
Harley kini berada didalam kamarnya. Seutas senyum tersungging saat melihat istrinya yang tengah berdiri didekat jendela kaca sembari menatap langit malam.
Hatinya bergolak, mengingat ucapannya sendiri— dimana dirinya akan melepaskan Hily dengan ikhlas.
Berjalan mendekati istrinya— Harley tiba-tiba memeluk erat wanita cantiknya dari belakang. Wajah tampannya di sembunyikan dibalik rambut panjang Hily.
Ia memejamkan mata dan menikmati aroma sampo dirambut wanitanya.
Sementara Hily, Ia terdiam dalam keterkejutannya. Dirinya tidak menolak pelukan itu karena entah mengapa seakan tubuhnya merespon nyaman.
" jangan dilepas, biar seperti ini.. sebentar saja." ucap Harley dengan suara beratnya.
Masih dengan posisi yang, Harley seolah enggan melepas belitan tangannya ditubuh sang istri.
" kenapa kau tiba-tiba memelukku?" tanya Hily yang mulai merasa nyaman pada setiap hembusan nafas hangat suaminya.
Hening.
Harley tak menyahut hingga tak lama dirinya melepaskan pelukan erat itu dan membalikkan tubuh Hily. Pandangan matanya teduh, menatap dalam manik mata wanitanya.
" aku mencintaimu."
Deg.
Pengakuan tiba-tiba Harley membuat gemuruh hati Hily membuncah. Jantung berdegup kencang, sangat kencang hingga terasa waktu seakan berhenti sesaat.
Bibir terkatup rapat, Hily masih terdiam seraya menatap intens wajah pria muda didepannya.
Sedetik kemudian, Harley langsung menangkup wajah cantik istrinya. Wajahnya pun kian mendekat, seolah ingin melabuhkan sebuah kecupan dibibir tipis Hily.
Namun Hily yang seperti dikendalikan oleh suasana, refleks memejamkan mata seakan siap menanti ciuman itu. Dan benar saja, Harley sungguh mengecup bibirnya.
Hily tak menolak, tapi Ia juga tidak merespon kecupan yang dihadiahkan suaminya secara mendadak. Sedangkan Harley, Ia dengan perlahan mengubah kecupan itu menjadi sebuah ciuman yang menuntut. Ia bahkan membuat kedua tangan sang istri bertumpu dibahunya.
" jangan.. " sergah Hily tiba-tiba saat merasa tangan kekar suaminya yang hendak menyingkap baju tidurnya.
Ia mendorong pelan dada bidang Harley, hingga jarak tercipta beberapa senti. Pandangan Harley teduh— membuat Hily merasa tidak enak.
" sekali saja." pinta Harley setengah berbisik.
Hily dilanda kebingungan. Hatinya pun kian bimbang— ada rasa ingin menolak, tapi entah mengapa dirinya merasa tidak tega.
Melihat istrinya yang hanya diam membisu tanpa memberi sepatah kata, Harley kembali mendekat dan mengecup bibir manis sang istri. Tangan kekarnya melingkar dipanggang— memeluk mesra Hily tanpa melepaskan ciuman bibirnya.
Dan perlahan Ia menggiring tubuh sang istri hingga terbaring diranjang. Manik mata Harley dan Hily saling bertemu.
" kita tidak bisa melanjutkannya, Ley. Kumohon lepaskan aku." pinta Hily dengan pelan.
Harley mengernyit, bukan karena penolakan istrinya— tapi karena panggilan Ley itu sangat menyentuh hati. Dan hanya Hily yang selalu memanggilnya dengan panggilan itu.
Sementara Hily— dirinya sejak tadi berusaha melepaskan diri dari kungkungan Harley, namun semuanya sia-sia karena tubuh kekar suaminya yang menindih tubuhnya sangat berat hingga Ia tak sanggup.
" sekali saja, Hily." Harley kembali memohon membuat Hily sungguh tak tega, apalagi raut wajah suaminya sangat sendu.
•
•
Berada dibawah selimut yang sama dengan Harley— Hily kini terdiam setelah apa yang terjadi diantara dirinya juga sang suami. Sesaat dirinya berfikir, mengapa tubuhnya seolah menerima setiap sentuhan Harley sedangkan hatinya seakan kosong— tak merasakan apapun sepanjang Ia dibuai hingga kesuciannya direnggut sejam lalu.
Ia menatap intens wajah tenang suaminya yang tengah memejamkan mata.
" kenapa hatiku tidak bisa merasakan apapun tentang perasaanmu? Apakah terjadi sesuatu sebelum aku kecelakaan?" serentetan pertanyaan berada didalam benak Hily yang masih memusatkan pandangannya dititik yang sama.