
Sekeras apapun Hily berusaha melupakan apa yang tadi pagi dilihatnya, namun justru kejadian itu tak kunjung lepas dari benaknya. Hingga tak lama Arya muncul dibalik pintu dengan tersenyum tipis.
" Kau masih sibuk?" tanya Arya mendekati sahabatnya.
Hily tak menyahut, tapi pandangannya berfokus pada Arya yang sudah berdiri dihadapannya. Bibir terkatup rapat, tak ada tanda - tanda bahwa sicantik yang tengah duduk dikursi tahktanya akan berbicara, namun tatapannya seolah mengatakan sesuatu.
" Kenapa? Ada apa?" Arya mengajukan tanya saat tersadar bahwa wanitanya sedikit berbeda hari ini.
" Tidak." Hily tak banyak bicara dan memilih memalingkan wajahnya.
Arya yang mendapati sikap berbeda Hily tentu merasa kecewa. Ia pun segera mendekati wanita cantiknya dan berjongkok tepat dihadapan Hily. Dirinya meraih kedua tangan Hily dan menatap intens wajah cantik itu.
" Ada apa? Apakah hari ini aku membuat kesalahan?" tanya Arya dengan lembut.
Masih dengan bibir terkatup rapat, Hily seakan enggan untuk berbicara walau hanya sepatah kata. Sedetik kemudian air matanya lolos begitu saja tanpa dikomando.
Arya termangu melihat wanita yang dicintainya tiba - tiba meneteskan air mata. Ia bingung karena sama sekali tidak tau penyebabnya. Tanpa bersuara— Arya mengusap lembut pipi Hily yang dialiri bulir air mata.
" Jangan menangis. Katakan, apa kesalahanku?" suara Arya melembut.
" Aku melihat orang yang kusayangi dipeluk wanita lain."
Lama bungkam dengan perih dihati, Hily akhirnya membuka suara. Nada suaranya bergetar, seolah dirinya akan menangis.
Arya yang mendengar ucapan Hily kini mengerti dan segera memeluk wanita cantinya.
" Aku tidak akan meninggalkanmu." Arya mengurai pelukannya dan menangkup wajah kekasihnya.
" Dia adalah wanita yang kuceritakan. Kami baru saling kenal kemarin. Dan tadi dia memelukku dan berkata bahwa dia rindu." ucap Arya dengan jujur.
Hily tersenyum getir.
Arya tak banyak bicara lagi dan segera menuruti keinginan kekasihnya. Ia beranjak lalu keluar dari ruangan CEO.
***
Disatu sisi, ada Harley yang saat ini juga sibuk memeriksa email dilaptopnya hingga tak lama pintu ruangannya dibuka kasar oleh seseorang tanpa mengetuk.
Harley bersandar dan menatap dingin pada orang itu yang rupanya adalah Hana.
" Maaf, Tuan. Saya sudah melarangnya, tapi dia memaksa ingin masuk kesini." jelas Aldi— sang asisten.
Harley mengangguk dan memberi isyarat mata pada Aldi untuk meninggalkannya bersama Hana. Aldi pun segera keluar dari ruangan atasannya.
Kini tinggallah Harley dan Hana yang saling menyerang dengan tatapan dingin.
" Apa ini." Hana melemparkan amplop putih pada Harley. Ia meminta penjelasan atas apa yang tertulis didalam amplop itu.
" Kenapa bertanya lagi, apa kau tidak bisa membaca?" Harley seakan mengejek Hana.
" Kau melaporkan aku di kejaksaan. Ini adalah surat resmi dari kejaksaan, dia memintaku datang untuk diintrogasi. Apa kau sadar apa yang kau lakukan?" Hana menekankan setiap kalimat yang meluncur dari bibir tipisnya.
" Aku sadar, makanya aku melaporkanmu agar segera diadili." tutur Harley dengan santai.
Hana semakin menggeram.
" Kau tidak tau apa yang akan kulakukan pada Hily kan. Sebaiknya cabut laporanmu di kejaksaan sebelum kau menyesal seperti terakhir kali aku memberikan Hily obat untuk melumpuhkan ingatannya." Hana memperingatkan dengan tegas.
" Oh, benarkah? Aku jadi takut." Harley menyunggingkan senyum tipis dan beranjak dari kursi kebesarannya.
Ia mendekati Hana dengan seringai penuh arti.