You My Destiny

You My Destiny
Episode. 45



Mendengar ucapan pria disampingnya, wanita cantik bernama Zaskiah Safran itu, sontak menoleh.



" Aku bersahabat dengan dia sejak kecil. Saat kecil.. aku belum menyukainya, tapi aku sudah takut kehilangan." Harley bercerita dengan tiba - tiba, meski tanpa diminta.


Sementara Zaskiah, wanita cantik itu dengan tenang mendengarkan.


" Dia memiliki saudari angkat, kupikir aku mencintai saudarinya, ternyata hanya sebuah rasa kasihan. Tapi hebatnya aku menjalani hubungan dengan saudarinya, tanpa aku tau kalau dia menyukai aku sejak kami kecil dan sering bermain bersama." jeda Harley tersenyum getir.


" Tapi.. saat dia kecelakaan kemarin, aku benar - benar kehilangan dia. Ingatannya hilang, begitu juga dengan aku yang terhapus total dalam pikirannya. Aku ingin sekali memeluknya dan mengatakan aku menyesal dan ingin memperbaiki semuanya, tapi dia sudah nyaman dengan seseorang yang sejak dulu menemaninya saat terluka karena aku." air mata Harley kembali lolos dari pelupuk mata.


Pria yang selalu terlihat humoris tetapi menawan, kini sangat rapuh dan lemah— terlebih lagi air mata yang menetes seketika didepan wanita yang baru dikenal.


" Jadi kau mencintai sahabatmu?" tanya Zaskiah datar.


Harley tak menyahut karena terlalu sibuk menahan sesak yang menggerogoti jiwanya.


" Maka lepaskan dia, buat dia bahagia setelah terluka karena dirimu sendiri. Setidaknya itu akan membuatmu lebih tenang sedikit." ucap Zaskiah kemudian.


" Benarkah?" gelombang suara Harley sedikit bergetar.


Zaskiah mengangguk. "Setelah itu kau akan mengetahui bagaimana rasanya jatuh cinta sendiri. Mencintai secara sepihak, dan juga berusaha tersenyum melihat kebahagiaan dia bersama seseorang yang baru itu. Dari situ, kau akan belajar untuk tidak menyia - nyiakan seseorang yang betul - betul tulus dan selalu ada untukmu."


Zaskiah menepuk pelan bahu pria disampingnya. Senyum terlihat sebelum dirinya beranjak dari bangku yang juga diduduki Harley.


" Ini, ambillah." Zaskiah menyodorkan kartu nama pada Harley.


" Hubungi aku jika sudah berdamai dengan takdir yang mengharuskanmu melepas dia." tutur Zaskiah dan berlalu begitu saja setelah Harley menerima kartu namanya.


Setelah kepergian Zaskiah, Harley melihat kartu nama yang tadi diberikan.


Harley mengangkat pandangannya, menatap pada wanita muda yang tadi sempat menghiburnya sesaat. Sudut bibirnya tertarik, menampilkan senyum tipis kala melihat langkah wanita itu semakin menjauh.




Disatu sisi ada Arya yang saat ini baru tiba disebuah restaurant yang tampak sederhana. Ia keluar dari mobilnya dengan mengenakan kacamata hitamnya.


Hendak melangkah masuk kedalam restauran, tiba - tiba langkahnya tertahan saat dering ponsel disaku celana berbunyi.


Dilihatnya nama sipemanggil, keningnya pun mengerut keherangan. Tanpa membuang waktu lama, Ia segera menjawab panggilan yang ternyata dari Harley.


" Humm, ada apa?" tanya Arya datar.


" Kau bertemu dengan Hily?" Harley diseberang telfon balik bertanya.


Arya menjauhkan ponselnya, melihat layar ponsel itu sembari menautkan kedua alisnya.


" Humm, dia tidak kekantor, tapi menghubungiku untuk bertemu direstauran." jawab Arya seadanya. Ia melanjutkan langkahnya kedalam restauran dengan ponsel yang masih menempel ditelinga.


Tiba didalam restauran, Arya tersenyum lebar saat dari jarak tujuh meter Ia melihat Hily duduk dengan tenang menunggunya. Rasa senang seketika tercipta, tanpa menyadari bahwa ponselnya masih terhubung dengan panggilan Harley.


Ia melambaikan tangan saat Hily melihatnya.


" Yaya' .. aku kalah."


Deg.


Arya sontak membeku ditempatnya kala mendengar ucapan Harley barusan, terlebih lagi sahabatnya itu menyerukan dengan nama panggilan semasa kecil.