
Menempuh perjalanan selama tiga jam lebih karena macet, kini Harley sudah tiba di Jakarta. Mengemudikan mobilnya menuju toko bunga milik Aana— sang kekasih, karena Aana meminta untuk di antar ke toko.
Melirik pada spion, Harley melihat istrinya dibelakang sedang tertidur dengan nyenyak.
Setiap melihat Hily— sang istri, kebencian selalu datang mengetuk relung hati Harley. Ia kini sangat membenci sahabatnya itu, walau Harley sama sekali belum mengetahui kronologi sebenarnya.
Tak terasa Harley sudah tiba di depan toko bunga milik kekasihnya. Menoleh kesamping dan melihat wajah Aana, kekasihnya itu sama sekali tak memendam kesedihan atas kejadian didesa dan malah Aana tampak sangat santai hingga membuat Harley sedikit heran.
Namun, karena rasa cinta yang amat besar Harley tak mempermasalahkan hal itu selagi Aana juga tetap stay dengannya.
Memeriksa isi tasnya untuk memastikan agar tak ada yang tertinggal, Aana kini menoleh pada Harley yang sejak tadi menatapnya.
" terima kasih sudah mengantarku dan aku akan selalu bersamamu."
Hanya kalimat singkat itu yang dilontarkan dari bibir mungil Aana. Tanpa basa basi Ia segera keluar dari mobil Harley dan berjalan cepat memasuki toko bunganya.
Melihat Aana yang sudah masuk kedalam toko bunga, Harley kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia bahkan tak memperdulikan Hily yang mulai terusik dan kini terjaga dari tidurnya.
Mengebut dengan kecepatan rata-rata tentu saja membuat Harley secepat kilat tiba dimansion Murray terlebih lagi jarak antara toko bunga Aana dan mansion Murray bisa dibilang cukup dekat.
Keluar dari mobilnya, Harley berjalan gontai memasuki mansion meninggalkan Hily dimobil yang kini terdiam.
" sebegitu benci dirimu pada pernikahan ini." gumam Hily dalam hati. Ia segera keluar dari mobil dan menyusul Harley yang tak terlihat lagi.
****
Memasuki mansion, Harley mendapati Daddy dan Mommy nya sedang bersantai diruang tamu. Berdiri didepan kedua orang tuanya, Harley sudah siap mengatakan sesuatu yang sejak tadi ingin disampaikan.
" Hily sudah menikah Daddy.. sesuai dengan perkataanmu waktu itu, jika Hily sudah menikah berarti aku juga bisa menikah."
Berbicara tanpa basa basi, Harley membuat Daddy Ben dan Mom Ayu kini kebingungan.
" kapan Hily menikah sayang?" tanya Mom Ayu pada Harley yang berdiri didepannya dengan wajah datar.
" lalu siapa suaminya?" sahut Ben dengan suara beratnya. Ia kini menatap penuh arti pada putra keduanya itu.
Tak ada jawaban yang meluncur dari bibir Harley. Pria dewasa yang berumur 24 tahun itu kini menjadi bungkam.
Sedangkan Daddy Ben yang melihat kebisuan putranya kini menyunggingkan senyum karena Ia sudah tau semua yang terjadi di Bandung melalui informasi dari anak buahnya.
Bukan maksud ingin mencampuri kehidupan sang anak, akan tetapi Ben melakukan semua itu karena tidak ingin terjadi sesuatu pada salah satu anaknya.
" Hily, masuklah." seru Daddy Ben dengan datar.
Hily yang sejak tadi berdiri diambang pintu kini melangkah dengan perlahan, mendekat pada pasangan paruh baya yang sudah berstatus sebagai mertuanya.
" Dia istrimu sekarang dan Daddy memang mengatakan bahwa kau bisa menikah saat Hily juga sudah menikah, tapi karena kau yang menikahinya, apa boleh buat? Kau tetap bisa memilih pasanganmu sendiri karena pernikahan kalian memang hanya sebuah kesalah pahaman."
Berbicara dengan lantang, Ben membuat Istrinya melongo begitu juga dengan Harley dan Hily.
" sayang, maksudmu?" tanya Mom Ayu karena Ia sungguh bingung.
" sayang, nanti kita bicara di kamar." ucap Daddy Ben tersenyum manis pada wanitanya.
" Daddy memberimu waktu satu bulan, mantapkan hatimu pada Aana jika memang kau memilihnya. Setelah itu kau bisa menikah dengan Aana."
Setelah berbicara, Daddy Ben segera membawa istrinya ke kamar— meninggalkan Harley dan Hily yang mematung di tempat.
▪︎
▪︎
Bersambung....