You My Destiny

You My Destiny
Episode. 31



Selang beberapa detik, Harvey mendahului adiknya— masuk kedalam ruang perawatan Hily.


" Hily, bagaimana kabarmu?" Harvey menyapa dengan ramah.


Hily menoleh dan memperlihatkan senyum manisnya. Ia lalu menatap kembali pada Arya, seolah meminta bantuan untuk mengenal sosok pria gagah yang baru masuk ke dalam kamar rawatnya.


" dia kakak kembar Harley— suamimu." Arya memperkenalkan Harvey saat melihat tatapan kebingungan Hily.


Mendengar ucapan Arya, Hily kembali menoleh pada Harvey dan tersenyum manis.


" aku membawa buket mawar ini karena mawar adalah salah satu bunga kesukaanmu." seru Harvey, meletakkan buket bunga yang dibawanya dipangkuan Hily.


Hily menerimanya dengan sembringah.


" terima kasih." ucap Hily girang.


Harvey menyunggingkan senyum tipis dan segera pamit karena harus ke kantornya.


Selang beberapa saat, Harley yang sejak tadi berdiam diri diluar ruangan— akhirnya masuk kedalam melihat istrinya yang masih ditemani Arya.


" kau sudah merasa baikan?" tanya Harley.


Hily mengangguk dengan pandangan yang terarah pada suaminya.


" syukurlah. Arya, kau bisa pulang. Aku akan menjaga Hily. Lagipula kau harus mengurus perusahaan istriku."


Harley beralih pada pria muda yang masih duduk disamping brankar istrinya. Namun, untuk sesaat adrenalin Harley memberontak saat dengan sigapnya Hily meraih tangan kekar Arya— menahan pria itu untuk tidak pergi.


Arya mematung, begitu pula Harley. Kedua pun saling beradu pandang. Harley memberi tatapan penuh amarah pada Arya, dan sebaliknya Arya seakan menatap penuh kemenangan.


" aku... ingin bersama Arya." lanjutnya, membuat Harley bungkam seketika.


" Hily, aku akan pergi ke kantor sebentar saja. Aku harus memastikan dulu pekerjaan disana selesai sebelum menemanimu lebih lama." jelas Arya kemudian.


Hily tak menjawab. Namun diamnya seakan menolak untuk membiarkan Arya pergi.


" tenanglah, dia sungguh suamimu." Arya meyakinkan.


Lama terdiam, Hily pun mengangguk tanda setuju. Arya menyempatkan senyumnya sebelum berlalu, namun pria muda itu kembali menghentikan langkahnya saat dirinya berdiri tepat disamping Harley.


" kau tau.. Allah itu adil. Dulu aku mencintainya, tapi dia malah mencintai pria pecundang sepertimu. Tapi kau sudah lihat hasilnya kan, pada akhirnya dia sekarang menginginkanku karena buah dari kesabaran ku selama ini yang terus menantinya." ucap Arya pelan dan segera berlalu tanpa memberi kesempatan pada Harley untuk berucap sepatah kata.


Harley menggeram, namun melihat Hily yang tengah menatapnya Ia pun menetralkan perasaannya yang bergolak tiba-tiba.


" kau pasti merasa tidak enak karena ingatanmu membuatku menjadi orang asing. Tapi.. kau bisa santai padaku bagaimanapun juga kita adalah sahabat." tutur Harley lalu duduk dikursi yang sebelumnya ditempati Arya.


" sahabat?" Nada suara Hily seolah bertanya pada pria gagah disisinya.


" hmm.. kita memang sahabat sesudahnya kita menikah dan menjadi suami-istri." jawab Harley dengan senyum tipisnya.


Mendengar ucapan suaminya, Hily bukannya melunak tetapi Ia justru memalingkan wajahnya. Entah kenapa, namun hatinya sangat resah bila dekat dengan pria yang mengaku sebagai suaminya.


Apa aku menikah karena cinta? Atau pernikahan kami terjadi karena ada alasan lain? Atau perlu ku tanyakan kenapa kami menikah? Huff, aku sungguh tidak menyukai pria ini.. aku lebih nyaman dengan yang tadi. Yang tadi namanya Arya kan? Sepertinya— Iya kalau aku tidak salah ingat.


Berbagai celotehan didalam benak Hily. Bergolak sudah perasaannya saat ini hingga tak lama sepasang suami istri masuk kedalam ruangannya.


Hily menatap nanar pada pria dan wanita paruh baya yang juga menatapnya. Tentu saja, dalam hati dirinya kembali bertanya siapakah kedua orang yang baru datang itu.