
" Aku sungguh tidak tau Ley. Apa maksudmu?" tanya Hily masih memaksakan senyum diwajahnya yang kini memerah, menahan tangis.
Merogoh ponsel di saku celananya, Harley memperlihatkan sebuah gambar pada Hily.
Mata Hily seketika membulat sempurna. Ia terbelalak saat melihat gambar didalam ponsel Harley, dimana Ia menyodorkan uang pada tukang ojek, siang tadi.
" Ley, Aku punya alasan memberinya uang dan apa hubungannya dengan orang itu?"
" Iya, kau punya alasan memberinya uang karena kau menyuruh orang itu menabrak Aana." sentak Harley dengan menatap tajam pada Hily.
Setetes air mata tiba-tiba saja meluncur, membasahi pipi Hily. Kedua matanya yang berlapis cairan bening, kini menatap lekat pada Harley.
" lalu kau percaya pada apa yang kau lihat dan kau dengar, tanpa mengetahui yang sebenarnya?" ucap Hily dengan bibir bergetar.
" Aku dulu percaya padamu, tapi karena caramu yang kotor untuk bisa menikah denganku, Aku tidak lagi percaya padamu." ujar Harley sembari tersenyum kecut.
Melihat senyuman diwajah suaminya, Hily pun turut tersenyum bersama tetesan air mata yang kini mengalir.
" Aku salah! Aku yang salah karena terlalu berharap padamu. Baiklah, Aku tidak akan memintamu untuk percaya padaku. Tapi, yang kau tuduhkan untukku itu tidaklah benar. Aku bersama Arya siang tadi dan Aku..."
" cukup" sentak Harley dengan kasar, memotong perkataan Hily.
Harley kini sungguh tersulut emosi. Amarahnya tak dapat Ia redam hingga membuatnya segera berlalu, meninggalkan Hily dengan air mata yang menangis.
Sakit. Itulah yang dirasakan Hily saat ini. Harley seolah bukanlah sahabatnya yang dulu, dimana mereka sering berbagi tawa.
Dengan hati yang berkecamuk, Hily meninggalkan mansion dilarut malam. Tujuannya tak lain adalah menemui seseorang yang akan Ia mintai jawaban.
****
Melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, mata Hily tampak begitu fokus pada jalanan. Namun, mata itu menyiratkan perasaan yang amat kalut. Semua ocehan Harley, masih tercetak jelas di kepalanya, bagaimana pria berstatus suaminya itu menuduh dirinya melakukan kejahatan.
Jarak tempuh yang lumayan jauh, namun Hily berhasil tiba di tempat tujuan dalam waktu sepuluh menit. Tujuannya tentu pada Aana, wanita yang bertakhta sebagai saudari angkatnya sekaligus kekasih suaminya.
Berjalan gontai memasuki toko bunga milik saudarinya, dada Hily kini dipenuhi sesak. Ia bahkan melewati meja kasir tanpa sepatah kata dan segera menuju ke ruangan owner toko bunga.
Ceklek.
Tanpa mengetuk dan tanpa permisi, Hily menerobos masuk kedalam ruangan Aana. Dilihatnya wanita dewasa yang selisih setahun darinya, sedang duduk santai di kursi kerja.
Menghampiri saudarinya, mata Hily menatap lekat pada wajah cantik Aana.
" kau yang melakukannya?" ucap Hily dengan spontan, sebagai isyarat bahwa wanita cantik itu ingin to the point pada permasalahan yang ingin dibahasnya.
Masih terlihat santai, Aana hanya melempar senyum pada adiknya yang tampak dipenuhi amarah.
" tenanglah Hily. Ada apa? Wajahmu seperti kesal sekali. Kau seperti ingin memakan kakakmu." ucap Aana dengan nada bercanda.
" tidak perlu berbasa-basi. Kau yang membuat kesalahpahaman antara Aku dan Harley kan. Kau tau kan, Aku dan dia sudah tidak baik-baik saja dan sekarang kau malah membuat semuanya menjadi runyam." cerocos Hily dengan wajah memerah, antara menahan amarah dan tangis yang menghuni relung hatinya.
Berdiri dari duduknya, Aana kini menampilkan raut wajah yang begitu sendu. Menatap pada Hily dengan mata yang berkaca-kaca.
" Lalu kau ingin apa? Kau ingin menamparku, Hah? "
Sebuah kalimat yang meluncur dari bibir Aana seketika membuat Hily keheranan. Ia bingung, sebab saudarinya sungguh bersikap dan berkata aneh.
Selang beberapa detik, air mata meluncur membasahi kedua pipi Aana. Menangis tersedu-sedu hingga lagi-lagi membuat Hily bertambah bingung.
Sedetik kemudian, tanpa diduga. Sebuah tangan kekar mencengkeram pergelangan tangan Hily dengan kasar.
Plakk.
Tamparan yang begitu keras, diterima dengan tepat pada pipi Hily. Panas, itulah yang dirasakan Hily saat ini.
Pandangan matanya beralih pada pria tampan yang tiba-tiba datang dan melayangkan tamparan keras. Entah dari mana pria yang notabene nya adalah suaminya sendiri, datang tanpa diduga.
" Ley."
Menyerukan nama suaminya dengan bibir yang bergetar sembari memegang pipinya yang terasa panas karena tamparan Harley, Hily menatap tak percaya pada pria yang Ia kenal sejak kecil.
" kau sudah berusaha mencelakai Aana dan sekarang kau datang kemari ingin mengancamnya lagi?" sentak Harley menatap tajam pada Hily yang menatapnya dengan mata yang memerah.
Terasa kelu lidah Hily untuk berucap sepatah dua kata pada suaminya. Tuduhan beberapa menit lalu saja, masih berbekas dihati dan kini suaminya kembali menghujani dengan tuduhan baru.
Hening, ruangan Aana kini menjadi hening untuk beberapa saat.
" berhentilah Hily, maka Aku akan melupakan kejadian hari ini. Mulailah hidupmu sendiri, fokus pada kehidupanmu sendiri. Jika kau melakukan semua ini karena cemburu, maka Aku akan mengakhiri semuanya. Surat cerai akan ku kirimkan tiga minggu lagi."
Seolah dihantam beton, Hily kini merasakan sakit luar biasa. Air matanya mengalir, namun hal itu justru seakan tak berarti apapun untuk Harley.
" sayang, sebaiknya kau tidur dimansion. Aku khawatir jika jauh darimu, nanti Hily akan bertindak diluar akalnya lagi." ucap Harley lagi dan segera meraih tangan Aana.
Harley segera berlalu, membawa kekasihnya dan meninggalkan Hily yang mematung ditempat.
Menatap sekilas pada wajah adiknya yang kini berlinang air mata, Aana bersorak penuh kemenangan dalam hati. Bagaimana tidak, rencananya berjalan dengan lancar. Aana membuntuti Hily seharian dan Ia mengambil kesempatan saat mendapat celah. Ia bahkan berhasil menjadikan salah satu pelayan di mansion Murray sebagai mata-matanya dan pelayan itulah yang melaporkan bahwa Hily menuju ke tokonya. Dengan tindakan cepat, Aana pun menghubungi Harley dan mengarang cerita bahwa Hily datang untuk mengancamnya.
•
•
BERSAMBUNG....