
Setelah mengatakan semua yang hendak disampaikan pada Harley, Hana segera berlalu— hendak meninggalkan ruangan Harley. Namun seketika dirinya terkesiap saat membuka pintu dan mendapati pria gagah yang berdiri seperti patung.
Sorot mata pria itu sangat tajam, membidik Hana dengan penuh amarah yang terlihat sangat nyata. Sesaat Hana terdiam, saat merasa pria didepannya dalam suasana yang buruk.
" kau yang menjadi dalang kecelakaan Hily?" tanya pria itu yang tak lain adalah Arya.
Ya, Arya memang sengaja berkunjung ke kantor Harley karena ingin menyampaikan sesuatu yang sejak semalaman mengganggu pikirannya. Dan sejujurnya, Ia juga hendak memperbaiki hubungan dengan sahabatnya.
Namun, saat dirinya hendak masuk kedalam ruang sang presdir— Ia tak sengaja mendengar separuh pembicaraan Harley dengan seorang wanita.
***
Alih-alih menjawab pertanyaan pria muda dihadapannya, Hana memilih hendak berlalu tanpa memberi penjelasan sedikit pun. Namun dengan sigap Arya mencekal pergelangan tangannya.
" lepaskan aku.. aku tidak mengenalmu." ucap Hana ketus.
" kau tidak mengenalku, tapi kita akan berkenalan karena kau sudah mengusik hidup wanita yang kucintai." hardik Arya dengan wajah datar serta auranya yang begitu dingin.
" hoho, kamu rupanya jatuh cinta pada Hily. Tunggu.. berarti kalian terlibat cinta segitiga seperti difilm-film?" seloroh Hana tersenyum kecut.
Arya terdiam.
" kurasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi." tambah Hana yang hendak meninggalkkan Arya.
Setelah kepergian Hana, Arya lalu segera masuk kedalam ruangan Harley. Rupanya Harley masih berdiri disamping meja kerja, seakan memang menunggu dirinya.
" kenapa?" Harley to the point, mengajukan tanya pada Arya yang berdiri kaku dihadapannya.
Hening menyapa.
Arya dan Harley saling bertatap muka, melempar pandangan yang sulit diterjemahkan.
" aku mencintai Hily kemarin, tapi pagi tadi aku berusaha mengikhlaskannya." tutur Arya setelah terdiam lama.
" Hily hanya tersesat dipadang rumput. Dia melihat rumput itu hijau dan sangat membuatnya nyaman dengan keindahan yang dilihatnya. Seperti itulah perasaan Hily padaku, saat ini dia nyaman hanya karena perlakuanku. Tapi.. setelah ingatannya kembali.. dia akan menjadi milikmu sepenuhnya." lanjut Arya dengan wajah sendu tetapi menampilkan senyuman manis.
" aku kemari hanya ingin mengatakan itu, setidaknya hubungan kita bisa membaik jika aku mengalah." Arya tersenyum getir, menepuk pelan bahu Harley.
Setelahnya, Arya bergegas pergi— meninggalkan ruangan sahabatnya.
" jangan ikhlaskan perasaanmu." suara berat Harley menghentikan langkah kaki Arya.
Arya menoleh, menatap penuh keherangan pada Harley yang menatapnya dengan sorot mata yang penuh arti.
" ingatan Hily belum tentu sembuh dalam waktu dekat.. itu berarti dia bisa saja akan membuat rumah dipadang rumput itu. Kumohon, saat dia membangun rumah itu.. teruslah mencintainya agar usahanya tidak sia-sia."
Harley berbicara dengan suara lemah, seakan keputusasaan dalam diri sangat nyata.
Berlalu dan duduk dikursi kebesarannya, Harley kembali menyibukkan diri sendiri dengan mengerjakan pekerjaan sebelumnya. Sementara Arya, Ia masih berdiam diri ditempatnya. Kata-kata yang diucapkan Harley barusan, membuat dirinya tak bisa berbicara walau hanya sepatah kata.
Selang beberapa menit, Arya memutuskan untuk meninggalkan Harley yang seolah dengan sengaja menyibukkan diri.
***
Perusahaan JJ Group.
Disatu tempat, ada Hily yang tengah berada didalam ruangannya. Duduk tenang dikursi takhtanya, namun otak sedang berfikir keras tentang sosok Arya yang belum hadir dikantor.
Entah keberapa kalinya Hily melirik pada jam tangan dipergelangannya. Hatinya seakan kocar-kacir bila Arya tidak disampingnya.
" dia kemana, ya? Apa dia dibangunan itu?" lirih Hily— menerka-nerka keberadaan Arya.
Dengan rasa penasaran yang membuncah didada, Hily beranjak dan meninggalkan ruangannya.