You My Destiny

You My Destiny
Episode. 12



Ada sesak di dada saat Hily mendengar penuturan sang mertua dimana memberikan izin pada Harley untuk menikah.


Sakit, hanya kata itu yang menjalar ditubuh gadis cantik yang masih berdiri disisi Harley.


" tinggallah di mansion. Aku mengatakan ini untuk menghargai Aana saja." ucap Harley datar dan segera berlalu menuju kamarnya.


Tak menyahut, air mata kini mengalir diwajah cantik Hily. Menutup wajah dengan telapak tangan, Hily terisak karena merasa sangat sakit dan sesak secara bersamaan.


" nak, berhenti menangis. Harley mungkin belum bisa berdamai dengan situasi, itu sebabnya dia bersikap seperti ini padamu."


Suara familiar terdengar begitu jelas di indera pendengaran Hily terlebih lagi saat puncuk kepalanya di usap lembut dengan tangan yang sangat Ia kenal akan sentuhan itu.


Menoleh seketika, Ia melihat Ayahnya yang tersenyum menatap dirinya.


" Ayah."


Kembali di banjiri oleh air mata, Hily menangis terisak dalam pelukan sang Ayah. Jika Ia berhalusinasi melihat mendiang sang Ayah, tak masalah bagi Hily karena sentuhan orang yang di rindukannya selama ini terasa begitu nyata.


Brukk.


Seketika ambruk dalam pelukan sang Ayah, Hily kini tak sadarkan diri. Mungkin karena batin yang terlalu lelah sehingga raganya tak mampu lagi menopang tubuh hingga kini menjadi pingsan.


****


Perusahaan JJ Group.


Waktu bergulir begitu begitu cepat, hingga kini hari sudah siang. CEO cantik nan muda, baru saja tiba yang itu berarti pemimpin perusahaan terlambat datang.


Berjalan gontai, tak ada kata anggun bahkan setelannya masih sama seperti casual pria. Memegang knop pintu ruangannya, Hily siap untuk memulai hari dengan bergelut bersama tumpukan berkas.


Ceklek.


Membuka pintu ruangannya, Hily sudah mendapati asisten setianya yang tengah berdiri di samping meja kerja.


Suara maskulin dari seorang pria gagah yang tengah menatap intens pada Hily yang hanya mematung.


" maafkan Aku Pak Arya." ucap Hily tersenyum manis pada asistennya.


" jangan meminta maaf, sebaiknya kerjakan semua berkas ini." seru Arya sembari menyeringai tipis pada atasannya yang kini berwajah pucat. Bagaimana tidak, Hily melihat tumpukan berkas yang begitu banyak menghuni mejanya.


Tersenyum kikuk, Hily menatap penuh arti pada asisten tampannya.


" bantu Aku, ya! Aku janji akan mentraktirmu anggur, sampanye, pokoknya semua minuman di launge, aku akan membelinya untukmu."


Hily membujuk pria didepannya dengan mengiming-imingi beberapa minuman di tempat yang sering di datangi mereka berdua yaitu di launge.


" baiklah, aku bantu. Tapi kau harus menukarnya juga dengan menceritakan tentang pernikahan konyol itu." ucap Arya mempersembahkan senyum manis yang tak kalah manisnya dari Hily.


Mendengus kesal, Hily segera duduk dikursi kebesarannya lalu menceritakan semua yang terjadi di Bandung dan saat baru tiba di Jakarta.


****


" Bedebah itu ternyata tidak pernah menganggapmu ada. Kau itu menyedihkan sekali jadi wanita, tapi apa bisa aku mengatakan kau wanita?" cerocos Arya memandang Hily dari atas hingga bawah.


" Aiss, Kau ini. Maksudmu apa.?" celetuk Hily memandang sinis pada asistennya.


" sudahlah, sebaiknya bekerja dengan baik. Soal Harley, suami sebatas status itu, lupakan saja." ucap Arya dan segera berlalu meninggalkan Hily.


" wah, brandal itu. Sebenarnya disini siapa yang bos? kenapa aku merasa dia selalu memerintahku." Hily mengomel setelah kepergian sang asisten.


▪︎


▪︎


Bersambung....