
" Entah kenapa, tapi aku sangat mengharapkanmu mengatakan bahwa kau.. mencintai aku." gumam Hily merasa sesak— seolah ini bukan kali pertamanya berharap untuk dicintai oleh suaminya.
***
Keesokan harinya, dipagi hari yang cerah dengan sinar mentari hangat, Hily kini sudah siap berangkat ke kantor bersama sopir pribadi yang mengantar.
Sebelum masuk kedalam mobil, Hily berpapasan dengan suaminya yang juga hendak pergi bekerja. Hily hanya menampilan senyum manisnya, sebelum benar - benar masuk kedalam mobil.
" Akhirnya aku melihatmu bahagia, setelah aku sendiri yang membuatmu menderita." lirih Harley— menatap pada mobil yang dinaiki istrinya.
Ia pun bergegas masuk kedalam mobilnya juga dan segera mengemudi meninggalkan mansion.
Karena arah kantornya dengan sang istri berbeda, Ia pun harus berpisah arah digerbang mansion.
***
Diperjalanan, Hily yang duduk dikursi belakang kemudi terus saja memikirkan Harley. Pikirannya bergolak tak karuan, seakan ada sesuatu yang salah pada hatinya.
Bimbang menghuni relung hatinya sejak semalaman. Senang karena akhirnya bisa bersama Arya, namun sesak terasa saat mendapati jawaban Harley bahwa dirinya disukai hanya sebagai sahabat saja. Padahal awalnya perasaan seperti ini tak pernah ada dibenak Hily.
Sementara disatu sisi, ada Harley yang kini menyempatkan diri untuk singgah di mall sebelum kekantor. Harley keluar dari mobil dan segera meninggalkan area parkir. Ia berlari kecil memasuki kawasan mall.
***
Didalam mall, Harley berjalan menuju toko perhiasan langganan keluarga Murray. Dengan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya, Harley memasuki toko perhiasan dan langsung disambut oleh pegawai toko dengan ramah.
" Aku ingin melihat koleksi kalung." ujar Harley.
Pegawai toko menunduk sedikit dan segera menuntun Harley menuju etalase perhiasan.
Harley pun melihat semua kalung didalam etalase kaca. Semuanya tampak indah dan berkilau karena batu permata yang dimiliki setiap kalung.
" Aku ingin yang ini." tunjuk Harley pada kalung putih yang memiliki permata berkilai dengan bentuk menyerupai sun flowers.
" Baik, Pak." seru sang pegawai segera mengambil kalung yang dipilih Harley.
" Pilihan anda sangat bagus. Terakhir kali ada seorang kakek yang datang, katanya akan ada pria yang membeli kalung ini. Ku pikir dia hanya bercanda, tapi ternyata sungguh ada yang membelinya." tutur pegawai cantik itu dengan ramah.
Harley mengernyit. "Benarkah?" tanya Harley.
" Iya, Tuan. Saya juga disuruh menyampaikan pesan untuk pembeli kalungnya. Katanya permata kalung ini bersimbol matahari cerah dengan batang duri mawar, yang berarti kelak sipemilik kalung akan berbahagia setelah menderita." jelas pegawai itu lagi.
Harley hanya menyunggingkan senyum tipisnya setelah mendengar ucapan pegawai muda didepannya.
" Baiklah, kalau begitu aku beli ini." ucap Harley tanpa basa - basi lagi dan segera mengeluarkan black cardnya.
Tiga menit kemudian, pembayaran selesai dan Harley pun segera meninggalkan toko perhiasan dengan menenteng paperbag mini.
Sepanjang langkahnya melewati outlet di mall, senyum yang menghiasi wajah tampannya tak pudar sama sekali. Ia kini hanya memikirkan satu hal— dimana akan memberikan Hily kalung yang dibelinya sebagai sebuah hadiah. Mengingat bahwa selama ini memang dirinya tidak pernah menghadiahi sesuatu untuk Hily.
***
Perusahaan JJ Group.
Senyum mengembang, membuat wajah Hily terlihat semakin cantik. Ia berjalan masuk kedalam kantor sembari menenteng kresek berisikan bubur ayam yang tadi sempat dibelinya.