
Mom Ayu, mengurai pelukannya dan membantu putranya menyeka air mata yang tanpa henti mengalir.
" kenapa anak Mommy sangat cengeng. Jika pegawaimu melihat, mereka akan menertawakan." Berkata dengan nada bercanda, Mom Ayu tersenyum untuk menghibur putranya.
" Mom, kau benar sekali. Saat Hily masih disampingnya, dia sama sekali tidak peduli dan sekarang saat Hily diambang kematian, baru menyesal seperti anak kecil."
Harvey menimpali, menyetujui ucapan Mommy-nya. Namun, tanpa sadar– perkataan Harvey membuatnya mendapatkan tatapan tajam dari sang Daddy.
Ceklek.
Terdengar suara pintu yang terbuka dan seketika semuanya menoleh. Dokter yang menangani Hily, keluar dari ruang operasi dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.
" dokter, bagaimana operasinya?"
Harley langsung menyosor, mengajukan tanya pada sang dokter yang masih terdiam sesaat.
" operasi berhasil. Tapi, dia koma. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan." jelas sang dokter dengan sopan.
Semuanya kini tampak terdiam, mendengar ucapan dokter. Mom Ayu merengkuh dengan erat lengan suaminya karena rasa khawatir tiba-tiba menyapa. Sedangkan Harvey dan Allen, istrinya, yang sejak tadi bergandengan tangan kini terdiam dengan pikiran masing-masing.
" mari ikut saya Tuan Harley. Ada yang perlu saya jelaskan." Sang dokter berlalu, dan Harley pun mengekor dibelakangnya.
****
Duduk tenang didepan sang dokter, Harley kini tengah siap mendengarkan dengan baik semua yang hendak diucapkan dokter.
" Tuan Harley, seperti yang kita ketahui bahwa istrimu mengalami kecelakaan hebat. Tapi, untunglah operasinya berjalan dengan baik. Ini bukan kali pertamaku mendapatkan kasus seperti ini, dan sepanjang operasi tadi sepertinya akan ada masalah saat pasien sadar dari koma nya."
Dokter menjeda sesaat, dan Harley pun masih tenang– mendengarkan perjelasan sang dokter.
" Aku sudah melakukan pemeriksaan keseluruhan dan sepertinya istrimu akan mengalami gangguan pada ingatannya. Bisa jadi dia akan melupakan semua ingatannya yang berarti Ia akan memulai dengan yang baru. Tapi, berdoa lah agar istrimu baik-baik saja karena benturan dikepalanya cukup keras."
Mendengar pernyataan dokter, Harley seketika terdiam. Bibirnya terasa kelu untuk berbicara sepatah kata.
" maaf, apa ada yang ingin Tuan tanyakan?" sang dokter bertanya, setelah lama melihat Harley yang hanya diam membisu.
" tidak ada."
Harley tak banyak bicara, Ia segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruangan sang dokter. Perasaan resah dan hati yang kalut, kini dirasakan Harley.
Mentari cerah kian menyapa dipagi hari. Harley yang terus terjaga disamping brankar istrinya, masih terlihat muram. Hatinya hanya menginginkan satu hal, dimana Ia ingin melihat Hily segera sadar.
Mengamati sang istri yang terbaring seolah tengah tidur dengan nyenyak, hati Harley terasa tercubit saat melihat lebam diwajah Hily serta perban yang melilit dikepala.
Tanpa terasa air matanya mengalir dan bersamaan itu Ia teringat pada semua kenangan saat keduanya masih bersahabat.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan dua perawat wanita yang membawa peralatan untuk pemeriksaan. Harley segera bangkit dari duduknya dan tersenyum ramah pada dua perawat itu.
" maaf, Tuan. Pasien harus melakukan pemeriksaan. Dimohon keluar dulu."
Mendengar ucapan perawat, Harley segera keluar.
" hai adik! Kau menjadi suami baik sekarang." Sapaan Harvey yang tiba-tiba sontak saja membuat Harley terkejut.
" kenapa masih pagi kau sudah disini?" tanya Harley dengan mengamati kakaknya yang berpenampilan begitu rapi.
" Aku hanya ingin menjaga sahabat sekaligus adik iparku. Kenapa? Ada yang salah?" celetuk Harvey dengan santai.
" tentu saja ada yang salah karena seharusnya kau harus ke kantor bukan kesini." Harley menyahuti perkataan kakaknya dengan suara yang melengking.
Hahaha.
Tawa Harvey pecah seketika, sedangkan Harley– Ia menatap kakaknya dengan heran.
" astaga, kau ini. Bukan dirimu yang kecelakaan kenapa kau yang pelupa. Hari ini hari minggu dan semua orang weekend. Tapi, karena Aku adalah kakak yang baik jadi Aku kemari menjaga iparku." seloroh Harvey dengan tawa di bibirnya.
Harley yang baru mengetahuinya, kini tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya. Ia seketika merasa bodoh dihadapan kakaknya sendiri.
" ah, sudahlah. Jika kau kesini untuk menjaga Hily maka lakukan karena Aku harus pergi mengurus sesuatu. Dah!"
Setelah mengatakan tujuannya, Harley segera berlalu meninggalkan Harvey yang melongo, menatap kepergiannya.
" baru kubilang suami baik, dia sudah pergi." gerutu Harvey dengan kesal.