
" Ley." suara yang begitu lembut mengayun, menyerukan nama Harley dengan lemah.
Hily masuk kedalam walk in closet, memastikan bahwa dirinya tak salah dengar saat tidak sengaja menangkap suara tangis yang tertahan.
" Hily, maafkan aku." Harley gagal menyembunyikan tangisnya dari sang istri.
Air mata terus mengalir, dan Harley langsung memeluk erat istrinya. Sedangkan Hily, wanita muda itu hanya berdiam kaku.
Sesak bergejolak, begitu merasakan kepedihan yang diderita suaminya. Perlahan Hily mengusap punggung Harley— berusaha menenangkan suaminya yang sangat terguncang.
" Aku menyakitimu?" gelombang suara Hily tampak bergetar.
Harley yang masih menangis tentu tak mampu menjawab hingga Ia hanya bisa memeluk Hily dengan erat.
Sedetik kemudian, Harley melepas pelukannya dan mengusap kasar jejak air mata yang mengalir dikedua pipinya.
" Aku menangis karena sangat bahagia." ujar Harley kemudian.
" Tapi air matamu seperti menggambarkan sesuatu yang lain." Hily mengamati wajah suaminya yang sembab.
" Tidak. Kau harus percaya, aku bahagia karena akhirnya.. kau mendapatkan kebahagiaanmu." ucap Harley dengan suara bergetar, menolak kebenaran bahwa hatinya memang sakit.
" Ah, kau tau.. mereka bilang jika kita bersedih ataupun merasa sakit hati, banyak tersenyum dan tertawa adalah obat penawar terbaik. Tapi menurutku, semakin kita banyak tertawa dan tersenyum.. itu hanya akan membuktikan bahwa kita sangat sedih. Dan secara tidak langsung, sebenarnya kita hanya memberitahu pada orang-orang bahwa hidup kita sangat menyedihkan." jelas Harley, berusaha meyakinkan istrinya sendiri.
Air mata kembali mengalir, namun Harley justru memamerkan senyum terbaiknya untuk menutupi luka dihati.
" Arya adalah sahabatku, dan kau adalah sahabatku juga. Meski kita terikat dalam hubungan pernikahan ini, bukan berarti aku akan mengekang dirimu. Kau bebas menentukan pilihanmu, dan pernikahan kita memang hanya sebuah sandiwara." terang Harley.
Hily mengernyit bingung.
" sandiwara?" tanya Hily.
" Humm. Dulu Ayahmu saat hidup, ingin sekali melihatmu menikah. Itu sebabnya kau dan aku memutuskan untuk membuat sandiwara ini. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah karena mencintai Arya. Aku mendukungmu bersama dia." Harley memperlihatkan senyum manisnya.
" Really?" Hily memastikan sekali lagi. Senyumnya pun mengembang saat suaminya menanggapi dengan anggukan kecil.
" Aku lega. Ucapanmu membuat aku tenang." seru Hily antusias.
" memang seharusnya seperti ini. Setiap ucapanku harus membuatmu tenang. Tapi aku malah takut, jika suatu saat pengakuanku justru mengganggumu."
" Oh.. kau bisa menjalin hubungan dengan Arya sekarang. Kau harus memenangkan hatinya sebelum wanita lain yang berhasil." ucap Harley.
Hily mengangguk dan segera pergi dari hadapan suaminya.
***
Hari sudah siang, tampak Harley yang saat ini sedang berada disebuah taman. Suasana ditengah hari sangat tenang, sehingga Harley bisa menikmati masa sendirinya— duduk dibawah pohon besar.
Harley merenungi perbincangannya dengan Hily pagi tadi. Rasa sakit itu pun masih menghuni relung hati.
" Hily, aku sekarang mengerti bagaimana perasaanmu dulu." Harley bermonolog pada dirinya sendiri.
Lama Ia menikmati semilir angin ditaman, tiba-tiba seseorang menghampiri dan duduk tepat disampingnya. Harley menoleh— menatap nanar pada wanita itu.
" Jangan melihatku. Aku hanya sekedar singgah." seloroh wanita muda itu— menatap lurus kedepan.
Harley tersadar, dan memalingkan wajahnya.
" Kau pasti sedang mengalami permasalahan cinta." celetuk wanita cantik itu.
" Dari mana kau tau?" Harley menoleh kembali pada wanita disampingnya.
" Karena taman ini tempat yang akan dikunjungi oleh orang yang hanya patah hati atau sakit hati." ujar wanita itu tanpa menatap pada Harley.
" Humm." Harley tak banyak bicara dan hanya mengangguk.
" Kau ada difase mana, terlambat menyadari perasaanmu atau ingin bertahan tapi terlalu menyakitkan." tanya wanita itu.
Harley menyunggingkan senyumnya.
" Aneh, dua fase yang kau sebutkan, semuanya menjadi pilihanku. Aku ada dikedua fase itu." ujar Harley dengan nada yang terdengar putus asa.