
" Mami."
Ditengah ketenangan yang dinikmati, tak lama terdengar suara cempreng anak lelaki berusia enam tahun, masuk kedalam cafe menghampiri meja Hily.
Hydra Started— nama anak lelaki gagah itu. Kulit putih bersih seperti anak perempuan, memiliki warna rambut yang asli Light brown— membuat Hydra selalu dijuluki boneka hidup. Terlebih lagi manik matanya yang berwarna silver grey.
" Mami, ayo pulang." celoteh Hydra dengan suara ciri khas kekanakannya.
" Baiklah, Mami akan bayar ini dulu." Hily tersenyum dan segera beranjak menuju kasir.
Sedangkan Hydra, anak lelaki itu menyeruput habis teh milik Maminya.
" Tuan, aku ingin membayar pesananku." Hily tak mengangkat pandangannya karena tengah merogo tasnya— mencari dompet.
" Pesanan secangkir teh Da-Hong Pao." pria yang bertugas sebagai kasir menyebutkan ulang pesanan Hily.
" Iya." Hily menyahut dan menyodorkan kartunya.
Deg.
Seketika Hily mematung ditempat, seolah sebuah petir dan guntur sedang beradu perang diatas kepalanya. Matanya berkaca - kaca, terkesiap menatap pria kasir itu yang memiliki wajah seratus persen mirip dengan Harley— mendiang suaminya.
" Ley." bibir tipisnya yang dipoles gincung berwarna salted caramel bergerak sedikit— menyerukan nama lelaki yang dicintainya.
Sementara pria gagah yang serupa dengan Harley hanya memandang biasa pada Hily. Raut wajahnya datar dan tidak menunjukkan ekspresi apapun.
" Ayah, kenapa disini. Ibu mencari Ayah."
Seorang gadis remaja menyahut, membuat Hily tersadar.
" Oh, Aunty Hily, lama tidak bertemu. Bagaimana kabar anda." gadis remaja bernama lengkap Adel, menyapa Hily dengan ramah.
" Aku baik." balas Hily dengan senyum tertahan.
" Maafkan aku, Ayahku tidak tau cara melayani. Kami punya kasir, tapi dia izin keluar sebentar. Ayahku sangat baik, itu sebabnya dia selalu membantu para pegawainya." cerocos Adel.
Hily hanya menanggapi dengan senyuman getir tanpa berbicara sepatah kata.
" Aunty Hily bayar nanti saja. Lain waktu saat datang lagi karena aku akan pergi dengan Ayahku dulu." pamit Adel menarik tangan sang Ayah dan berlalu dengan cepat.
Hily masih termangu ditempatnya, sedetik kemudian air matanya menetes begitu saja.
•
•
Dirumah yang begitu besar nan mewah, menyerupai sebuah kastil megah. Tampak si nyonya rumah— Hily Jerm, tengah berada dihalaman belakang. Duduk tercenung didekat kolam renang— menatap langit malam diatas sana.
Bintang berkelap - kelip menyempurnakan keindahan langit itu. Ditengah kesendiriannya, tak lama datang sang suami— menemani kesepiannya.
" Kenapa kau masih disini?" tanya pria dewasa itu yang tak lain adalah Arya.
" Aku mencari Harley, apakah dia memang sudah ada diatas sana atau hanya tersesat disuatu tempat." jawab Hily dengan wajah sendu.
Arya mengernyit bingung mendengar ucapan Hily.
" Aku melihatnya hari ini. Entah dia adalah orang yang sama atau orang lain, tapi hatiku sangat sakit saat menatap matanya yang begitu kosong." ucap Hily yang kemudian menyenderkan kepalanya dibahu sang suami.
" Itu berarti dia adalah orang lain." seru Arya lalu mendongak— menatap langit.
Rasa sakit menggerogoti jiwa Arya setiap kali membicarakan sahabatnya— Harley. Ia tak ingin percaya, namun situasi tujuh tahun lalu memaksanya untuk percaya pada kenyataan.
Flassback, tujuh tahun lalu, dijalan raya.
Arya dan Harley yang terkapar diaspal sudah sangat kritis. Keduanya terus mengeluarkan darah, hingga selang beberapa menit, sebuah mobil ambulance datang dan langsung memberikan pertolongan pada kedua pria tampan itu.