You My Destiny

You My Destiny
Episode. 57



" Hana?" Harley dengan emosi yang sudah tak bisa dikontrol menghampiri Arya dan mengcengkeram kasar kerah kemeja sahabatnya.


" Kau bilang kau akan menjaganya, kenapa malah lengah seperti ini. Dia itu wanita gila, kenapa kau bisa percaya begitu saja." wajah Harley memerah.


Arya dibuat tak berkutik hingga tak lama bunyi ponsel dari saku jas Harley menghentikannya. Ia segera menjawab panggilan itu yang dari sipenelepon asing.


" Siapa ini?" tanya Harley tanpa basa - basi.


" Aku sudah lama menunggu, tapi kau tidak menelfon. Jadi aku menelfon pakai nomor baru karena khawatir siapa tau saja kau lupa dengan istrimu sendiri."


Terdengar suara yang begitu familliar, siapa lagi jika bukan Hana— wanita yang diberi gelar oleh Harley sebagai wanita gila dan picik.


" Apa yang kau lakukan pada istriku?" teriak Harley dengan emosi memuncak.


" Aku belum melakukan apapun, dia hanya sedang tidur. Aku bisa mengirim gambarnya lewat pesan diponselmu." seru Hana yang kemudian mematikan panggilan sepihak.


Tak lama bunyi notifikasi masuk dari ponsel Harley, Ia segera membuka kotak masuk dan benar saja— Hana mengirim gambar yang menunjukkan kondisi sang istri.


Kedua kaki dan tangan Hily diikat sangat erat serta mulutnya ditutup dengan plester. Melihat itu, hati Harley semakin bergelorah sesak— begitu juga dengan Arya.


Arya tidak pernah menyangka bahwa sahabatnya yang dulu dikenalnya sebagai anak baik, justru tumbuh menjadi wanita yang begitu jahat.


" Aku harus mencari Hily."


" Ley, kau mau kemana. Tenanglah." Arya mencekal tangan sahabatnya. Ia menghentikan Harley yang hendak pergi tanpa arah tujuan.


" Kita memang harus mencari Hily, tapi dimana? Apa kau sudah tau tempatnya? Tidakkan! Jadi tetaplah disini, aku akan menghubungi Uncle Ben karena hanya dia yang bisa membantu kita." terang Arya berusaha menenangkan sahabatnya.


***


Hampir setengah jam Harley dan Arya berada didalam ruangan yang sama. Keduanya masih menunggu kabar dari Daddy Ben yang tengah memerintah pesuruhnya untuk mencari tau letak posisi Hana dan Hily saat ini.


Harley mulai gusar, rasanya jenuh menunggu namun tak kunjung mendapat notif dari sang Daddy.


" Kita tidak bisa tinggal dan menunggu kabar dari Daddy ataupun Hana karena Hily akan dalam bahaya." ucap Harley yang sudah sangat khawatir.


" Tidak bisa Harley. Cobalah dengarkan aku, jika kita gegabah.. Hily sungguh akan dalam bahaya. Kau tau kan tempramen Hana itu sangat buruk." Arya berusaha mencegah sahabatnya yang sudah habis kesabaran.


Namun Harley, pria itu tetap bersikeras untuk segera mencari Hana yang membawa pergi Hily entah kemana.


Ia berlari keluar dari ruangan Arya tanpa memperdulikan ucapan Arya lagi— karena dihatinya sekarang hanya perasaan resah dan gelisah atas keadaan sang istri.


Arya menggeleng lemah melihat keras kepala Harley, Ia lalu segera menyusul sahabatnya yang sudah masuk kedalam lift.


***


Setelah berada dilantai satu, Harley segera berlari keluar dari kantor. Khawatir, cemas, dan rasa takut sudah meliputi dirinya saat ini hingga tidak bisa lagi berfikir jernih.


Tak lagi Ia peduli untuk mengambil mobilnya di tempat parkir. Sedangkan Arya— saat keluar dari lift, dirinya justru segera ke basement untuk mengambil mobil dan menyusul Harley yang berlari keluar seperti orang tidak jelas.


***


Mengemudikan mobilnya meninggalkan pekarangan kantor, Arya dapat melihat Harley yang berlari sepanjang trotoar. Ia dengan segera membunyikan klakson mobilnya untuk menyadarkan Harley, namun Harley seperti sudah dibutakan oleh rasa takut kehilangan Hily hingga tidak memperdulikan Arya yang terus membunyikan klakson.