
Melajukan motor pinjamannya, Hily menanjap gas full mengejar si pencopet yang kini berada beberapa meter darinya.
Arya? tentu saja Ia tidak ketinggalan, karena Hily juga membawanya. Namun, bukan Arya yang mengendarai motor, tapi Hily sebab Arya tidak pandai mengendarai motor.
" Hily, kau bisa pelan tidak. Ini jalan raya, jika kita kecelakaan lalu mati, bagaimana? Jika kau yang mati tidak apa-apa karena memang tidak ada harapan untuk bahagia lagi, tapi Aku? Aku masih punya harapan untuk bahagia." celoteh Arya memeluk erat Hily.
" Sial, kau itu teman laknat. Kalau Aku mati kau juga harus mati. Sebaiknya berhenti bicara, kau itu payah jadi lelaki." umpat Hily dengan kesal namun, tetap fokus pada targetnya.
Melajukan motor dengan kecepatan penuh, Hily mendadak undur gas saat sekelompok motor didepannya menghalangi.
" huff, mereka ini lagi reunian di jalan, ya? dasar warga +62, tidak tau tempat." omel Hily karena sekelompok motor itu melaju lambat sebab saling bercakap dengan sesama.
" memangnya kau bukan warga Indonesia?" tanya Arya dengan tawa kecil di bibirnya saat mendengar wanita cantik yang memboncengnya mengomel.
" Aku cuman tinggal di negara ini, bukan berasal dari sini." balas Hily ketus.
" Kau itu bodoh Hily, pencopet tadi cuman mengambil selembar uang seratus, tapi kau mengeluarkan lima lembar uang seratus." cerocos Arya dengan berteriak karena motor melaju dengan cepat.
Menginjak rem mendadak, Hily menghentikan aksinya yang mengejar pencopet tadi. Namun, tindakannya yang mendadak berhenti di tengah jalan raya, membuatnya ditabrak oleh mobil.
" hei, kalian itu tidak tau aturan lalu lintas, ya? berhenti di tengah jalan raya itu tindakan fatal." omel seorang pria paruh baya yang menabrak Hily dan Arya.
Hily yang mendapat omelan kini terdiam beberapa detik lalu kembali menatap tajam pada sang pria paruh baya.
" eh, Bapak tadi yang nabrak dari belakang. Jadi itu kesalahannya Bapak, bukan kami." ucap Hily dengan sengit. Ia berkacak pinggang sembari melotot pada pria didepannya.
" dengar, ya Pak. Dimana-mana, yang menabrak itu pasti salah dan dalam undang-undang kepolisian, yang menabrak tetap salah." tambahnya lagi hingga membuat pria paruh baya itu seketika terdiam.
memang, iya? tapi Aku sudah lama hidup dan baru mendengar undang-undang itu.
Pria paruh baya itu terdiam sembari bergumam dalam hati. Sedangkan Arya, Ia melongo mendengar perkataan Hily sebab, sejauh Ia mengenal Hily belum pernah sekalipun sahabatnya itu berkata dengan bijak.
Gumam Arya dalam hati dan seketika tersadar saat suara klakson dari beberapa mobil berbunyi saling menyahut.
Karena merasa terdesak, pria paruh baya itu pun segera masuk kembali kedalam mobilnya tanpa ingin memperpanjang masalah, begitupun dengan Hily dan Arya yang segera melajukan kendaraan roda dua-nya.
****
Perusahaan JJ Group.
Arya dan Hily kini sudah tiba di kantor tepat pukul tiga sore. Keduanya tengah berada diruang sang CEO perusahaan.
" Hily Jerm, kumohon. Lain kali sebelum bertindak, kau pikirkan dulu resikonya. Kau itu perempuan, jika kau selalu menggunakan otot mu tanpa otak, kau akan selalu berada dalam masalah."
" jika seandainya tadi ada polisi, bagaimana? kau akan mempertaruhkan jabatanmu sebagai CEO JJ Group dengan uang seratus ribu? Kau bisa fikir, jika tadi kita berurusan dengan polisi, bukan tidak mungkin kita berdua akan masuk media."
Arya mengomel panjang lebar pada atasannya yang kini bungkam. Hily yang sedang duduk dikursi kebesarannya, menatap sang asisten yang mengomel-ngomel sembari berkacak pinggang dihadapannya.
" ta..tapi tadi kukira dompetmu yang dicuri. Jadi..."
" Diam-lah Hily. Sekarang kau harus lembur untuk mengerjakan semua berkas ini." ucap Arya menunjuk tumpukan berkas diatas meja atasannya. Ia memotong pembicaraan Hily yang seolah tak bermutu di indera pendengarannya.
▪︎
▪︎
Bersambung....
Jangan lupa kasih dukungan dan suport serta like and vote, ya.🥰 Tinggalkan komentar juga, buat nyemangatin Mommy.
❤Sayang Semua❤