
" Aku akan keruang kerja, tidurlah." seru Harley dan bergegas pergi. Namun Hily tib - tiba menahan mencegatnya untuk tidak pergi.
" Bagaimana hasil persidangan tadi?" Hily bertanya tentang sidang perceraiannya karena memang tadi Ia tidak sempat menghadiri sidang, sebab harus keluar kota bersama Arya.
" Semuanya lancar. Hasil putusan akan keluar minggu depan, yang berarti kita akan resmi bercerai." jelas Harley tersenyum.
Hily mengangguk. Tapi entah kenapa, seakan hatinya digelitik untuk menolak perpisahan itu yang kini sudah didepan mata.
" Temani aku tidur." pinta Hily setelah terdiam lama.
" Tidurlah lebih dulu. Aku harus mengerjakan sesuatu." tolak Harley dengan lembut.
" Ley."
Langkah kaki Harley terhenti saat mendengar suara istrinya yang begitu pelan— menyerukan namanya.
" Aku merasa ada yang hilang." ujar Hily.
Harley berbalik dan menatap intens istrinya.
" Apa kalungmu hilang?" tanya Harley memilih duduk dibibir tempat tidur dengan pandangan masih terarah pada wajah wanitanya.
" Bukan. Aku merasa.. perasaanku separuhnya menghilang." ucap Hily.
" Kau tau arti impersonalitas? ... keberlangsungan tanpa perasaan. Itu yang kurasakan saat ini. Aku menjalani hubungan dengan Arya, tapi hatiku seperti kosong. Aku bertanya, apakah mungkin sebenarnya aku mencintaimu?" Hily menatap dalam manik mata suaminya.
Harley seketika diam mematung.
Drt.. drt.. drt
Dering ponsel diatas nakas— samping Hily membuat perbincangannya bersama sang suami terjeda. Ia pun segera bangun dan bersandar pada headboard. Dirinya lalu meraih benda pipi persegi panjang dan menjawab panggilan ponselnya.
" Humm, ada apa?" ucap Hily setelah terhubung dengan seseorang diseberang sana.
" Aku didepan mansion. Aku ingin mengajakmu dinner. Perutmu belum baikan? Aku akan mengajakmu makan soup terenak." seloroh Arya.
Hily tersenyum.
" Ada apa?" Harley menanti jawaban istrinya.
" Arya ada diluar. Aku akan pergi sebentar dengannya." jawab Hily dan segera turun dari ranjang. Ia masuk kedalam walk in closet dan mengambil salah satu koleksi jaket tebalnya.
Sementara Harley, pria gagah itu masih berdiam diri ditempatnya sampai Hily keluar dari dalam walk in closet.
" Aku pergi dulu." pamit Hily seraya menenteng jaket disalah satu tangannya.
Dirinya yang hendak memegang knop pintu seketika terkesiap saat tiba - tiba sebuah tangan kekar melingkar begitu saja dipinggang rampingnya.
" Jangan pergi." pinta Harley memeluk sang istri dari belakang.
" Kau bertanya, apakah mungkin kau mencintaiku. Maka aku akan menjawabnya." tambahnya.
Hening menyapa. Hily terdiam dengan bibir terkatup rapat, sementara Harley berusaha menenangkan hati sebelum melanjutkan ucapannya.
" Kau.."
" Stop."
Belum selesai tutur Harley, sang istri sudah memotong apa yang hendak dikata. Dan perlahan Hily juga melepas belitan kedua tangan suaminya.
" Jika jawaban.. adalah aku mencintai, maka jangan katakan. Karena mungkin aku akan membenci diriku." jelas Hily.
Deg.
Harley membeku ditempat, tak bisa berkata - kata. Apa yang baru didengarnya terasa begitu menohok dihati, karena ucapan itu seakan menggambarkan bahwa Hily tidak peduli pada pernyataan yang sebenarnya.
Tanpa berbalik, Hily segera pergi. Ia tidak lagi menoleh kebelakang, walau hanya sekedar melihat bagaimana raut wajah yang ditampilkan suaminya.
Sepanjang langkahnya menjauh dari kamar, air mata Hily juga turut menetes. Rasanya sesak mengatakan kalimat itu pada suaminya. Namun otaknya memaksa untuk mengatakan apa yang dirasakan oleh sihati.
***
Tampak sebuah mobil sedan hitam metallik keluaran terbaru— tengah melaju membela jalanan ibu kota dimalam hari. Suasana begitu tenang, hanya beberapa kendaraan roda dua dan roda empat berlalu - lalang.