You My Destiny

You My Destiny
Episode. 32



" Hily, kami orang tua Harley. Mertua mu, dan kami sudah seperti orang tuamu juga sejak kau kecil."


Mom Ayu berucap dengan lembut— memperkenalkan dirinya pada wanita muda yang melihatnya dalam kebingungan.


" humm.. senang bertemu kalian." Hily tersenyum kikuk dibrankarnya.


" Mommy membawa makanan kesukaanmu." tutur Mom Ayu menghampiri menantunya dengan senyum manis.


Hily lagi-lagi hanya membalas dengan senyum tertahan karena masih belum terbiasa dengan orang-orang yang baru dikenalnya.


" terima kasih Mom, tapi aku sudah makan. Tadi.. ada pria yang baik menyuapiku saat sadar. Dia baik dan perhatian." cerocos Hily dengan polosnya— mengingat sosok Arya.


Mom Ayu mengernyit dan beralih menatap Harley, meminta jawaban atas kebingungannya.


" dia membicarakan Arya, Mom." jawab Harley.


Raut wajah Harley sejak tadi sudah tak karuan dan sangat sulit ditebak. Ada ketakutan dihatinya— merasa takut jika Ia pada akhirnya sudah tidak menjadi istimewa dalam hidup Hily.





Hari berlalu cepat, tak terasa dua hari sudah terlewati. Hily sudah keluar dari rumah sakit dan kembali tinggal di kediaman Murray.


Hubungannya dengan Harley perlahan renggang saat Hily menjaga jarak dari suaminya. Sementara dengan Arya— pria muda nan tampan itu seakan mendapatkan keberuntungan dimana Ia sekarang disukai oleh Hily.


Hingga saat ini Arya dan Hily sedang berada didalam mobil yang tengah melaju membelah jalanan dipagi hari.


Sesuai janji Arya bahwa setelah Hily keluar dari rumah sakit, Ia akan membawa wanita cantik itu berkunjung kesuatu tempat.


Lima belas menit mengemudi, Arya sudah tiba ditempat yang dituju. Ia kini membantu Hily keluar dari mobil dan segera masuk kedalam gedung yang tampak sunyi senyap.


" ini tempat apa?" tanya Hily mengamati intens bangunan yang dimasukinya.


" ini adalah bangunan kosong milikku. Aku membangunnya lima tahun lalu. Tempat ini sangat rahasia karena baru aku dan kau yang mengunjunginya." tutur Arya menuntun Hily ke ruang tengah dimana sebuah alat musik— piano akustik tertata dengan rapi.


Arya mengajak Hily duduk dikursi piano.


" aku mencintai seseorang sejak tujuh belas tahun lamanya. Dia cantik dan baik, tapi tidak menyukaiku. Di sudah menikah, tapi perasaanku tidak pernah hilang untuknya."


Arya bercerita, dengan tatapan sendu menatap pada wajah Hily.


" aku membangun ini karena dia. Setiap kali aku merasa sakit karena dia.. aku kemari dan memainkan piano ini." lanjutnya.


" siapa dia?" tanya Hily pelan.


" Hily Jerm." jawab Arya santai.


Hily sontak tercenung setelah mendengarkan ucapan pria muda disampingnya. Arya lalu meraih kedua tangan Hily dan menaruhnya di keyboard piano.


" mainlah bersamaku. Kau boleh memainkannya asal" seru Arya memulai bermain piano.


Tanpa disadarinya, air mata Hily ternyata menetes tiba-tiba. Sesak bergejolak dihati, namun Hily tak ingin merusak suasana dan mulai memperlihatnya senyumnya.


Ia pun dengan asal memainkan piano karena dirinya memang tidak pandai dalam hal memainkan alat musik. Senyum merekah, lalu tawa pecah saat alunan piano yang tercipta terdengar sangat kacau.


Arya diam-diam mengulum senyum dan kemudian ikut tertawa melihat bagaimana senangnya Hily pada hal-hal sederhana. Sebuah senyum dan tawa lepas yang pertama kali dilihatnya.


Teruslah tertawa dan tersenyum seperti ini padaku.. karena akan ada saat dimana kau kembali menjadi Hily yang mencintai Harley. Saat itu tiba, aku akan tetap disisimu untuk berbahagia.


Sangat menyesakkan dihati— itulah yang dirasakan Arya. Namun Ia juga merasa bahagia karena diberi kesempatan untuk lebih dekat dengan Hily— wanita yang selama ini dicintainya dalam diam.