You My Destiny

You My Destiny
Episode. 58



Arya mau tak mau menepi dan segera keluar dari mobilnya. Ia berusaha menggapai tangan Harley untuk menghentikan sahabatnya yang seperti kehilangan akal.


" Harley berhenti." teriak Arya saat berhasil meraih tangan sahabatnya.


" Kau ingin apa. Kau gila? Kau mau berlari kemana? Mencari Hily dengan berlari sepanjang pinggir jalan." sentak Arya emosi.


" Lalu kau sendiri? Kau ingin aku tinggal diam dan menunggu kabar dari wanita gila itu?" balas Harley yang juga mulai tersulut emosi.


Arya tak mampu berkata-kata dan menghempas kasar tangan Harley. Ia juga menghela nafas kasar, berusaha mengontrol dirinya agar tidak kehilangan kendali disituasi yang genting seperti sekarang.


Sementara Harley, Ia mengusap kasar wajahnya. Terlihat sangat jelas diwajah tampannya— bagaimana Ia merasa frustasi sejak mengetahui bahwa Hana menculik Hily.


Ditengah gusarnya hati, Harley tak sengaja melihat Hana melintas— mengendarai mobil kearah berlawanan.


" Arya, itu Hana." cerocos Harley panik.


Arya sontak menoleh— mengikuti arah yang ditunjuk Harley. Dan benar saja, sekilas Ia dapat melihat Hana yang sudah berlalu dengan kecepatan diatas rata-rata.


Harley dengan gegabah melangkah, hendak mengejar mobil Hana. Arya lagi-lagi menghela nafas kasar mendapati sahabatnya yang sudah kehilangan akal. Ia menyusul— ingin menghentikan Harley namun hal yang tidak terduga terjadi sangat tiba-tiba.


Dirinya yang berusaha menghentikan Harley, justru tidak sadar mengejar sahabatnya hingga melintas ditengah keramaian jalan raya.


Sontak saja semua klakson mobil dijalan berbunyi, menyuruh Harley dan Arya untuk tidak menghalangi pengendara lainnya.


" Harley, kita naik mobil saja." pinta Arya setelah berhasil menggapai sahabatnya.


Tetapi semuanya mendadak kacau saat sebuah mobil sport dengan kecepatan penuh langsung menghantam tubuh Arya dan Harley.


Genggaman tangan Arya terlepas saat mendadak tubuhnya terbanting ke kap mesin mobil dan membentur kaca depan mobil itu. Sedangkan Harley, tubuhnya langsung terpelanting jauh dari mobil.


Sedetik kemudian keduanya terkapar tak berdaya di jalan aspal. Baik Arya ataupun Harley, kedua tubuh pria gagah itu sudah mengeluarkan darah segar.


Hanya sepuluh persen kesadaran yang dimilikinya, Arya berusaha untuk tak menutup mata. Keduanya matanya mencari keberadaan Harley dan tak jauh Ia memandang— dirinya dapat melihat jelas tubuh Harley yang terbaring dengan berlumur darah.


Tangan lemahnya bergerak sedikit, seolah ingin menggapai Harley. Setetes bulir bening pun langsung meluncur dari sudut matanya hingga tak lama pandangannya menjadi buram.


Ingin rasanya Ia menolong Harley— sahabatnya, tapi apalah daya karena tubuhnya pun sudah kaku dan perlahan kedua matanya juga terpejam.


Sementara Harley— pria itu masih bisa merasakan sakit disekujur tubuhnya yang bersimbah darah. Matanya belum juga terpejam.


Bibir tipisnya bergerak perlahan, ingin rasanya berbicara walau hanya sepatah kata. Sama seperti Arya, Ia ingin sekali menggapai sahabatnya yang terkapar dari jarak dua meter darinya.


Arya.. kau baik-baik saja? Kau harus hidup dan selamatkan Hily untukku. Jika ternyata kisahku dan Hily hanya sampai disini, kumohon.. lanjutkan kisahmu bersamanya. Buat dia bahagia saat mengenal cinta, agar cerita menuamu dan dia berakhir bahagia.


Ada air mata yang tertahan dipelupuk mata Harley.


Pandangannya pun perlahan buram. Wajahnya kian pucat, namun jantungnya masih berdetak hebat. Meski ditengah kritisnya, dibenaknya hanya ada dua orang yang diinginkannya selamat dari kematian— Arya sang sahabat, serta Hily— wanita yang dicintainya.