You My Destiny

You My Destiny
Episode. 62 ~Bagian 2



Dipenghujung malam yang begitu tenang. Angin berhembus dari luar, melewati celah - celah jendela kamar Hily.


Ibu muda itu tak tidur dan tengah bersandar di headboard sembari menyembunyikan diri dibalik selimut tebal, Hily terisak pilu. Dadanya kian terasa sesak hingga tak mampu lagi berbicara.


Arya yang sejak tadi berpura-pura tidur, kini perlahan bangun dan memeluk wanita yang disayangnya.


Hiks.. hiks.. hiks..


Tangisan Hily semakin pecah. Suara tangisnya terdengar sangat menyayat hati. Seolah duka yang dialaminya adalah sebuah belati yang menancam di dada.


" Aku.. hiks..hiks.. aku merindukannya."


Tubuh bergetar hebat dan Hily masih berusaha berbicara ditengah keterpurukannya. Arya semakin mengeratkan pelukannya tanpa menyingkap selimut yang menutupi seluruh tubuh wanitanya.


Keduanya kembali berkabung dalam kesedihan saat teringat kejadian yang menimpa Harley tujuh tahun lalu.


" Aku merindukan suamiku. Apa dia sungguh sudah berada diatas sana?" ucap Hily dengan suara parau imbas dari tangisnya yang berlebihan.


" Aku tidak tau dimana sebenarnya dia, tapi yakinlah satu hal bahwa Harley selalu berada didalam hatimu." tutur Arya pelan.


" Aku merindukannya. Sampai rasanya aku ingin mati." Hily kembali mengulangi kalimat yang sama dengan nada yang begitu pilu.




Disatu sisi, disebuah hunian yang mewah dan terkesan elegant— tampak pria dewasa yang tengah menghabiskan malamnya dengan duduk diatas lantai sembari meratapi sesuatu yang membuatnya begitu sakit hati.


" Kau belum tidur?" terdengar suara wanita dari belakang Harley.


Zaskiah Safran atau biasa disapa Zaskiah— nama wanita yang tua lima tahun dari Harley, perlahan mendekat dan duduk dilantai— menemani Harley.


" Aku melihatnya hari ini. Setelah enam tahun aku melihatnya dari jauh, akhirnya hari ini aku melihatnya dari jarak yang sangat dekat." ujar Harley dengan pandangan kosong— lurus kedepan.


" Dia mengenalimu?" tanya Zaskiah


" Tidak. Jika dia mengenali aku, pasti dia akan menyebut namaku. Tapi kurasa dia sudah lupa pada pria sepertiku yang sudah membuatnya terluka. Aku bahagia karena dia menikah dengan sahabat kami sendiri. Bahkan mereka sudah punya anak." tutur Harley tersenyum getir.


Zaskiah menghela nafas.


" Kau tau.. pengadilan tidak akan menyimpulkan tersangka sebagai pelaku jika belum mengetahui duduk perkara sebenarnya. Jadi cobalah berfikir, sebaiknya jangan menyimpulkan dia bahagia atau tidak jika hanya melihatnya dari jauh. Kau harus mendekati dia dan mencari tau tentang hidupnya selama tujuh tahun ini. Karena bisa jadi dia tertawa dan tersenyum untuk menutupi lukanya." terang Zaskiah panjang lebar.


" Aku terlalu malu untuk mendekatinya karena sekarang dia sudah bahagia." Harley tersenyum.


" Tapi kau tau, sahabatku Arya menepati janjinya. Dia menjaga Hily dengan baik." tambahnya dengan nada antusias.


Zaskiah tak merespon dan hanya terdiam. Melihat sikap Zaskiah, Harley pun menyadari bahwa wanita disampingnya menginginkan hal lain.


" Tadi putrimu datang. Dia memanggilku Ayah dan membawaku pergi jauh dari Hily. Menurutmu, apakah dia sungguh mengira bahwa Zara adalah anakku?" Harley menanti jawaban wanita dewasa disampingnya.


" Bukan mengira, tapi dia cukup yakin bahwa kau bukan Harley. Pikirlah, Harley yang dikenalnya tidak akan mungkin memiliki anak gadis sebesar Zara." balas Zaskiah dengan wajah datar.


" Kau harus pergi, jangan bersembunyi disarangku. Ingatlah, aku menyelamatkanmu tidak gratis, kau harus membayarnya dengan cara mencapai kebahagiaanmu sendiri. Coba datang padanya dan cari tau bagaimana hidupnya tanpamu." tambahnya meraih tangan kekar Harley dan menggenggam erat, seolah memberikan sebuah dukungan.