You My Destiny

You My Destiny
Episode. 53



" Ah, kau melupakan satu hal. Orang bilang, jika kita melakukan kejahatan, maka lambat laun kejahatan itu akan kembali pada diri sendiri." jeda Harley tersenyum penuh arti.


Hana mengernyit— masih menatap Harley dengan sorot mata penuh amarah.


" Kau membuat ingatan Hily lumpuh, yang berarti.. tanpa sadar kau membuat istriku kekal disamping laki - lakimu." lanjut Harley.


Mendengar perkataan Harley, Hana semakin dibuat kesal hingga refleks Hana mengangkat tangan— hendak mendaratkan tamparan diwajah Harley.


Namun dengan sigap Harley menahan tangannya.


" Jangan bertindak berlebihan. Aku bisa melawanmu, hanya saja aku kasihan karena kau adalah kakak dari Aana." bisik Harley tepat ditelinga Hana.


Ia lalu menghempas kasar tangan Hana dan kembali duduk ditempatnya.


" Keluar dari ruanganku. Tinggalkan kantorku dan jangan muncul lagi. Jika tidak bisa mendengarkanku, maka kasusmu di kejaksaan akan berlanjut." Harley menegaskan ancamannya.


Hana dibuat tak berkutik hingga mau tak mau Ia segera keluar dari ruangan Harley.


" Baiklah, aku memberimu waktu bersenang - senang. Saat aku kembali, kau akan menyesal." gumam Hana disepanjang langkah gontainya.


***


Waktu berlalu cepat, musim kian berganti. Dua purnama sudah terlewati, dan hari - hari terus berganti.


Dua bulan sudah, Daddy Ben dan Mom Ayu tak kunjung menetap di Indonesia. Bulan lalu sepasang suami - istri, paruh baya itu kembali dari Amerika, tapi hanya beberapa hari. Setelahnya mereka kembali ke Amerika mengurus Aunty Jeny yang kritis. Tak berselang waktu lama, dua minggu kemudian Mom Ayu mengirim kabar duka bahwa Aunty Jeny sudah meninggal.


Mansion Murray pun harus terperangkap dalam kesunyian selama dua bulan ini. Apalagi Harvey— anak sulung Daddy Ben juga sibuk menghandel perusahaan di Surabaya, serta Krystal— siputri bungsu yang tengah mengandung hingga banyak menghabiskan waktu di mansion Smith sendiri.


***


" Huek.. huek.. huek."


Suara Hily memuntahkan isi perutnya, didengar jelas oleh Harley yang baru pulang bekerja. Saat melangkah mendekat kekamarnya, saat itu juga Harley sudah mendengar kondisi istrinya, apalagi pelayan yang dijumpainya diruang tamu melaporkan bahwa Hily sedang tidak baik - baik saja.


" Hily."


Suara Harley terdengar khawatir saat sudah berada didalam kamar. Ia menerobos masuk kedalam bathroom dan mendekati istrinya yang tampak pucat pasih karena sejak tadi terus muntah.


" Kita ke dokter, ya." ucap Harley memijat tengkuk istrinya dengan pelan.


Hily menggeleng— menolak tanpa suara.


" Arya sudah membelikanku obat. Tadi aku terlalu banyak makan durian." tutur Hily dengan lemah.


" Baiklah. Kalau begitu istirahat." seru Harley yang masih khawatir pada kondisi istrinya.


Ia lalu mengambil handuk kecil yang tersedia didekat wastafel dan menyeka sisa air dibibir istrinya. Setelahnya Ia menuntun sang istri keluar dari bathroom dan menuju tempat tidur. Ia juga membantu Hily berbaring dan memakaikan selimut pada wanitanya.


Seperti itulah hubungan Harley dan Hily, meski keduanya akan berpisah dalam dua minggu lagi, bukan berarti hubungan mereka renggang. Bahkan sejak dua bulan belakangan, Harley memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Mereka juga sudah lebih sering menghabiskan waktu sarapan bersama dipagi hari.