You My Destiny

You My Destiny
Episode. 20



Sedangkan disatu sisi, tampak Hily yang kini berada didekat taman, merenungi kejadian yang hari ini menimpah dirinya.


" dimana Harley ku yang dulu? Harley yang akan membagi cerita dan tawanya. Aku merindukan masa itu. Jika Aku diberi kesempatan untuk memilih, Aku ingin tetap bersahabat daripada membina rumah tangga dengan Harley."


Dengan berlinang air mata, Hily bermonolog pada dirinya sendiri. Seakan Ia kehilangan sosok Harley yang selama ini bersamanya, 16 tahun.


" nak, kenapa selarut ini kau berada ditaman?"


Suara dari pria renta yang tiba-tiba datang, menyapa Hily hingga membuat wanita cantik yang tengah sibuk merenung, seketika menoleh pada sumber suara.


Hily terpaku sesaat, kala melihat seorang kakek yang berdiri disisinya. Pakaian yang lusu serta rambut yang putih yang menghiasi kepala sang pria renta.


Memaksakan senyum manisnya, ditengah kepedihan hati yang saat ini terkoyak. Hily menatap kakek disampingnya dengan senyum yang merekah.


" bisakah kakek duduk disampingmu?" ucap sang kakek menunjuk bangku kosong disamping Hily.


Masih dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya, Hily segera mengangguk.


" kenapa selarut ini masih disini?" tanya sang kakek, menatap lekat pada wajah Hily yang terlihat sendu.


" suamiku, dia tidak ingin diganggu. Saat melihatku, dimatanya hanya ada kebencian dan kekecewaan."


Mengeluarkan unek-uneknya yang terpendam dalam hati, Hily seolah bercerita pada sosok yang telah lama Ia kenal.


" kakek mengerti. Terkadang, seseorang akan menganggap kita sangat berarti saat kita menghilangkan perasaan itu untuknya. Perlahan, dia akan merasa janggal karena tidak menerima kasih sayang lagi seperti biasa. Saat kejanggalan itu terasa, perlahan dia akan sadar bahwa kasih sayang yang selama ini diberikan sudah tidak ada lagi."


Seketika tertegun, saat Hily mendengar perkataan dari pria renta disampingnya. Ia terdiam, mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya.


" apa yang kau harapkan?" tanya sang kakek, membuyarkan lamunan Hily.


" setiap harapan, pasti mempunyai konsekuensi tersendiri. Bagaimana jika harapanmu terwujud tapi kau harus menanggung sedikit permasalahan?" tanya kakek itu lagi.


" menurutku, setiap apa yang diterima pasti memang akan ada konsekuensinya. Seperti sekarang, Aku memiliki banyak uang, memiliki gelar dan jabatan. Tapi, Aku harus menerima konsekuensinya yang disediakan takdir, dimana Aku harus hidup tanpa kasih sayang Ayah dan Ibu serta suamiku."


Suara lembut mengayun, penuh ketulusan dan keikhlasan tersirat jelas dalam setiap kata yang Hily ucapkan. Senyumnya kian mengembang, bukan karena merasa bahagia tapi, sedang menikmati rasa sakitnya.


" baiklah." sahut sang kakek dengan santai.


" kakek sendiri, kenapa masih diluar? larut seperti ini akan banyak anak nakal yang berkeliaran." celetuk Hily tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


Sedetik dua detik, terasa sangat hening. Lama menunggu balasan dari si kakek disampingnya, Hily menoleh dan terkejut kala mendapati si kakek yang sudah tidak ada.


Drt. drt. drt.


Dering ponsel memecahkan kebingungannya, dengan segera Hily menjawab panggilannya.


β€’


β€’


Bersambung....


Terima kasih untuk readers yang masih setia nungguin Mommy, Up ya. Jangan lupa kasih dukungan dan suport serta like and vote. Banjirin dengan koment juga, ya. Biar Mommy semangat nulis.


πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜