You My Destiny

You My Destiny
Episode. 43



Lama Hily berdiam diri dengan posisi yang masih sama— memeluk suaminya dengan erat. Harley perlahan mengurai pelukan dan menangkup wajah cantik istrinya yang masih basah.


Jejak air dari shower menyatu dengan air mata Hily, hingga tampak dirinya seperti baik - baik saja. Harley mengusap lembut pipi istrinya dan memperlihatkan senyum tipisnya.


" Apakah kau mencintai Arya?" Harley menatap dalam manik mata istrinya.


Hily bungkam karena jawaban atas pertanyaan suaminya bahkan membuat dirinya sendiri merasa bingung. Ia hanya membalas tatapan suaminya, dengan pandangan yang amat teduh namun seperti mencerminkan sesuatu.


Melihat istrinya yang hanya diam membisu— tak bersuara, Harley kembali tersenyum dan dengan perlahan mendekatkan wajahnya hingga jarak dari wajah sang istri hanya satu senti.


" Maafkan, aku." ucap Harley lalu meraih tengkuk istrinya.


Ia tiba-tiba mengecup bibir basah Hily hingga tak lama kecupan itu berubah menjadi ciuman panas saat sang istri membalas tautan bibirnya.


Menggiring tubuh kecil Hily hingga membentur dinding sembari melu - mat bibir, tangan Harley pun bekerja yang perlahan membuka pengait bra istrinya.


Sementara Hily yang sudah terbuai sama sekali tak menolak setiap sentuhan suaminya. Bahkan saat bra yang menutupi kedua asetnya terlepas, Ia masih tidak terganggu dengan hal itu.


Puas melu - mat bibir menggoda istrinya, Harley yang tanpa aba - aba langsung menggendong tubuh Hily dan membawanya keluar dari bathroom.


Masih dengan nafas yang memburu, Harley membaringkan tubuh istrinya ditempat tidur dan menindih tubuh basah itu. Pandangannya sayu, menatap intens wajah Hily yang begitu cantik tanpa riasan makeup.


Tiba - tiba Harley mematung diatas tubuh istrinya saat terbayang sesuatu, dimana Ia dulu sangat menyiksa hati dan juga mental istrinya.


" kenapa kau diam? Bukankah saat itu kau melakukannya tanpa keraguan?" Hily bersuara dengan lembut.


Sontak Harley tersadar dan dengan hasrat membuncah Ia memulai kembali mencumbu mesra istrinya.





Malam berganti pagi, dan kini sinar matahari mulai menyingsing. Duduk tercenung didepan meja riasnya, Hily tengah memikirkan sesuatu yang sejak bangun dari tidur sudah mengusik relung hatinya.


Ia tak melakukan apapun, dan hanya berdiam diri didepan cermin besar. Tak lama Harley keluar dari bathroom dan mendapati istrinya yang hanya duduk melamuni sesuatu.


Harley hendak mendekat pada Hily, namun niat kembali diurung saat merasa bahwa istrinya mungkin akan terganggu.


" Ley. " panggil Hily membuat Harley terdiam ditempatnya.


" Kau butuh sesuatu?" Harley mengajukan tanya pada sang istri yang masih terdiam didepan meja rias.


Deg.


Bagai petir bergemuruh diatas kepala, Harley merasa sangat terluka atas pengakuan istrinya yang sangat terbuka.


Kalimat ringan yang spontan diucapkan Hily dari bibir mungil. Harley termangu, menatap pantulan istrinya dalam cermin. Sedetik kemudian, senyumnya mengembang.


" Semalam kau bertanya, apakah aku mencintai Arya atau tidak. Dan jawabannya kuberikan sekarang." tambah Hily, masih dengan posisi yang sama.


" Itu bagus. Arya adalah pria yang baik, kau bisa memilihnya." Harley tersenyum getir, menutupi perasaannya yang tentu saja terluka.


Dengan bibir yang terkatup rapat, Hily menatap pantulan suaminya dicermin.


" Maaf! Aku tau ini salah, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku tidak bisa mengendalikan diriku, dan aku menyukainya sejak pertama kali dirumah sakit. Maaf.. karena tidak bisa menjadi istri yang baik." ucap Hily pelan.


Harvey terdiam.


" Kau baik, tapi aku tidak bisa mencintaimu. Aku istri yang buruk karena tidak bisa mencintai suamiku." lanjutnya dengan sendu.


" Tidak. Kau sudah pernah melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri, tapi aku menyia-nyiakan kesempatan itu." ucap Harley— menerawang pada moment dimana dirinya berlaku kasar pada Hily.


" Kau baik.. karena mengerti sebuah perasaan."


Hily berdiri dari duduknya dan menghampiri suaminya.


" Mari berpisah bulan depan. Aku tidak ingin menjadi istri buruk dalam jangka panjang."


Harvey seketika terdiam mendengar permintaan sederhana istrinya. Jantung bertalu-talu— seolah Harley tidak rela hubungannya usai begitu saja.


Hening pun menyapa.


" Beri aku waktu.. sampai ingatanmu kembali, lalu kita berpisah." seru Harley mengelus puncuk kepala istrinya. Senyum tipisnya pun terlihat sebelum berlalu— masuk kedalam walk in closet.


Berada didalam ruang ganti pakaiannya, Harley langsung bersandar pada dinding seraya menangis. Ia menutup mulutnya agar Hily diluar sana tidak mendengar isak tangisnya.


Wajahnya kian memerah saat berusaha menahan suara tangisannya.


" Ini hukuman untukku." ucapnya pada diri sendiri.


" Ini sungguh hukuman." Harley kembali mengulangi perkataannya dengan tangis tertahan.


" Maafkan aku Hily, tolong maafkan aku." air mata Harley semakin tak terbendung, Ia merasakan sakit yang begitu dalam— seolah sebuah belati tajam menusuk jantungnya. Bahkan lebih sakit dari sayatan itu.