You My Destiny

You My Destiny
Episode. 46



Ada getaran dihatinya, sebab setelah lima belas tahun lamanya, Ia baru mendengar kembali nama itu karena memang hanya Harley yang sering memanggil seperti itu saat kecil.


" Ada apa?" Arya mengajukan tanya setelah terdiam beberapa saat. Sembari berbicara dengan Harley ditelfon, pandangannya pun tak putus dari Hily yang sejak tadi tersenyum padanya.


" Tolong, jaga Hily untukku. Mengangguklah padanya saat dia meminta perasaannya dibalas, dan juga.. tolong teruslah mencintainya."


Tut. Tut. Tut.


Setelah menyelesaikan ucapannya, Harley memutus sepihak panggilannya. Sedangkan Arya, Ia diam langsung diam seribu bahasa. Sedih? Sudah jelas dirinya merasa sedih dan tidak enak hati saat mendengar perkataan sahabatnya yang begitu putus asa.


Sedetik kemudian Arya tersadar saat melihat Hily yang terus melambai padanya.


***


Masih dengan bibir yang terkunci rapat, Arya kini duduk dihadapan Hily. Ia mengamati raut wajah sahabatnya itu yang tampak bahagia.


" Pesanlah sesuatu dulu." seru Hily saat mendapati Arya yang sejak tadi hanya diam. Dirinya mulai salah tingkah saat pandangan Arya tak kunjung lepas.


" Arya, pesanlah sesuatu." Hily menyadarkan pria gagah dihadapannya.


" Tidak perlu, langsung ke intinya saja." Arya menolak tanpa memutus pandangannya dari Hily.


Hening.


Hily menunduk, terlihat ragu. "Aku ingin meminta jawaban atas pengakuanku waktu itu didalam lift."


Mendengar ucapan wanita cantik didepannya, Arya sama sekali tak bereaksi. Wajahnya pun kian datar, seolah perkataan Hily tak memengaruhi dirinya.


" Humm, ayo jalani hubungan bersama." Arya tak banyak bicara dengan ekspresi wajah yang masih datar.


Mengangkat pandangannya, Hily mengernyit mendapati jawaban Arya yang begitu mudah. Padahal awalnya Ia berfikir akan sulit karena mengingat statusnya sebagai istri Harley dan juga Arya yang masih menyimpan seorang wanita dihati.


" Kita akan berpacaran, kita akan menghabiskan waktu bersama dan kita akan tertawa bersama juga." lanjut Arya dengan senyum tertahan. Ia merasa merebut istri sahabatnya sendiri.


Arya hanya mengangguk.


" Baiklah, aku akan mengurus perceraianku dengan Harley. Karena aku.. "


" Tidak. Jangan mengurusnya. Mari jalani selama tiga bulan dulu, setelah itu uruslah perceraianmu." Arya memotong ucapan Hily dengan cepat.


" Kenapa?" Hily menatap nanar pada pria muda didepannya.


" Karena... karena kau harus menyadari beberapa hal sebelum membuat keputusan tentang perceraianmu." jelas Arya.


Hily terdiam sesaat, dan setelah Ia hanya mengangguk pelan sembari tersenyum manis.




Tak terasa hari kini sudah malam. Tampak Arya yang saat ini tengah fokus mengemudi menuju apartemennya. Raut wajahnya tak bahagia, namun senyumnya sesekali tersungging saat mengingat Hily yang memeluknya tepat dihadapan Harley saat dimansion.


" Bodoh. Jangan bilang, hadiah yang pernah kau janjikan adalah menyerahkan wanita yang kau cintai." Arya bermonolog pada dirinya— mengingat masa kecilnya bersama Harley.


Flassback


16 Tahun lalu.


Disebuah sekolah dasar yang begitu elit, tampak anak kecil yang sangat gagah tengah duduk dikantin sekolah seorang diri— Arya kecil tengah menunggu Harley datang untuk menemaninya makan siang. Makanan yang sejak tadi dihidangkan pelayan kantin sudah tidak hangat lagi, karena Arya mengabaikan makan siangnya hanya untuk menunggu Harley— sahabatnya.


Satu menit, dua menit, dan tiba - tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang. Arya sontak menoleh, dan menatap malas pada orang itu yang ternyata adalah Harvey.


Begitulah Arya, tidak terlalu mengakrabkan diri pada Harvey. Ia lebih senang bersama Harley yang selalu menghiburnya dengan kepribadian humoris yang dimiliki.