You My Destiny

You My Destiny
Episode. 18



Waktu berlalu terasa begitu lambat, bagi Hily yang masih berkutat dengan tumpukan berkas dimejanya. Pukul tujuh malam, namun Ia belum juga menunjukkan tanda-tanda kepulangannya.


" sialan Arya, ku gaji banyak tapi tega sekali bikin Aku sengsara." gerutu Hily dengan kesal. Batinnya sejak tadi mengumpat terus pada pria gagah yang bertakhta sebagai asistennya.


" jika mau mengumpat silahkan, tapi jangan menyinggung gajiku." ucap Arya yang tiba-tiba datang.


Kesibukan Hily pada berkas serta mengumpat pada Arya, membuatnya tak mendengar derap langkah asistennya itu.


" Apa Aku mengatai dirimu?" tanya Hily berpura-pura bodoh. Wajahnya terus menunduk pada berkas, tak berani menatap Arya yang berdiri tegap dihadapannya.


" ck, ck, ck. Aku merasa sedang berbicara pada nenek yang sudah pikun." celetuk Arya dengan kesal.


Mendengar perkataan Arya, sontak saja Hily beralih menatap kesal pada asisten tampannya. Merasa harga dirinya sebagai wanita muda diremehkan oleh sahabatnya sendiri.


" Kau.."


" sudahlah, tidak baik marah-marah. Lebih baik sekarang berdiri dan kita pergi rayakan ulang tahun mu."


Ucapan Arya memotong perkataan Hily yang hendak mengatakan sesuatu.


Mata Hily seketika berbinar, Ia sungguh tidak menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Namun, wajah itu kembali sendu kala mengingat Harley yang sama sekali tak mengingat hari bahagianya.


Melihat raut wajah sahabat, tentu Arya sudah tau apa yang dipikirkan wanita cantik dihadapannya. Seolah tak mengerti, Arya segera menarik tangan sahabatnya lalu segera meninggalkan ruangan. Tujuannya tak lain adalah menghabiskan waktu dan menghibur Hily yang sudah pasti sedih.


****


Waktu berlalu dengan cepat, hingga kini empat jam sudah terlewati. Pulang bersama Arya, seperti biasa Hily tak mabuk lagi. Ia tentu bukan istri pembangkang yang tidak menuruti perintah suaminya. Ia mengingat, saat dimana Harley melarangnya untuk tidak mabuk.


Setelah memarkirkan mobil pada tempatnya, Hily segera keluar dari mobilnya. Berjalan lesu memasuki mansion Murray, Ia sungguh masih memikirkan bagaimana bisa Harley yang notabene nya adalah sahabat sekaligus suami, tak mengingat hari ulang tahunnya.


" kau, kukira kau sudah tidur." ucap Hily dengan senyum manisnya.


" Aku hanya ingin mengatakan sesuatu." jawab Harley, mengalihkan arah pembicaraan.


Mendengar hal itu, membuat senyum Hily semakin merekah. Ia berfikir bahwa Harley mungkin saja akan mengucapkan selamat ulang tahun.


" katakanlah." ucapnya dengan penuh harap. Kedua matanya sudah menyiratkan kebahagiaan, menanti sesuatu yang akan di katakan suaminya.


" Aku mungkin akan memberitahu pada Daddy dan Mommy jika kau mengulanginya." ucap Harley dengan tegas.


Mengerutkan keningnya, Hily menautkan kedua alisnya karena bingung pada arah pembicaraan suaminya.


" Hari ini, kau sudah melakukan hal yang menjijikkan. Aku bahkan tidak menyangka, kenapa kau bisa berubah seperti ini. Kau menyuruh seseorang untuk menakuti Aana."


Deg.


Bagaikan disambar petir, dada Hily terasa begitu sakit saat mendengar penuturan suaminya. Meski masih dalam kebingungan, namun Ia sudah merasakan sakit kala suara sang suami begitu tegas dan tajam.


" apa maksudmu?" tanya Hily dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


" Kau menyuruh seseorang untuk mencelakai Aana. Kau tau, Aana bukan orang lain. Dia saudari mu, walau bukan saudari kandung tapi dia selalu menemanimu." cercah Harley dengan kasar pada Hily yang kini mematung seketika.




Bersambung....