
Dua sepasang kekasih yang berada didalam mobil itu sama - sama diam dengan pikiran masing - masing. Hily terdiam karena mengingat perbincangannya bersama sang suami, sedangkan Arya terdiam karena teringat pada sahabatnya— Hana yang baru muncul setelah menghilang selama dua bulan.
Hana tadi mengunjunginya dan menyatakan perasaan cinta. Namun Arya menolak dengan alasan tidak ingin merusak hubungan persahabatan, terlebih lagi Ia sudah mencintai Hily dan sudah berjanji pada Harley bahwa dirinya akan menjaga dan mencintai Hily jika perceraian itu sudah rampung dipengadilan.
Terngiang - ngiang ucapan Hana bahwa Ia akan merasakan kecewa dan kehilangan karena menolak cinta Hana, membuat Arya sampai detik ini merasa cemas jika seandai dugaannya benar bahwa Hana akan bertindak diluar akal sehat.
***
Setelah mengemudi selama hampir setengah jam, akhirnya kini Arya dan Hily sudah tiba ditempat yang menjadi tujuan mereka.
Tanpa berucap sepatah kata, Hily segera keluar dari mobil begitu juga dengan Arya. Keduanya saat ini memandang kearah yang sama— dimana warung bubur yang diramaikan oleh banyak orang.
" Arya, disini terlalu banyak orang."
Setelah bungkam lama, akhirnya Hily bersuara saat menyadari sekelilingnya. Arya hanya tersenyum kikuk dan menghampiri kekasihnya.
" Bagaimana jika kita makan didalam mobil." tawar Arya.
Hily mengangguk setuju.
" Baiklah, aku akan memesannya. Kau kembali kedalam mobil." seru Arya yang menyempatkan diri mengelus lembut rambut wanitanya. Setelahnya Ia segera berlalu.
Tanpa disadari keduanya, dari jarak yang lumayan jauh, sepasang mata penuh amarah mengintai dengan tatapan tajam. Ia adalah Hana yang bersembunyi dibalik deretan mobil yang terparkir.
" Kau bahagia bersamanya. Maka aku akan mencuri kebahagiaanmu itu, Arya." ucap Hana.
***
" Wah, aromanya harum sekali." Hily menyambut dua mangkok bubur hangat itu saat memasuki mobil. Jika tadi murung karena berbagai pikiran, kini dirinya mendadak berubah dengan kehadiran bubur beraroma sedap itu.
" Tentu saja, ini bubur paling enak dan paling terkenal dilokasi sini." tutur Arya.
Hily segera meraih satu mangkok bubur dan mengendus aromanya. Bubur yang memiliki aroma kari serta tumisan beberapa bumbu, membuat bubur itu sangat menggugah selera makan Hily. Mualnya pun mendadak lenyap, apalagi saat dirinya mulai menyantap bubur itu.
Arya yang sejak tadi hanya mengamati wanitanya, diam - diam mengulum senyum. Ia senang karena ternyata Hily bisa makan selahap itu hanya karena semangkuk bubur.
Dirinya tidak lagi memperdulikan bubur sendiri dan memilih menikmati pemandangan dihadapannya. Sesekali Ia juga akan menyeka bibir Hily dengan ibu jarinya.
Perlakuan hangat Arya tentu saja masih diperhatikan oleh Hana dari luar karena memang kaca depan mobil itu transparan.
***
Denting jam terus berputar hingga kini jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Hily dan Arya sudah didalam mobil dan sedang berada diperjalanan pulang.
Selang beberapa menit, Arya sudah tiba didepan mansion Murray. Namun Ia harus menghentikan mobilnya didepan gerbang saat melihat mobil Hana terparkir tak jauh dari gerbang masuk.
" Hily, tunggu disini ya." seru Arya melepas seatbelt nya dan segera keluar dari mobil.
Hily yang tidak sempat berbicara, langsung terdiam saat kekasihnya keluar begitu saja. Ia pun segera menyusul— keluar dari mobil. Tepat saat itu juga, Hana keluar dari mobilnya.
" Arya, aku minta maaf soal tadi. Aku tadi terlalu gegabah memikirkan diriku sendiri. Tolong maafkan aku."