You My Destiny

You My Destiny
Episode. 42



Jarung jam terus bergerak maju, menandakan malam semakin larut. Pukul sepuluh malam, dan Hily baru saja pulang dari bar. Dalam keadaannya yang kacau, Ia berjalan sempoyongan masuk kedalam mansion. Tak ingin dipapah oleh sang supir ataupun pelayan, karena Ia merasa dirinya sangat panas— imbas dari kadar alkohol yang berlebihan.


Pandangan sudah buram, tapi Hily tetap saja berusaha untuk mencapai tujuannya— kamar dimana Ia akan memperistirahatkan tubuhnya yang terasa panas seperti terbakar.


" astaga, kepalaku berat sekali." lirihnya dengan mata sayu.


" Harley pasti marah saat melihatku."


Ditengah ketidaksadarannya, Hily tetap mengkhawatirkan pria yang berstatus suaminya. Terus berjalan hingga tak terasa tiba didepan kamar, Ia langsung memegang knop pintu dan membuka kamar dengan tak sabaran.


" panas sekali."


Pikiran serta tubuh sudah dikendalikan oleh minuman, Hily langsung melepas semua pakaiannya saat berada didalam kamar seorang diri. Hanya menyisahkan pakaian dalam, Ia langsung berjalan kearah bathroom.


Rasa sakit dikepala seolah menusuk-nusuk, entah berapa banyak red wine yang sudah diminumnya hingga tak bisa lagi memakai akal sehatnya. Tanpa menutup pintu bathroom, Hily mengguyur tubuhnya yang hanya dibalut pakaian dalam— dibawah air shower.


Tak ada rasa dingin yang terasa, namun Hily merasa jauh lebih baik setelah mengguyur tubuhnya yang terasa panas dengan air dingin. Menikmati sejuknya air dingin, Hily pun memejamkan mata dengan tujuan merilekskan pikirannya.


Tanpa disadari, rupanya Harley baru saja pulang dari kantor. Harley yang baru masuk kedalam kamar, mengedarkan pandangannya— mencari sosok istri cantiknya yang tidak terlihat.


Namun, samar-samar dirinya mendengar suara percikan air dan juga pintu bathroom yang tidak tertutup membuat Harley tertarik melihat kedalam sana.


Melangkah dengan perlahan, Harley memasuki bathroom yang tidak ditutup. Berada didalam sana, Ia dapat melihat jelas wanitanya yang menikmati sejuknya air dingin dari shower.


Tapi masalahnya bukan itu, melainkan bagaimana tampilan Hily yang langsung membangunkan adik kecil Harley dibawah sana.


Menelan salivanya berulang kali, Harley berusaha menahan diri— mengontrol hati agar tidak berbuat hal gila.


" kenapa kau mandi seperti ini." Harley tak banyak bicara dan hendak membawa Hily keluar.


" kenapa kau mematikan airnya." Hily menolak dibawa keluar dari bathroom dan malah merajuk karena Harley tiba-tiba datang mengganggunya.


Disaat Hily bersuara, Harley pun baru menyadari bahwa istrinya sudah mengonsumsi minuman beralkohol.


" Ayo, keluar. Kau harus mengganti pakaian supaya tidak masuk angin." ucap Harley dengan lembut.


Hily lagi-lagi menolak dan malah memeluk suaminya. Sontak saja Harley tercenung pada perlakuan Hily yang begitu mendadak.


" Ley.." panggil Hily dengan suara lemah.


Harley masih terdiam. Ia merasa suasana tiba-tiba tenang dan sunyi.


" Arya menyimpan wanita lain dihatinya, dan dia mengatakan masih menunggu wanita itu." lanjut Hily sembari menelusupkan wajahnya pada dada bidang sang suami.


" tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah.. aku baru menyadari kalau hatiku tidak padanya. Seperti hatiku milik seseorang" ucap Hily dengan suara yang pelan.


Harley hanya diam mendengarkan penuturan istrinya yang masih memeluknya dengan erat.


" aku takut ditinggalkan Arya, tapi kenapa aku merasa hal ini pernah terjadi sebelumnya tapi dengan orang yang berbeda. Aku bingung, kenapa hatiku seperti ini. Hiks.. hiks.."


Tanpa sadar Hily terisak setelah menyelesaikan perkataannya. Pelukannya pun semakin dieratkan— seolah enggan melepas diri dari suaminya.