
Harley berdiri dari duduknya, dan mendekati Hana yang tampak tercenung. Tiba-tiba— tangan Harley terangkat dan bertumpu dibahu Hana hingga keduanya saling beradu pandang.
" kau membunuh Aana karena dia sudah mengusik hidupmu dengan mengetahui satu rahasiamu, kan."
Deg.
Sontak saja Hana terkejut mendengar penuturan Harley yang tidak Ia duga.
" biar ku tebak sekali lagi." jeda Harley yang masih dengan posisi yang sama.
" jika tidak salah, mungkin kau terlibat dalam kematian Ayah Jeremy.. dan hal itu diketahui Aana jadi kau membunuhnya untuk menjaga rahasia itu agar lebih aman, kan?"
Deg.
Lagi-lagi ucapan Harley membuat Hana kehabisan kata-kata. Ia diam membisu dengan jantung yang bertalu-talu. Untuk pertama kalinya Hana dibuat tak berkutik sedikit pun.
Melihat ekspresi Hana, Harley menyunggingkan senyum tipisnya. Ia lalu menurunkan tangannya dari bahu Hana dan melipat tangan didepan dada.
" ck, ck, ck. Informanku sedikit akurat." Harley masih tersenyum tipis saat Hana hanya diam saja.
Ya, sesuai laporan dari informannya minggu lalu— Harley dapat menyimpulkan bahwa Hana memang terlibat dalam kematian Ayah Jeremy— sang mertua. Terlebih lagi, kematian Ayah Jeremy memang sangat mendadak saat itu.
Tiba-tiba, dibalik wajah pucat Hana— senyum liciknya terlihat.
" iya! Aku memang terlibat karena.. aku yang mendorong pria tua itu dari tangga saat mabuk." jawab Hana dengan santai.
Harley tertegun sesaat, sedangkan Hana kini menyeringai.
Ia terbayang kejadian waktu itu, dimana dirinya tertangkap basah oleh Ayah Jeremy saat berada dilantai dua. Awalnya Hana ingin mencari Aana, namun sialnya Ia bertemu Ayah Jeremy dan parahnya— Ayah Jeremy bisa mengenalinya bahkan saat mabuk.
Hingga saat itu dengan gegabahnya Hana mendorong Ayah Jeremy dari lantai dua hingga tubuh pria paruh baya itu berguling sampai dilantai satu. Dan tentu saja— hal itu disaksikan Aana yang baru keluar dari kamar Hily.
Tak lama dirawat dirumah sakit, Ayah Jeremy kembali dinyatakan meninggal. Siapa lagi penyebabnya jika bukan Hana, karena dengan liciknya saat itu Hana bahkan mencabut alat bantu pernafasan Ayah Jeremy.
***
" kau memang gila. Ayah Jeremy tidak melakukan kesalahan, kenapa kau dengan tega membunuh pria itu." sentak Harley yang mulai tersulut emosi.
" kenapa kau tidak bisa bersikap baik, hah?" Harley dengan penuh amarah dihati mengguncang bahu Hana.
" jika kau mengatakan yang sebenarnya, dia pasti akan menerima mu. Dia Ayah Jeremy, dia itu baik." kembali Harley berbicara dengan intonasi meninggi. Wajahnya pun kian memerah karena amarah yang membuncah didada.
" baik?" Hana bersuara dengan tersenyum kecut.
" tidak ada orang baik dizaman ini. Mereka semua bersifat buruk. Kau tau.. aku pernah menyukai seseorang karena kupikir dia baik, tapi ternyata pria itu meninggalkanku." tutur Hana dengan senyum tipisnya.
Harley mengusap kasar wajahnya— merasa frustasi berhadapan dengan wanita gila seperti Hana.
" keluar dari ruanganku." titah Harley sembari menunduk dan berusaha mengontrol amarah dihatinya.
" baiklah, aku akan pergi setelah mengatakan tujuanku. Aduh.. dari tadi aku ingin mengatakannya, tapi kau malah berulah." nada suara Hana mendadak lembut.
" kau tau.. penghasil obat terbaik itu adalah negara China. Kurasa kau sudah mengetahui bahwa aku menerima paket dari sana." jeda Hana sembari melipat tangan didepan dada.
Kedua alis saling bertaut, pertanda bingung. Harley mengangkat pandangannya dan menatap nanar pada Hana.
" paket itu adalah obat, dan obat itu sudah ku berikan pada Hily." lanjutnya membuat Harley terkejut.
" apa yang kau lakukan kali ini?" tanya Harley yang kembali merasa emosi.
" tidak ada, aku tidak menyakitinya. Aku cuman.. memberikannya obat yang tidak bisa membuatnya sembuh dari amnesia." tutur Hana dengan seringai liciknya dan segera berlalu dari hadapan Harley.