
Mansion Murray.
Pukul sebelas malam, Hily baru tiba dikediaman Murray bersama Arya yang sejak tadi mendampinginya.
" kau itu tidak mendengar, ya. Aku sudah bilang tunggu Harley." celoteh Hily.
" diamlah, kau itu payah sekali jadi wanita." ucap Arya ketus sembari memapah tubuh sahabatnya memasuki mansion Murray.
Tepat saat Arya sudah berada didalam mansion, lebih tepatnya di ruang tamu, Ia berpapasan dengan Harley yang kini memandang intens padanya.
" hai sobat, tampaknya kau bahagia sedangkan aku kesusahan mengurus istrimu." ucap Arya tersenyum tipis pada Harley yang kini berdiri tepat didepannya.
" Eman." teriak Harley menyerukan nama sang kepala pelayan. Ia tidak menanggapi Arya yang berdiri didepannya.
Tak menunggu waktu lama, kepala pelayan mansion Murray sudah datang.
" Iya Tuan." jawab Pak Eman saat sudah berdiri disisi Tuan muda-nya.
" bawa Hily ke kamarku." ucap Harley dengan nada santai dan segera berlalu. Ia sama sekali tak menaruh rasa cemburu pada Arya yang memeluk pinggang Hily yang sudah tidak sadar.
" ambil-lah, dan beritahu pada Tuan mu untuk menjaga sesuatu yang sudah menjadi miliknya walau dia tidak sekalipun menyukai." timpal Arya dan dengan segera berlalu saat Hily sudah berada digendongan Pak Eman.
****
Waktu berlalu begitu cepat. Rembulan dimalam hari kini berganti menjadi sinar matahari yang terasa hangat dikala pagi sudah menjemput untuk memulai aktivitas
Menggeliat kecil, samar-samar Hily melihat Harley yang sudah rapi dengan setelan kantor dan saat ini tengah berada didepan cermin, memasang dasi sendiri.
Bangun dari tidurnya, Hily merasa kepalanya masih berdenyut hingga membuatnya segera bersandar pada headboard.
" jangan mempertanyakan hal bodoh. Sebaiknya urus dirimu agar tidak menjadi wanita bodoh." jawab Harley dengan datar, tanpa menoleh pada Hily yang masih berada diatas tempat tidur.
Masih sedingin kemarin, Hily hanya mampu tersenyum kecut mendapati sikap Harley yang belum juga melunak.
Harley yang sudah selesai memasang dasinya, kini hendak meninggalkan kamar. Namun, langkah kakinya terhenti saat berdiri tak jauh dari pintu kamar.
" mulai besok jangan minum lagi. Aku memintanya bukan karena peduli, tapi karena Mommy dan Daddy. Kau juga harus membiasakan diri untuk tinggal di kamar ini agar Pak Eman tidak melapor pada Mommy dan Daddy yang sedang liburan di Amerika. Mereka akan berada diluar negeri cukup lama karena ingin mengunjungi Aunty Jeny di Belgia."
Harley berbicara dengan wajah datar nan dingin tanpa berbalik, menatap pada istrinya.
Sungguh sikap Harley berubah 90% pada Hily. Pernikahan mereka ternyata membawa keduanya pada sebuah ikatan tali yang mulai putus. Jika semula Harley dan Hily adalah dua sahabat yang sama-sama humoris, kini tidak lagi karena keduanya terlihat seperti dua orang yang baru bertemu dan saling mengenal.
Setelah mengutarakan sesuatu yang ingin di katakan, Harley segera berlalu meninggalkan istrinya yang mematung dengan posisi yang sama.
" dia sepertinya takkan melunak dalam waktu dekat. Sabar Hily, dan terus semangat untuk mendapatkan kepercayaannya kembali."
Hily bermonolog pada dirinya sendiri, memberi semangat pada diri yang mulai rapuh layaknya sebuah kayu yang dinikmati oleh rayap.
Tersenyum untuk memulai hari, Hily segera beranjak dari kasur menuju bathroom karena Ia harus segera ke kantor sebelum Arya mengomel lagi seperti yang sudah-sudah.
▪︎
▪︎
Bersambung....