You My Destiny

You My Destiny
Episode. 48



" Syal itu... "


Ucapan Arya masih menggantung dengan pandangan masih dititik yang sama.


" Kenapa?" tanya wanita yang tak lain adalah Hana.


Arya masih terdiam hingga tak lama, sepersekian detik Hana mengingat siapa sosok lelaki didepannya.


" Kau.. rupanya kau pria yang dikantor Harley kan?" nada suara Hana meninggi, seolah tak suka pada sosok pria tampan didepannya.


Ia pun dengan kesal hendak pergi, namun seketika langkahnya tertahan saat tangannya diraih oleh Arya.


" Hana." Arya menyerukan nama wanita cantik yang masih Ia genggam tangannya.


Hana berbalik dan menatap intens wajah Arya.


" Kenapa? Kau ingin membicarakan wanita yang kau cintai itu?" Hana membidik dengan tatapan tajam dan menghempas tangannya hingga terlepas dari Arya.


" Hana Florian." Arya menyebutkan nama lengkap wanita dewasa didepannya.


Hana termangu, menatap Arya. Ia tidak salah dengar, bagaimana pria gagah itu menyebutkan nama lengkapnya dengan benar.


" Apa aku salah?" Arya menyadarkan Hana yang terdiam.


" Kau, Arya?" mata Hana mulai berkaca - kaca.


" Aku menemukanmu." ucap Arya dan langsung memeluk Hana.


" Aku sudah pernah bilangkan, bahwa tidak sulit bagiku untuk mengenalimu." Arya mengingatkan Hana tentang ucapannya sendiri saat dua puluh tahun lalu.


Hana tercenung dalam pelukan sahabatnya yang sejujurnya selama ini dirindukan. Ia tidak pernah mengira bahwa akan bertemu dengan sosok yang selama ini selalu terkenang didalam hati.


Lama memeluk sahabatnya, Arya pun melepas diri dari Hana dengan tersenyum bahagia.


" Ayo, pulang bersamaku. Aku akan mengantarmu." ucap Arya mengambil alih payung ditangan Hana.


***


Didalam mobil, Arya terlihat fokus mengemudi. Namun sepanjang perjalanan, hatinya merasa gelisah karena ingin mengatakan sesuatu, tapi merasa tak enak hati.


" Humm.. aku ingin bertanya." ujar Arya.


" Oh, apa itu?" Hana menoleh, siap menanti apa yang ingin dikatakan Arya.


" Jika aku tidak salah dengar waktu itu.. kau terlibat dalam kecelakaan Hily kan?" Arya memperjelas keingintahuannya.


Mendengar ucapan Arya, Hana terdiam. Rasa tidak senang seketika menggerogoti dada saat dimana ternyata sahabatnya yang sudah lama dirindukan hanya pada akhirnya hanya mengkhawatirkan wanita lain. Terlebih lagi wanita itu tidak disukainya.


" Kenapa? Jika aku menjawab benar, apakah kau akan pergi?" Hana menatap nanar pada Arya.


" Tidak. Aku tidak akan pergi, tapi kumohon, jangan terlibat lebih dalam lagi pada kejahatan. Hily adalah sahabatku juga, dan dia adalah cinta pertamaku." terang Arya dengan tegas, namun nada suaranya dilembutkan.


Hana terdiam, tidak menyahut sama sekali.


" Aku sangat mengenalmu. Kita berteman cukup lama, walau pada akhirnya kita berpisah setelah kebakaran itu. Aku tau kau orang baik, maka tidak perlu menciptakan sosok baru dalam dirimu. Cukup menjadi Hana, sahabat Arya." lanjut Arya lagi.


Hana lagi - lagi tidak menanggapi dan malah memalingkan wajah— menatap keluar jendela.


" Hily. Selalu Hily." gumam Hana tersenyum getir.


" Kau ternyata masih menyimpan hadiah pemberianku." ucap Arya berusaha mencairkan suasana.


" Tentu, karena aku menyayangimu." jawab Hana dengan santai.


Arya tersenyum. "Tentu. Kau harus menyayangi aku karena kita adalah sahabat." ucapnya dengan senang.


" Tidak, aku menyayangimu lebih dari sahabat. Aku rela terluka dan mampu menyingkirkan orang - orang yang menghalangi aku dekat denganmu." benak Hana, kembali menatap pada wajah tampan Arya.


" Aku mencarimu setelah kebakaran itu. Tapi kata Ayahku, kau dibawa seseorang." seru Arya.