
" humm, teman Ayahku memiliki panti asuhan. Dia datang saat mendengar rumah kami kebakaran dan Ayah - Ibu ku meninggal. Dia membawaku dan Aana ke panti asuhannya." jelas Hana.
" Oh, iya. Aku sejak tadi ingin menanyakan tentang Aana. Dimana adikmu itu?" tanya Arya yang sesekali menoleh pada sahabatnya.
" Dia sudah meninggal." jawab Hana santai.
Arya sontak terkejut.
" Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" serentetan pertanyaan meluncur dari bibir tipis Arya.
" Aku membunuhnya."
Mendengar ucapan Hana yang bernada santai, Arya hanya tergelak.
" Tidak mungkin. Aku mengenalmu. Kau sangat baik, bahkan kucing peliharaanku yang selalu mencakarmu, tidak pernah kau sakiti. Dulu kau juga suka tersenyum dan tertawa pada hal - hal sederhana. Makanya aku memberimu julukan Hana In The Best." seloroh Arya.
" Tidak, aku sungguh membunuh adikku dan juga Ayah angkat adikku." mata Hana mulai berkaca - kaca. Ia merasa malu karena Arya begitu mempercayainya.
***
Disatu sisi, tampak Harley dan Hily yang kini tengah berbaring disatu ranjang yang sama, namun saling membelakangi. Keduanya belum tidur, karena larut dalam pikiran masing - masing.
" Hily, apa kau sudah tidur?" Harley berbalik, memposisikan dirinya hingga menatap langit - langit kamar.
" Belum." Hily menyahut dengan posisi yang masih sama.
" Apa jawaban Arya tadi?" tanpa basa - basi Harley mengajukan tanya pada istrinya.
Hily yang mendengar perkataan suaminya langsung bereaksi. Ia membalikkan badan dan menatap suaminya dengan pandangan berbinar - binar.
" Kami sudah berpacaran." jawab Hily antusias.
" Oh, baguslah. Selamat untuk kebahagiaanmu." Harley memaksakan senyumnya.
" Terima kasih, Ley. Aku tidak pernah menyangka bahwa akan memiliki suami yang baik sepertimu." Hily tersenyum manis menatap suaminya.
" Ah, bukan suami. Kau adalah sahabat terbaikku." ralat Hily yang masih menampilkan senyumannya.
" Aku akan mengurus perceraian kita besok."
Senyuman Hily seketika sirna setelah mendengar ucapan suaminya yang begitu mendadak. Raut wajah berubah sendu.
" Kenapa cepat sekali? Maksudku haruskah perceraian kita diurus secepat ini?" tanya Hily.
" Mungkin seperti itu, ada baiknya kita segera berpisah. Setelah itu.. hubunganmu akan lebih jelas dengan Arya." Harley dengan berat hati mau tak mau mengikhlaskan Hily— wanita yang sebenarnya bertahkta dihati sebagai sosok yang sangat berharga.
" Lalu bagaimana dengan Daddy dan Mommy? Apa tanggapannya jika kita berpisah mendadak seperti ini." tanya Hily.
" Daddy dan Mommy sudah mengetahui ini. Dan memang Daddy yang menyarankan kita untuk berpisah jika salah satu dari kita tidak bahagia." Harley tersenyum— berusaha meyakinkan istrinya.
Ia lalu memperbaiki posisi hingga dapat melihat jelas wajah cantik natural wanitanya. Perlahan dirinya membelai lembut wajah cantik itu sembari menampilkan senyum tipis.
" Apa kau tidak pernah mencintai aku?" tanya Hily tiba - tiba, menatap lekat manik mata suaminya.
Tatapannya sangat teduh dan penuh harap. Harley yang turut membalas tatapan istrinya terdiam sesaat, karena yang kini dia lihat adalah tatapan yang sama seperti saat Hily masih mencintainya.
Masih membelai wajah Hily, Harley tersenyum. "Kau adalah sahabatku, mana mungkin aku menodai persahabatan kita dengan rasa cinta. Ingatlah satu hal ini, sangat mudah mengubah persahabat ini menjadi cinta, tapi tidak akan mudah mengubah kembali cinta menjadi persahabatan. Karena aku ingin bersama selamanya denganmu, maka aku menjaga persahabatan kita." ucapnya lalu mengecup lembut kening Hily.
" Tidurlah." lanjut Harley yang kemudian memunggungi istrinya.