
Wajah seketika murung, Hily menunduk sedih dan merasa bersalah.
" maafkan aku.. kau sudah mencintaiku tapi aku malah tidak merasakannya." Hily berkata sungguh-sungguh.
" tidak.. jangan seperti ini. Kau tidak salah, hanya saja waktunya..." Harley tak tau lagi harus berkata apa hingga Ia memilih diam sejenak.
" jangan minta maaf, karena aku akan lebih merasa bersalah." lanjut Harley sembari memegang tangan sang istri.
Hily mengangkat pandangannya, tatapan teduh di pusatkan untuk wajah suaminya. Namun entah mengapa, dihatinya terasa sangat kosong.
Cukup lama menatap pada wajah Harley, hingga akhirnya Hily melepaskan tangan dan memalingkan wajahnya. Ia lalu segera pergi ke dalam bathroom karena merasa tidak nyaman berada didekat suaminya sendiri.
Harley hanya menghela nafas melihat istrinya yang sudah berlalu tanpa berucap sedikitpun. Dalam hati Ia merasa bahwa perubahan Hily mungkinlah sebuah hukuman untuknya.
***
Malam terlewati sudah hingga kini pagi sudah menyambut.
Berdiri didepan meja riasnya, Hily memandangi pantulan dirinya didalam cermin. Senyumnya terlihat, membuat wajah cantiknya berseri-seri.
Harley yang baru keluar dari dalam bathroom— mendapati istrinya tersenyum sendiri.
" oh, kau sudah selesai? Bagaimana penampilanku?" tanya Hily antusias.
Harley hanya tersenyum, tak menanggapi.
" ternyata.. walau ingatanmu hilang, kebiasaanmu tetap tidak berubah." gumam Harley yang masih tersenyum.
Ia mengamati intens cara berpakaian istrinya yang mengenakan kembali pakaian tomboy, dan juga jaket kulit import kesayangan tak pernah dilupakan.
" kau cantik. Tapi kenapa berpakaian seperti ini? Apakah kau ingin pergi?" tanya Harley.
" humm.. " Hily mengangguk pelan sembari mengikat rambutnya menjadi dua bagian.
" Arya akan menjemputku. Aku ingin bekerja dikantor sekarang." ucap Hily kemudian.
Selesai mengikat rambutnya, Hily lalu segera pergi— mengabaikan suaminya yang sejak tadi mengamatinya.
Namun langkah kaki wanita muda itu terhenti saat kepalanya tiba-tiba seakan berdenyut. Sekilas ada ingatan terlintas dimemori otaknya. Sebuah ingatan yang sama sekali tidak diketahui Hily.
Memegangi kepalanya, Hily merintih saat rasa sakit itu kembali menusuk-nusuk dengan tajam. Sontak Harley panik dan langsung menghampiri istrinya.
" kenapa? Ada apa? Kepalamu sakit?" Reaksi berlebihan tampak dikeluarkan Harley dan hendak mendaratkan tangannya dibahu sang istri.
" jangan sentuh aku."
Terdiam seketika saat suara pelan Hily menghentikannya. Wajah Harley mendadak redup.
" aku harus pergi." ucap Hily dan segera berlalu.
Harley terhenyak mendapati sikap istrinya yang sungguh berubah drastis. Dahulu istrinya sangat mencintai, namun kini cinta itu lenyap seketika.
aku salah.. tapi aku akan bersabar sampai waktu itu tiba. Waktu dimana kita akan bersama dan saling membagi cinta.
•
•
Bersama Arya sejak tadi, Hily kini sudah tiba didepan gedung besar yang menjulang tinggi. Kepala mendongak— menatap keatas, Hily terkagum pada perusahaan miliknya sendiri.
Arya yang sejak tadi memperhatikannya hanya tersenyum tipis.
" ayo masuk." ujar Arya menarik tangan Hily.
Hily sontak tersadar, namun kini pandangannya terarah pada tangan yang digenggam Arya begitu erat.
Seutam senyum terlihat diwajah Hily. Ia lalu mengangkat pandangannya dan menatap wajah pria muda itu yang fokus menuntun jalan kearah lift.
***
Didalam lift menuju lantai dimana ruang CEO berada, pandangan Hily masih di titik yang sama. Sementara Arya, Ia yang baru menyadari tatapan Hily padanya seketika merasa canggung.
" kenapa menatapku?" suara Arya bergetar.
Hily tak menjawab dan hanya tersenyum.
" kurasa aku menyukaimu."
Deg.
Arya terdiam mendengar ucapan Hily yang terang-terangan soal perasaan. Dua rasa yang berbeda saling berperang didalam hati. Ada bahagia dan ada juga rasa takut.
Disisi lain Arya bahagia karena perasaannya terbalas, namun menyadari kondisi Hily yang tidak baik membuatnya merasa takut— takut bila rasa itu hanya tersesat sesaat.
Ting.
Belum sempat berucap sepatah kata, lift sudah tiba dilantai tujuan. Arya langsung keluar dengan Hily yang mengikut disampingnya.
" pergilah keruanganmu. Aku akan mengerjakan beberapa berkas diruanganku."
Setelah Arya berbicara, Ia hendak pergi untuk menenangkan hatinya yang sudah kacau karena pengakuan Hily yang begitu mendadak.
Namun, langkah kakinya tertahan saat Hily tiba-tiba menarik tangannya. Semakin berdegup kencang jantung Arya, Ia menjadi salah tingkah sendiri.
" ke.. kenapa.. ka..kau ingin apa?" Arya terbata.
" jika kau menyukaiku.. si..si..silahkan. Aku tidak melarangnya, tapi sekarang aku ingin bekerja dulu. Nanti saja membahas soal ucapanmu tadi." lanjutnya kikuk.
Hily mengernyit.
" aku tidak ingin membahas itu. Aku ingin tanya dimana ruanganku?" ucap Hily santai.
Sontak wajah Arya memerah. Ia merasa malu sendiri saat prakiraannya salah.
" o.. oh. Ruanganmu yang itu." tunjuk Arya pada pintu yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
" oke. " Hily segera berlalu tanpa banyak bicara.
Setelah melihat Hily masuk keruangan CEO, Arya lalu menarik nafas dan menghembuskannya.
" Arya, kau itu pede sekali." memukul pelan kepalanya, Arya merutuki kebodohannya sendiri.