You My Destiny

You My Destiny
Episode. 47



" Kau itu setiap melihatku tidak ada senangnya. Padahal aku dan Harley tidak jauh beda, kami sama - sama saudari kembar. Walau memang wajahku tidak mirip." cerocos Harvey kecil.


Arya tak menanggapi dan hanya diam membisu. Harley yang mengetahui dirinya tidak diladeni, segera berlalu— keluar dari kantin sekolah.


Setelah kepergian Harvey, tak lama Harley pun datang dan langsung duduk disamping Arya. Wajah Harley kecil begitu lesuh tak bersemangat.


" Yaya' ." panggil Harley.


" Kenapa? Aku disini, didekatmu." jawab Arya yang mulai menyantap makan siangnya.


" Bantu aku lagi ya!" pinta Harley serius.


Arya menghentikan kegiatan makannya dan menoleh menatap nanar pada Harley yang juga kini memandangnya dengan tatapan penuh harap.


" Kali ini kau meminta bantuan apa?" Arya langsung to the poin, menanyai Harley tanpa basa - basi.


Harley kecil tersenyum lebar. "Kelasku akan karyawisata besok, kami disuruh membuat tugas.." belum selesai ucapan Harvey, Arya sudah menyelanya.


" Jangan bilang kau menyuruhku ikut?" tebak Arya membuat Harley tersenyum kikuk.


" Kau memang pintar. Tolong bantu aku ya." Harley seolah memaksa sahabatnya.


" Aku sering membantumu, tapi kau justru selalu mengabaikan aku. Aku terlambat makan siang karenamu." Arya menggerutu kesal, sebab bukan satu atau dua kali— Harley memang sudah sering membuat Arya menunggu.


Harley terdiam sesaat, tengah memikirkan sesuatu yang bagus untuk diberikan pada Arya agar tak lagi menolak keinginannya.


" Aku janji, akan memberimu sesuatu yang paling berharga kumiliki." ujar Harley dengan mantap.


Arya mengernyit.


" Apa yang paling berharga? Jangan bilang kau ingin memberikan Daddy dan Mommy mu?" tebak Arya.


Harley menggeleng.


Arya tersenyum, dan mengulurkan tangannya sebagai bentuk kesepakatan. Harley pun menerima uluran tangan sahabatnya dengan senyum merekah.


Flassback Off


***


Sebelum sampai diapartemennya, Arya menyinggahi suatu tempat— mini market. Keluar dari mobilnya Ia langsung masuk kedalam toko dan membeli barang kebutuhannya setiap minggu karena memang Arya adalah pria yang mandiri dan selalu memasak sendiri sarapan dan juga makan malamnya.


Tiba didepan kasir, Ia mengeluarkan semua belanjaannya dari keranjang dan setelahnya hendak melakukan pembayaran. Namun tiba - tiba seorang wanita mendahuluinya.


" Nona, silahkan menunggu." ujar pegawai kasir itu.


" Tidak bisa, aku harus pulang cepat. Diluar hujan dan aku tidak membawa mobilku." wanita cantik itu menolak dengan tegas.


Harley yang sejak tadi mengamati wanita disampingnya, menautkan kedua alisnya. Ia merasa pernah bertemu wanita itu, namun entah dimana.


" Ah, tidak apa - apa. Biarkan dia dulu." Arya bersuara kemudian dan pegawai kasir pun menuruti.


***


Setelah membayar semua belanjaannya, Arya keluar dari mini market, dan benar saja, hujan masih mengguyur ditempat itu. Masih berdiri didepan pintu mini market, Arya melihat mobilnya dari kejauhan yang tampak basah terkena air hujan.


" Kenapa tiba - tiba hujan." gerutu Arya dengan pandangan yang masih terarah pada mobil sedan putihnya. Ia merasa tidak tega melihat mobil mahal nan kesayangannya kehujanan.


" Mau ku beri tumpangan payung?" celetuk seorang wanita disamping Arya.


Arya menoleh dan melihat wanita itu yang rupanya wanita yang sama didepan kasir tadi.


Deg.


Seketika jantung Arya bertalu - talu, bukan tentang siapa wanita itu. Tapi tentang kain yang melilit dileher wanita cantik itu.