
Arya kini berada didalam ruang rapat, bersama Hily sang CEO serta para direktur.
Hily yang tengah memimpin rapat, saat ini menerima laporan dari beberapa direktur. Direktur keuangan dan direktur personalia.
Setelah menerima laporan perihal perkembangan perusahaan, Hily kini merasa puas sebab setahun belakangan perusahaannya berkembang pesat. Mengakhiri rapat, Hily segera berdiri dari duduknya dan meninggalkan ruang rapat.
Tak lupa Ia meminta Arya, asistennya untuk menemuinya diruangan CEO.
****
Duduk dikursi kebesarannya, Hily kini bersandar sembari memejamkan kedua matanya. Ada lelah yang tercetak jelas diwajah cantiknya namun, ada rasa bahagia di hati sebab kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil yang baik pula.
Ceklek.
Tiga menit setelah meninggalkan ruang rapat, Arya kini sudah berada didalam ruangan atasannya.
" Hily, apakah kau yakin pada keputusanmu ini?" tanya Arya dengan menyodorkan berkas yang harus ditanda tangani oleh Hily.
" Iya. Aku sudah memutuskan untuk memusatkan diriku pada perusahaan. Kau atur janji dengan Pak Menteri, katakan bahwa Aku menerima tawaran kerja samanya." terang Hily sembari membubuhkan tanda tangannya pada lembar kertas yang diberikan asistennya.
" Hily, Aku tau bahwa banyak untung jika bekerja sama dengan Menteri tapi, akan banyak resikonya nanti." ucap Arya menatap intens wajah Hily.
" Arya, setiap pilihan pasti akan berisiko. Sebaiknya jaga saja sikapmu. Kita memang sahabat tapi, dikantor kau adalah bawahan dan Aku atasanmu itu berarti kau harus menuruti perintahku dan jangan membantah. Aku akan membuat perusahaan Ayahku selalu berjaya " seru Hily dengan raut wajah yang begitu tegas.
Sebenarnya, Alasan Hily memperluas jaringan perusahaannya bukan hanya ingin membuat JJ Group menjadi jaya tetapi Ia ingin membuktikan pada Harley bahwa dirinya baik-baik saja.
" Oh, jangan lupa. Kita menang tender dari perusahaan Harley. Biarkan dia melihat hasil kerja kerasku." tambahnya dan segera beralih pada tumpukan berkas dihadapannya.
" pasti terjadi sesuatu padanya dan juga Harley. Sikapnya sungguh berbeda." gumam Arya dalam hati dan segera meninggalkan ruangan CEO.
Sementara disatu sisi, tampak Harley dan Aana yang kini berada didalam restaurant. Keduanya tengah menikmati makan siang bersama, sebab Harley dan juga Aana memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua.
Sementara Aana, Ia masih asik dengan makanannya.
" sayang, makanlah. Tidak perlu perhatikan yang lain, Aku ada disini." ucap Aana dengan santai sembari menyantap makan siangnya.
Hendak melanjutkan acara makannya, Harley dibuat terkejut saat wanita dewasa itu menghampiri Aana dan menyiramkan jus yang berada diatas meja.
Memejamkan kedua matanya sembari menghela nafas, Aana berusaha terlihat baik-baik saja walau dalam hati api sudah berkobar.
" dasar wanita gila. Kau licik dan tidak normal. Tuan, kau bersama wanita ini? Tolong tinggalkan dia. Pikirannya tidak sehat, percayalah." celoteh wanita dewasa itu sembari menatap penuh arti pada Harley.
" maaf, jangan mencari sensasi disini. Ambillah uang ini dan pesan makanan." ucap Aana dengan tenang sembari tersenyum manis pada wanita dewasa itu. Ia menyodorkan uang namun, wanita itu justru membuang selembaran uangnya.
" Aku tidak butuh uangmu. Kau..."
Ucapan wanita itu menggantung saat petugas keamanan datang dan segera membawanya keluar dari restaurant.
" Tuan, tinggalkan wanita itu. Dia berbahaya." teriaknya sebelum menjauh dari Harley dan juga Aana
Sementara Harley, Ia kini hanya terdiam. Mengamati apa yang terjadi dihadapannya. Semua ucapan wanita itu terus terngiang-ngiang, meski wanita itu tampak seperti orang yang kehilangan akal.
" sayang, Aku sering makan disini. Wanita itu memang tidak waras." celetuk Aana, masih dengan senyum manis diwajahnya.
" sepertinya ini salahku, harusnya ku singkirkan dia sebelum membuat semuanya menjadi kacau." gumam Aana dalam hati. Ia segera berdiri dari duduknya, berlalu menuju toilet untuk membersihkan tumpahan jus pada dress nya.
Harley lagi dan lagi masih berdiam ditempat. Lidahnya kelu, Ia kini dilanda perasaan yang campur aduk. Entah mengapa, tapi hatinya bergetar saat mendengar perkataan wanita tadi.
" sepertinya ada yang tidak beres."
Harley bergumam dalam hati sembari melipat kedua tangan didepan dada. Ia kini tidak lagi berselera untuk melanjutkan makan siangnya.