You My Destiny

You My Destiny
Episode. 59



Disatu sisi, Hana yang membawa Hily kesuatu tempat kini sudah tiba. Ia menyeret paksa Hily— keluar dari mobilnya.


" Kau gila? Kau bukan Kakakku. Hiks.. hik.. hiks.." dengan gelombang suara yang bergetar hebat, Hily berusaha menahan rasa takutnya.


Wajahnya sudah bercucuran keringat dingin karena ketakutan. Sedangkan Hana— wanita itu justru menyeringai melihat Hily yang menderita.


" Kau pasti bingung kenapa aku justru membawamu ke jembatan ini kan." Hana tersenyum tipis dan meraih tangan Hily.


" Ini adalah tempat dimana aku membunuh Aana.. dan juga akan menjadi tempat dimana aku membunuhmu." lanjut Hana tersenyum licik.


Hily semakin dibuat takut hingga rasanya ingin kabur. Tapi Hana menjeratnya dengan ketat hingga tak dapat berbuat apa-apa.


Dengan perlahan Hana membawa Hily ke bibir jembatan. Saat ini dirinya sudah siap mendorong Hily kebawah sana, dimana aliran laut sangat kuat. Bahkan tanpa melepas pengingat ditangan serta kaki Hily, dan sepersekian detik— tanpa banyak bicara Ia mendorong Hily hingga terjatuh kedalam laut.


Rasa takut Hily semakin membesar saat Ia sungguh tenggelam dilaut. Menjerit-jerit meminta tolong, Hily sudah merasa tak sanggup— terlebih lagi kedua tangannya yang terikat dengan kuat membuatnya tak bisa berenang.


" Tolong... siapapun tolong aku." Hily terus memohon dengan suara parau.


Namun semua sia-sia karena dirinya semakin menelan banyak air laut. Tak sampai satu menit, tubuhnya sudah lemah dan bersamaan itu perlahan Ia tenggelam semakin dalam.


Ditengah situasi rumit yang dihadapi, mendadak ingatan masalalunya tiba-tiba berputar hingga semua memori kenangan tentang Harley diingat.


Aku ingat.


Hily mengukir senyumnya meski semua terasa percuma saja.


Hari itu.. kau berusaha membuat ingatanku kembali, Ley. Kau tidak perlu cemas lagi, sekarang aku ingat semuanya.


Entah apakah ini akhir hidupku atau Tuhan sedang merencanakan skenario baru. Kau tidak datang menolongku, tapi aku bahagia karena didetik terakhirku kau sudah mencintai aku.


" Ah, aku ingin memberikan sesuatu."


" Lihatlah, aku membelinya sebelum ke kantor."


" Cobalah ingat aku lagi, aku tidak ingin berpisah secepat ini."


" Jaga kalungnya, dan cobalah ingat aku lagi."


Semua untaian kata yang dilontarkan Harley masih terbayang dibenak Hily. Ia kini berada diambang penyesalan, namun juga bahagia karena sang suami membalas perasaannya.




Tujuh tahun berlalu.


Wanita dewasa— mengenakan dress selutut dengan model bodycon yang memperlihatkan indahnya lekuk tubuh yang dimiliki. Tengah duduk didalam sebuah cafe bergaya aestethic— menunggu seseorang.


Rambutnya pendek dan dipirang berwarna caramel, membuat wanita itu terlihat sangat cantik. Terlebih lagi dress yang dipakainya memperlihatkan bahunya yang putih mulus hingga dirinya menjadi pusat perhatian didalam cafe itu.


Menjadi pelanggan VIP, membuatnya bebas duduk berapa lama pun. Hingga tak lama pelayan cafe datang, membawa nampan berisi pesanannya— secangkir teh Da-Hong Pao dengan aroma yang khas.


" Nona Hily, pesanan anda sudah siap. Selamat menikmati." ujar sang pelayan cafe dengan ramah dan segera berlalu.


Hily segera meraih secangkir teh mahal yang sudah menjadi kesukaannya selama tujuh tahun belakangan. Ia menyeruput dengan perlahan sembari menikmati aroma teh itu.