
Tanpa sadar, perlahan Arya menangkup wajah cantik Hily hingga keduanya saling beradu pandang. Pandangan yang amat teduh dan seolah mencerminkan sejuta kasih sayang untuk satu sama lain.
" aku tidak meninggalkanmu." Arya tersenyum tipis seraya mengelus lembut pipi Hily dengan ibu jarinya.
" aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jika ternyata jodohmu memang Harley, maka aku akan menganggap hubungan kita adalah sebuah takdir." lanjutnya yang masih tersenyum.
Sontak Hily memeluk Arya dengan erat— seakan takut kehilangan sosok pria tampan yang sudah membuatnya merasa nyaman selama ini.
***
Hari sudah malam dan kini Hily baru saja meninggalkan perusahaannya bersama sang supir yang senantiasa mengantarnya kemanapun.
Sepanjang perjalanan yang dilalui, pandangan Hily hanya terarah keluar jendela. Senyum tersungging saat mengingat dirinya yang harus berpisah arah dengan Arya saat jam kerja selesai.
" ada apa denganku? Kenapa aku seperti pernah mengalami hal yang sama?" lirih Hily dengan suara yang hampir tak terdengar.
Drt. Drt. Drt.
Seketika dering ponsel didalam tas membuat Hily tersadar dari lamunannya. Ia dengan segera merogoh tas, lalu menjawab panggilan telfon yang ternyata dari Mom Ayu.
" Mom, ada apa?" tanya Hily saat panggilan sudah terhubung.
" Sayang, maaf.. Mom sama Dad harus berangkat ke Amerika malam ini. Uncle Tony barusan mengabari, katanya Aunty Jeny sakit." tutur Mom Ayu diseberang sana.
Hily terdiam sesaat. Bagaimana tidak, Ia bingung harus menanggapi apa karena Uncle dan Aunty yang tadi disebutkan Mom Ayu— sama sekali tak dikenal.
" titip salamku untuk mereka Mom.. dan hati-hati diperjalanan." balas Hily kemudian, setelah terdiam beberapa saat.
" oh, baiklah Sayang. Jangan pulang larut malam dan Mom harus tutup telfonnya karena sekarang Mom sama Daddy ada di bandara." ucap Mom Ayu, lalu memutus panggilan telfonnya.
Hily menghela nafas— merasa tidak enak pada Mom Ayu karena berstatus menantu dikeluarga Murray, namun tidak mengenal siapapun.
" baik, Nyonya." sang supir dengan sigap mengiyakan perintah majikannya.
***
Tak terasa tiba ditempat tujuan, Hily segera keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam bar. Ia mendekat pada para bartender dan memesan minuman yang paling mahal.
" Nona, minumlah dengan perlahan karena ini sangat memabukkan." Pria bartender memberi peringatan pada Hily dengan cara yang sopan.
" lalu kenapa? Aku biasa meminumnya lebih banyak lagi" celetuk Hily dengan santai.
Namun sesaat dirinya tersadar dan menautkan kedua alisnya.
" biasa? Kenapa jawabanku seperti itu? Apa aku biasa meminum alkohol?"
Berbagai pertanyaan mengambang dikepala Hily. Merasa ada yang janggal dalam ingatannya. Tak mau menambah beban pikiran, Ia pun segera menuang red wine kedalam gelas lalu meneguknya sampai tandas.
Pria muda yang notabene adalah bartender yang melayani Hily, hanya menggeleng pelan melihat wanita cantik seperti Hily yang begitu nyaman menikmati sebotol wine dengan kadar alkohol yang tinggi.
" Nona, apakah kau punya masalah?" Pria muda itu menanyai Hily yang mulai dikendalikan oleh minuman beralkohol.
" Tidak, aku tidak ada masalah." jawab Hily dan kembali meneguk wine.
" Aku hanya takut ditinggalkan. Rasa takutku seperti.. seperti rasa takut yang pernah kurasakan." lanjut Hily dengan nada suara yang amat sedih.
Pria muda itu menyunggingkan senyum tipis sembari mengamati Hily.
" Rasa takut itu.. sebenarnya hanya sebuah benalu dalam diri kita yang berarti harus dibuang agar bisa menambah kekokohan hati. Dan kehilangan.. memang sangat sakit seperti sebuah sayatan belati. Butuh waktu lama untuk menghilangkan rasa sakit kehilangan itu, tapi percayalah.. perlahan pasti semua akan kembali baik-baik saja." tutur pria muda itu.
Hily terdiam tak menyahut sama sekali, tetapi otaknya mencerna semua ucapan yang baru didengarnya.