
Diperjalanan menuju rumah sakit internasional, Harley dengan perasaan yang amat kalut hanya mampu berdoa untuk keselamatan Hily.
Bahkan, deringan ponsel disaku celana, tak juga menarik perhatiannya dari kemudi. Hatinya kosong dan yang dirasakan sekarang hanya rasa bersalah pada wanita yang sudah Ia sakiti beberapa bulan belakangan.
Namun, meski begitu- dering ponsel itu tak berhenti hingga membuat Harley mau tak mau menjawab panggilan yang entah dari siapa.
" Harley, kau dimana? Daddy dan Mommy baru saja kembali dari Amerika dan mereka mencarimu dan Hily. Kau tidak ada dimansion dan dihubungi juga sibuk jadi, Mommy mendesakku untuk terus menelfonmu."
Saudari kembar Harley diseberang telfon langsung menghujani dengan serentetan kalimat bernada khawatir. Harvey, kakak Harley- terdengar begitu getir.
" Aku menuju rumah sakit internasional."
Harley hanya menjawab sekenanya. Pikiran dan hati kini tidak lagi menyatu. Lumuran darah ditubuh Hily beberapa saat lalu, masih terasa menakutkan bagi Harley.
" Apa?" Jeda sesaat, sebelum Harvey diseberang sana kembali berbicara.
" siapa dan kenapa?" Sebuah kata tak beraturan diluncurkan Harvey dan bersamaan dari itu, sambungan telfon terputus.
Harley memutus panggilan sepihak karena rasa syok masih menghuni raganya. Masih dengan perasaan getir, Harley kini sudah tiba di tempat tujuannya.
Keluar dari mobilnya dan berlari masuk kedalam rumah sakit, hati Harley diselimuti rasa takut yang mendominasi kekhawatiran.
Berjalan linglung sepanjang koridor rumah sakit, Harley tak paham pada langkah kakinya yang tak menentu arah sampai seseorang memanggilnya barulah Ia tersadar.
" Tuan Harley, istrimu kami tangani. Dua menit lagi kami akan melakukan operasi karena pasien mengalami luka dalam juga."
Penjelasan sang dokter pria dihadapan Harley, membuat Harley seketika mematung. Terdiam beberapa saat, sebelum memberi tanggapannya pada dokter.
" usahakan yang terbaik." Harley tak banyak bicara karena hatinya kacau.
Sepeninggalan dokter, Harley langsung terduduk dibangku rumah sakit. Pandangan kosong, menatap lurus kedepan. Tampilan acakan serta darah yang melekat pada pakaiannya, tak dihiraukan sama sekali.
Harley merenung atas semua kejadian yang dialaminya secara bersamaan. Pikirannya menerawang pada saat dimana Ia bersikap kasar pada Hily, hingga lagi-lagi rasa bersalah itu menghantuinya.
" kau menyesal atau merasa bersalah?" Terdengar suara yang begitu dingin dari seorang pria yang kini duduk disamping Harley.
Menoleh kesamping, Harley terkejut saat mendapati Daddy dan Mommy serta Kakak dan Iparnya yang juga datang.
" ck, ck, ck. Kau payah sekali, menyesalnya baru sekarang." celetuk Harvey, berdecak kesal pada adiknya.
Harley tak menanggapi, Ia menyeka air matanya.
" kenapa Daddy dan Mommy mendadak pulang." Berkata dengan suara serak, Harley berusaha menetralkan perasaannya.
" saat mendengar kau menampar Hily." ucapan dingin Dad Ben, membungkam mulut Harley.
Tersenyum kecut, Harley menoleh pada Daddynya " ternyata Daddy ku tidak berubah. Masih perhatian dan sangat peduli pada anak-anaknya. Sampai setiap kejadian dapat diketahui."
Berbicara dengan wajah sendu, Harley segera menunduk tak berdaya. Ia tak sanggup menatap wajah Daddynya. Terlihat jelas diwajah sang Daddy, kekecewaan mendalam yang membuat Harley semakin merasa bersalah.
" lalu, bagaimana keadaan Hily sekarang."
Lama terdiam dengan linangan air mata, Mom Ayu bertanya pada putra keduanya yang tampak gusar.
Suara lembut dan menenangkan, Harley mendongak, menatap wanita paruh baya yang berdiri didepannya. Wajah yang masih terlihat cantik meski diusianya yang tak muda lagi.
Berdiri dari duduknya, Harley memeluk Mom Ayu dan menangis tersedu-sedu.
" Mom, Aku salah." Hanya tiga kata yang mampu diucapkan Harley dalam tangisnya.
Merasakan kesedihan putranya, Mom Ayu membalas pelukan Harley. Ia menenangkan putra keduanya yang tampak terguncang.
" kau tidak salah, ini hanya kesalahpahaman. Kau keliru selama ini, nak." Mom Ayu, berkata dengan sangat lembut.