You My Destiny

You My Destiny
Episode. 40



Hily kini berada didalam mobil bersama sang supir pribadi. Mobil sedan hitam metalik, perlahan melaju meninggalkan perusahaan.


Disepanjang perjalanan, pikiran Hily hanya berpusat pada Arya. Terbiasa nyaman disisi pria muda itu, tentu membuat kesepian dan ketidaknyamanan tercipta.


Tak lama mobil sedan mahal itu melaju, kini Hily sudah tiba ditempat tujuannya. Ia langsung keluar dari dalam mobil dan berlari kedalam bangunan minimalis milik Arya.


Dan benar saja saat berada didalam, samar-samar Hily mendengar suara gitar yang dimainkan— dan bersamaan itu terdengar pula suara Arya yang menyanyi.


Ia mendekat pada sumber suara itu yang terdengar merdu sekali, hingga tiba dirinya diambang pintu ruang musik— tempat Arya menyimpan semua alat musik kesayangan.


Senyum merekah saat melihat Arya menikmati nyanyiannya sendiri.


🎶 Didalam sebuah cinta terdapat bahasa


Yang mengalun indah mengisi jiwa


Merindukan kisah kita berdua


Yang tak pernah bisa akan terlupakan


Bila rindu ini masih milikmu


Kuhadirkan sebuah tanya untukmu


Harus brapa lama.. aku menunggumu.. aku menunggumu... 🎶


~~


Hily melangkah masuk— mendekati Arya hingga sontak membuat pria muda itu menghentikan kegiatannya.


Dilihatnya Hily yang tengah tersenyum menatapnya, Arya pun membalas dengan senyuman yang tak kalah manis— membuat Hily menjadi salah tingkah.


" kemari, duduklah." panggil Arya, menepuk pelan kursi kosong disampingnya.


Masih dengan senyuman diwajah, Hily segera duduk disamping Arya.



" suaramu merdu sekali." puji Hily.


" lagu yang kau nyanyikan tadi seperti untuk seseorang yang pernah singgah dihatimu, benar tidak?" celetuk Hily tiba-tiba.


Arya terdiam sesaat.


" hmm, aku tidak menyukainya.. hanya saja lebih mengarah pada rasa bersalah." tutur Arya seraya menerawang pada masa kecilnya.


" sebelum Ayahku bekerja di keluargamu, aku tinggal diluar kota. Saat itu umurku tujuh tahun." jeda Arya dengan wajah yang mendadak redup.


Sementara Hily masih tenang mendengarkan.


" aku bertetangga dengan anak perempuan kembar, Hana dan Aana. Tapi aku lebih akrab dengan si kakak, Hana. Aku nyaman berteman dengannya karena dia baik.. begitu juga dengan Ayah dan Ibunya yang menganggap aku sebagai putra mereka." lanjut Arya.


" kau pasti masih menyimpan dia dihatimu." ujar Hily tersenyum getir.


" iya.. aku tidak akan bisa menghilangkan dia dihatiku karena berkat dia aku masih hidup sampai sekarang." Pandangan Arya kosong, menatap kedepan.


Hily mengernyit, merasa bingung pada ucapan sahabatnya.


" maksudmu.. kau pernah hampir mati?" tanya Hily.


Arya mengangguk pelan.


" saat itu, Ibuku sudah meninggal dan Ayahku memutuskan pergi ke Jakarta mencari pekerjaan. Aku tidak ikut.. karena saat itu aku sekolah jadi dititipkan dirumah Hana. Tapi hal tidak terduga terjadi, rumah Hana kebakaran. Ayah dan Ibunya terjebak didalam rumah. Hana kecil tidak bisa menyelamatkan orang tuanya, tapi dia masih bisa menyelamatkan saudari kembarnya— Aana." tanpa terasa air mata Arya menetes.


" setelah menyelamatkan adiknya, Hana juga berusaha keras menyelamatkan aku agar keluar dari rumah sebelum api semakin membesar. Setelah itu, Hana berlari kesana-sini mencari bantuan untuk menyelamatkan Ayah dan Ibunya, tapi semua sudah terlambat. Setelah peristiwa itu, aku pingsan berhari-hari dan saat bangun.. aku sudah di Jakarta bersama Ayah." gelombang suara Arya tampak bergetar.


Hily yang mendengar semua penuturan Arya— sangat sedih terlebih lagi saat melihat pria muda itu seperti sangat terjerat dalam rasa bersalah.


" lalu bagaimana dengan Hana dan Aana?" tanya Hily.


Arya menggeleng lemah.


" aku tidak tau dia dimana.. Ayahku juga tidak tau, karena katanya Hana dan Aana pergi dengan seseorang setelah tiga hari peristiwa kebakaran itu." ucap Arya— mendadak merasa bersalah saat kenangan pahit belasan tahun silam kembali menyeruak didada.


Hily menepuk pelan bahu Arya— memberi semangat pada pria kesayangannya.