
Owner pemilik toko bunga, kini tampak asik merangkai dan menggabungkan beberapa bunga hingga tak sadar akan kehadiran seseorang.
" Sayang, kau serius sekali." ucap Harley yang tiba-tiba datang.
Memandang penuh cinta pada sang kekasih, Aana sungguh seperti sebuah obat penenang hati bagi Harley.
" kau datang. Ayo ke ruanganku." ajak Aana tersenyum manis pada kekasihnya. Ia segera berjalan lebih dulu tanpa melupakan bunga yang sudah dirangkainya.
****
" untuk apa merangkai bunga itu sayang?" tanya Harley saat sudah berada didalam ruangan sang kekasih. Ia kini tengah duduk disofa bersama Aana yang masih sibuk menggabungkan beberapa bunga.
" untuk pesanan seseorang. Orang itu menyukai semua bunga ini, jadi aku merangkainya menjadi satu." jawab Aana santai.
Harley kini mengangguk dan memandang pada beberapa bunga diatas meja. Seketika mengerutkan keningnya, jantung Harley kini berdetak cepat saat tak sengaja melihat label nama yang akan diselipkan dalam bunga.
" sayang, namanya Aana juga?" tanya Harley, beralih menatap pada kekasihnya yang tampak santai.
" Iya, dia Aana. Aku kasihan padanya, karena usianya dan usiaku hanya selisih beberapa menit tapi dia sudah meninggal satu tahun yang lalu." ucap Aana yang terus mempertontonkan senyum manis dibibir tipisnya.
" dia sudah meninggal?" tanya Harley penasaran. Entah mengapa Ia merasakan sesuatu yang janggal saat ini.
" sudahlah, tidak perlu membahas orang lain." tutur Aana berpura-pura kesal pada kekasihnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Harley yang melihatnya kini menjadi gemas hingga reflek mencubit kedua pipi Aana. Keduanya kembali berbincang hangat yang diselingi dengan canda tawa.
****
Central Park Mall.
Siang hari yang terasa begitu panas karena sinar matahari yang menyingsing sejak pagi hari. Tampak Arya dan Hily yang sudah tiba di pusat perbelanjaan ternama di Ibukota Jakarta.
Sebelum memasuki pekarangan mall, Hily melihat seorang pedagang yang menjual gula kapas. Seketika ada rasa ingin memiliki, hingga menyuruh Arya menghentikan mobilnya.
" Aku mau itu, tolong." celetuk Hily, menunjuk pada penjual gula kapas di pinggir jalan. Ia menatap penuh harap pada asistennya.
" Aku mau ikut." bujuk Hily dengan mata berbinar hingga membuat Arya mau tak mau menuruti keinginan Bos nya.
Memakai kacamata hitamnya, Arya keluar dari mobilnya, begitu juga Hily. Berjalan mendekat pada penjual gula kapas, mata Hily kini sungguh berbinar, menantikan gula kapas itu menghuni lambungnya.
" Pak, gula kapasnya satu, ya." ucap Hily dengan antusias. Sedangkan, Arya hanya menghela nafas melihat kegirangan Bos-nya.
Mendapatkan gula kapas yang sejak tadi diinginkan, seketika itu juga senyum merekah dibibir mungil Hily. Tanpa membuang banyak waktu, Ia segera melahap gula kapas yang sejak tadi membuat matanya berbinar.
" berapa Pak?" tanya Arya sembari mengeluarkan dompet dari saku jas-nya.
" sepuluh ribu Mas." jawab si penjual dengan senyuman dibibir.
Arya segera mengeluarkan uang seratusan dari dompetnya dan menyodorkan pada si penjual. Namun, belum sempat uang itu diterima, seseorang tiba-tiba saja merebutnya.
Secepat kilat, seperti itulah lincah-nya pencopet itu merebut selembar uang merah ditangan Arya.
Hily yang asik memakan gula kapas, sontak saja berhenti dan menatap nanar pada pencopet itu yang mulai menjauh bersama kendaraan beroda dua.
" dia melakukan apa tadi?" tanya Hily masih mematung.
" Ais, dia mencuri uangku." cerocos Arya dengan kesal.
Hily yang mendengarnya, kini baru sadar dan dengan segera Ia menitip gula kapasnya pada sipenjual.
Berlari menuju pangkalan tukang ojek yang tidak jauh dari tempat semula, Hily meminjam salah satu motor tukang ojek. Walau terlibat percakapan cukup lama, namun pada akhirnya sang tukang ojek meminjamkan saat disodorkan lima lembar uang seratusan.
▪︎
▪︎
Bersambung....