You My Destiny

You My Destiny
Episode. 25



Semenit dua menit Harley menunggu diruang kerjanya sembari bersandar dikursi kerja, hati yang semula bergemuruh dan hendak meluapkan emosi kini mendadak kocar-kacir setelah aksi ciuman panas tadi.


Tak lama Ia menunggu, Hily kini sudah datang dengan memakai piayama tidur serta membawa segelas air putih.


Berjalan mendekat pada suaminya, Hily dibuat salah tingkah saat Harley terus menatapnya. Dengan jantung yang seolah memompa dengan kuat, Hily segera meletakkan gelas diatas meja.


" duduklah, Aku ingin kita bicara baik-baik." Harley tak banyak bicara, ekspresinya pun sangat mendukung dengan wajah datar.


Hily diam mematung, pikirannya sungguh kalut. Melihat bagaimana gurat wajah suaminya, Ia pun tak mengerti apa yang hendak di bicarakan Harley.


" tolong jangan ganggu Aana dan sebaiknya kita sudahi pernikahan ini."


Masih mematung ditempat, Hily lagi-lagi dibuat tak berkutik. Ia sungguh tak mengira bahwa suaminya ternyata hanya memikirkan satu wanita saja.


Pertahanan tubuh yang selama ini Hily kuatkan, seketika merasa tak berdaya lagi. Melihat wajah datar pria yang sudah menyakiti hatinya, Hily semakin dibuat sakit saat pria itu justru tak menatapnya dengan tatapan sedih.


Tak kuasa melihat sikap santai Harley, Hily membalikkan tubuhnya. Rasa sakit dihati kian mendapat dukungan dari kedua matanya yang kembali meneteskan bulir-bulir kristal.


" Kau sungguh mencintainya?" Bibir Hily bergetar, menahan isak tangisnya yang hampir pecah.


Ia merasa bodoh sebab, setelah ciuman panas tadi Ia malah berfikir Harley memanggilnya untuk membicarakan perihal hubungan mereka.


" iya."


" lalu bagaimana, Aku?"


Menanti jawaban dari suaminya namun, Ia malah mendapati kecewa karena pria tampan yang notabene adalah suaminya itu tak menyahuti ucapannya.


Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, Hily menangis tersedu-sedu.


" jangan menangis, kumohon. Kita harus menyelesaikan pembicaraan ini." ucap Harley dengan datar. Masih tak bergeming ditempat semula, Ia hanya menatap punggung istrinya yang tampak bergetar hebat.


Menghentikan tangisannya, Hily kini menyeka air mata yang terus saja mengalir membasahi wajah sembabnya.


" apakah secuil rasa tidak bisa kau berikan? Aku akan membebaskanmu jika memang ini menyiksamu. Setelah Daddy dan Mommy kembali, mari bicarakan bersama."


Meski ditengah hati yang dilanda sakit, Hily berusaha untuk berbicara lembut pada Harley. Kakinya pun kini perlahan melangkah namun, suara berat Harley menghentikannya.


" kau pergi tanpa mengizinkan Aku melihat wajahmu?"


" maaf."


Hanya satu kata yang meluncur dari bibir mungil yang bergetar itu. Hily pun segera berlari keluar dari ruang kerja saat merasa dirinya tak cukup kuat lagi untuk berada disamping Harley.


Sementara Harley, Ia kini masih didalam ruang kerjanya. Memandangi foto sang kekasih yang tersenyum manis. Rindu mencuat saat matanya tak lepas dari gambar foto diponselnya, dengan segera Harley menghubungi Aana.


Sedetik dua detik, Harley menanti jawaban diseberang sana namun, hanya kecewe yang didapat saat Aana tak menjawab panggilan telfonnya.


Tersenyum saat mengingat wajah Aana yang tengah tertawa, Harley kini segera meraih kunci mobilnya dan meninggalkan mansion. Tujuannya tentu untuk menemui sang pujaan hati.


****


Jalanan yang tak dipadati banyak kendaraan, membuat Harley tiba di apartemen Aana dalam tenggat waktu lima belas menit.


Wajahnya berseri dengan senyum yang terus mengembang. Harley kini sudah berada didalam lift yang akan mengantarkannya ketempat Aana.


Senyuman yang terukir diwajah, membuat Harley terlihat seperti orang yang paling berbahagia. Meski perkataanya tadi pada Hily begitu menohok, Harley seolah tak peduli akan hal itu.


Namun, siapa sangka. Wajah berhias senyuman itu kini berganti menjadi sebuah ekspresi yang sulit diartikan.


Deg.


Harley yang sudah keluar dari lift, kini mematung ditempat saat tak jauh dari tempatny Ia melihat seorang pria yang memberikan buket mawar putih yang begitu besar pada sosok wanita cantik.


Berjalan mendekat pada sosok yang hendak ditemuinya, Harley sungguh tak punya keberanian untuk sekedar bertegur sapa.


" Aana." Suara yang begitu pelan menyerukan nama wanita cantik yang tengah memeluk buket bunga besar.


Perasaan Harley semakin tak enak saat Aana justru menatapnya dengan tatapan aneh yang disertai senyuman tipis.


" sayang, terima kasih buketnya. Pulanglah, pasti kau sangat lelah setelah perjalanan dari luar negeri." ucap Aana terang-terangan, memangil sayang pada pria yang memberinya buket bunga.


Mendengar ucapan Aana, Harley seketika dibuat tercengang. Pria tampan yang berdiri kaku sembari terus menatap wajah Aana kini membisu.


Setelah kepergian kekasih Aana, Aana kini masih menampilkan senyum terbaiknya pada Harley yang sudah sangat kecewa.


" apa maksud semua ini?" tanya Harley dengan suara lemah.


" masuklah, kita bisa bicara didalam." ucap Aana dengan santai seolah tak terjadi apapun.


" tidak. Aku sudah paham siapa pria tadi tapi, kumohon besok saja dijelaskan. Aku belum siap." Suara yang terdengar tak berdaya, Harley segera berlalu dengan perasaan sakit bercampur rasa kecewa.


Berjalan linglung meninggalkan apartemen Aana, Harley merasakan hati yang amat hancur. Cintanya kepada Aana membuatnya tak bisa berkutik sama sekali.