You My Destiny

You My Destiny
Episode. 35



Didalam ruangannya, Hily langsung berlari kedekat jendela kaca yang begitu besar dan lebar. Ia terkagum-kagum karena dari ruang kerjanya bahkan bisa melihat pemandangan kota dibawah sana.


" kau sudah baikan adik?" suara wanita dewasa menyapa Hily— membuat siempunya ruangan menoleh.


Menautkan kedua alis matanya, Hily tampak berfikir siapa wanita cantik didepannya.


" kau lupa ingatan, jadi tidak bisa mengingat kakakmu sendiri." tutur wanita cantik itu yang tak lain adalah Hana.


Hily terdiam sesaat. Selang beberapa detik, Ia langsung mendekat dan memeluk Hana.


" ternyata aku punya Kakak."


Hily menitikkan air matanya dan mengeratkan pelukannya pada Hana yang diketahui sebagai Kakaknya.


" kenapa Kakak tidak menjengukku waktu dirumah sakit." tanya Hily setelah mengurai pelukannya.


Hana tak menyahuti pertanyaan adiknya, tapi tangannya dengan lembut membelai rambut hitam pekat Hily.


" itu karena.. Kakak baru pulang dari luar kota." Hana tersenyum tipis.


Sedangkan Hily, wanita muda itu mengangguk percaya dan kembali memeluk Hana.


sangat disayangkan.. karena ingatanmu akan membawamu dalam kematian.


Hana menyeringai dibalik pelukan penuh kasih Hily.


Mengurai pelukannya, Hana menatap wajah wanita muda didepannya hingga tak lama Ia merogoh tasnya— mencari sesuatu yang hendak diberikan pada Hily.


" aku punya obat.. ini suplemen vitamin untuk membuat ingatanmu cepat pulih." ujar Hana kemudian dengan memberikan sebotol kecil obat.


Hily yang tidak tau menahu menerimanya dengan sumringah.


" Kakak perhatian sekali. Terima kasih." Hily kembali memeluk Hana dengan bahagia.


" jangan memberitahu pada Harley dan yang lainnya, oke. Kau tau.. mereka semua sebenarnya tidak suka jika ingatanmu kembali, tapi Kakak peduli itu sebabnya Kakak ingin mengembalikan ingatanmu." ucap Hana.


" rajinnya minum obatmu, agar ingatanmu tidak pernah kembali. Setelah itu.. kau akan lebih muda menemui ajalmu." gumam Hana menyeringai.


***


Waktu bergulir cepat dan kini hari sudah malam. Dijemput oleh Arya, tentu saja Hily kembali diantar oleh pria gagah itu.


" Terima kasih Arya sudah mengantarku. Besok.. aku akan bersama sopir pribadi, jadi tidak perlu jemput-antar aku lagi." Hily menampilkan senyum terbaiknya yang kemudian dibalas oleh Arya.


" baiklah. Masuk dan segeralah istirahat." ujar Arya.


Hily mengangguk pelan dan segera berlalu. Pandangan Arya masih berfokus pada wanita cantiknya hingga tak lama menghilang dibalik pintu utama mansion.


Hendak kembali kedalam mobil, langkah Arya terhenti saat tiba-tiba Harley yang entah dari mana dan sejak kapan berada diluar— mendadak menghampiri dirinya.


Arya terdiam menatap intens wajah Harley yang redup, namun anehnya Harley tetap menampilkan senyum yang seolah tertahan karena sebuah rasa sakit.


" selamat.. kau memenangkan hatinya." ucap Harley dengan lemah


Arya mengernyit dalam diamnya.


" aku tau... kau menyukai Hily sejak kecil. Aku bisa melihat bagaimana caramu memandang dia saat kita selalu bermain bersama di taman." jeda Harley.


" saat itu aku belum menyukai Hily, tapi aku tidak suka jika ada orang lain yang menyukai Hily. Kau tau kenapa? karena.. aku tidak ingin kehilangan dia sejak kecil. Itu sebabnya aku menutup mata dan memilih berpura-pura tidak tau perasaanmu. Tapi aku senang.. karena pada akhirnya kau menjaga jarak dari kami." lanjut Harley tersenyum kecut.


Arya masih bungkam dan masih mendengarkan penuturan Harley.


" tapi.. setelah kau menjauh aku menyadari bahwa diriku tidak lebih baik dari seorang pecundang yang egois. Aku memilih cinta daripada persahabatan. Perlahan aku menyadari.. bahwa aku telah kehilangan sahabat sepertimu."


Harley kembali berbicara, dan melangkah lebih dekat pada sahabatnya. Ia menepuk pelan bahu Arya sambil memperlihatkan senyum ketirnya.


" dulu.. kau selalu mendukungku dan melakukan cara apapun agar aku menang bermain bola, bermain basket, dan bahkan memenangkan juara dikelas. Kau bahkan lebih memilih kedinginan disaat hujan, dan meminjamkan aku jaket tebal pemberian mendiang Ibumu." ucap Harley lagi yang tanpa terasa meneteskan air mata.


Ada getaran dihati Arya setelah mendengar semua ucapan Harley, meski begitu Ia tetap memilih tak menyahut dan membiarkan Harley untuk terus mengeluarkan isi hati terdalam.


" Dan kini aku sadar, sahabat yang selalu membuat aku menang— pada akhirnya mengalahkan aku. Tapi aku berjanji, bulan depan... aku akan mengembalikan Hily padamu. Dia bahagia mencintaimu dan sebaliknya, dia merasa tersiksa dan sangat menderita selama mencintaiku ataupun hidup bersamaku." tutur Harley lagi.


Hening.


Baik Arya maupun Harley— kedua pemuda tampan itu tidak bicara hingga tak lama Harley memilih berlalu masuk kedalam mansion.


Sementara Arya— Ia masih terdiam. Bukan karena dirinya tidak menganggap persahabatan yang pernah dijalani bersama Harley karena sejujurnya jauh didalam lubuk hati Ia masih menganggap Harley dan Harvey serta Hily sebagai sahabatnya.


Aku tidak mengalahkanmu, aku hanya memberikan sedikit saja waktu pada hatiku untuk mencetak banyak kenangan bersama Hily sebelum aku benar-benar pergi jauh.


Sebelum masuk kedalam mobilnya, Arya masih menyempatkan mengukir senyum tipisnya.