pria tampan itu seringkali menyakiti pujaan hatinya.


" biar Aku yang berikan." ucap Harley, meminta dokumen yang dipegang Arya.


" tidak perlu. Aku masih punya kaki dan tangan untuk memberikan langsung pada Hily. Oh, kau tau. Hily sangat cantik dengan style barunya. Tapi, sayang. Dia hanya seorang istri yang terabaikan. Jika kau mau, Aku bisa tidur bersama istrimu daripada dia terlihat begitu menyedihkan."


Perkataan Arya yang begitu menentang sontak saja mengundang amarah Harley hingga tanpa aba-aba, Harley langsung menghadiahkan bogem mentah.


" kupikir membiarkan Hily bersama mu adalah hal yang benar kulakukan tapi ternyata, kau sama bajingannya dengan bajingan diluar sana." ucap Harley dengan nafas berat sembari menahan emosi yang meletup-letup.


Arya yang melihat bagaimana reaksi Harley atas ucapannya, kini menatap nanar wajah Harley yang tampak memerah.


Dengan emosi yang mencuat, Harley segera berjalan gontai memasuki mansion. Hatinya bergemuruh, mengingat setiap perkataan Arya yang seolah merendahkan Hily.


Ada rasa tidak suka dan tidak terima bila Hily direndahkan oleh seseorang sebab, bagaimanapun juga Hily adalah sahabat sekaligus istrinya.


Sementara Arya, Ia kini hanya mampu menatap dalam diam pada Harley yang sudah berlalu.


" mungkin cinta itu tidak ada tapi, kasih sayangmu itu tidak akan pernah hilang untuk Hily." gumam Arya dan segera meninggalkan mansion Murray.


****


Ceklek.


Masih dengan hati yang tengah menahan amarah, Harley menerobos masuk kedalam kamar Hily hingga membuat siempunya kamar terkejut.


" ada apa?" tanya Hily sembari menatap nanar pada suaminya.


" dengarkan Aku, tidak tau apa itu dirimu atau bukan. Tapi, kuharap itu bukan kau yang menyuruh wanita pengemis itu mengacau di restaurant tempat Aku dan Aana berada." ucap Harley, to the point pada masalah yang ingin dibahasnya.


Mendengar pernyataan suaminya, Hily hanya mampu terdiam. Masih mencerna setiap kata yang meluncur dari bibir tipis suaminya.


" apa ini sama saja kau menuduhku?" ucap Hily yang masih menatap wajah suaminya dengan gurat kekecewaan.


" Aku baru sadar ternyata Harley sudah tidak ada dan sekarang hanya jiwa bodohnya yang bersemayam dikehidupan sehari-hari." tambahnya dengan mata yang berkaca-kaca.


" Hily, kau tentu tau sifatku. Aku tidak akan pernah percaya lagi jika sudah menemukan satu kebohongan."


" bukan satu kebohongan tapi, yang benar tidak satupun ada kebohongan. Hanya kau keliru Harley. Kau terlalu takut untuk menerima kenyataan sampai semua kesalahan yang terjadi kau limpahkan padaku." sentak Hily dengan wajah memerah. Lapisan kristal yang membendung dimata kini meluncur, membasahi kedua pipinya.


" ada apa denganmu? Kenapa kau menjadi bodoh dan selalu berfikir yang tidak masuk akal."


Hily terus mengoceh dengan air mata yang mengalir. Sakit yang berusaha dilupakannya, kembali terasa saat mendengar pernyataan yang tidak masuk akal dari suaminya.


Namun, hal tak terduga terjadi. Dimana Harley tiba-tiba saja mendekap pinggang Hily dan mengecup bibir bergetar itu. Kecupan itu kian berubah menjadi ******* saat Harley meraih tengkuk istrinya.


Lama keduanya terlena dalam ciuman panas yang tercipta beberapa detik lalu, Harley kini menyudahi tautan bibirnya dengan Hily. Menatap dalam wajah cantik istrinya, Harley membelainya dan melabuhkan kecupan ringan dikening Hily.


" Aku ingin bicara denganmu, sekali saja tanpa adanya air mata. Temui Aku diruang kerja." ucap Harley dengan datar dan segera berlalu, meninggalkan Hily yang mematung ditempat.


Sementara Hily, Ia kini perlahan menyentuh bibirnya yang masih terasa basah. Seketika Ia teringat ciuman panasnya beberapa saat lalu bersama Harley. Dalam hati, Ia sangat berharap bisa mendapatkan cinta suaminya namun, sekali lagi rasa ikhlas itu mengetuk hatinya untuk tidak bersikap egois.


Mengusap kasar wajahnya yang masih meninggalkan jejak air mata, Hily segera berlalu meninggalkan kamarnya, menemui Harley diruang kerja.