
Senyuman Hily semakin melebar saat dari jauh Ia melihat Arya yang hendak masuk kedalam kedalam lift. Hily mempercepat langkah kakinya agar bisa menyapa prianya sebelum masuk kedalam lift. Namun sesuatu tak terduga telah terjadi, dari arah samping Arya, sesosok wanita cantik yang tak asing tiba - tiba memeluk erat Arya.
Langkah kaki Hily tertahan, tubuhnya pun mendadak kaku hingga seketika Ia mematung ditempat. Tidak berani dirinya mendekat terlebih lagi setelah menajamkan penglihatannya dan melihat jelas siapa wanita itu.
" Kak Hana." lirihnya yang mulai merasa sesak.
Hily hengkang perlahan, namun seketika Ia terkejut saat seseorang meraih tangannya hingga Hily berbalik menyembunyikan wajah pada dada bidang orang itu.
" Jangan dilihat." ucap orang itu yang ternyata adalah Harley.
Hily terkesiap, tapi suasana hatinya mendadak hangat saat menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh sang suami. Rasa aman dan nyaman terasa sangat familiar, apalagi aroma parfum yang khas seakan mengusik memori otaknya.
Harley mengusap lembut punggung istrinya, berusaha menenangkan wanitanya. Dirinya juga tak lagi memperdulikan tatapan semua pegawai yang terus melihatnya. Semua pasang mata kini menyorotnya dengan berbagai pujian.
" Romantis sekali mereka."
" Dia laki - laki limited edition, berani mengungkap rasa sayang didepan umum."
" Wah, suami Bu CEO gagah ya."
" Tentu saja, kalau tidak salah suaminya dari keluarga Murray.. keluarga konglomerat atas."
Sepersekian detik setelahnya, Harley segera membawa Hily keluar dari kantor. Sepanjang Harley melangkah, Ia terus merangkul istrinya hingga tiba diluar kantor.
Menuntun sang istri duduk dibangku yang tak jauh dari kantor, Harley pun lalu menangkup wajah wanitanya dan menyerangnya dengan tatapan teduh.
" Aku melepaskanmu untuk berbahagia, bukan untuk bersedih. Jadi jangan menangis karena hal tadi." ucap Harley tersenyum.
Hily mengangguk.
" Kenapa kau kesini?" tanya Hily melirik sekilas pada paperbag mini ditangan suaminya.
" Ah, aku ingin memberikan sesuatu." Harley segera mengeluarkan kalung itu dari dalam paperbag.
Hily mengulum senyuman saat melihat kalung dihadapannya. Kedua manik matanya berbinar saat mengamati kalung itu yang tampak berkilau karena batu permata.
" Indah." ujar Hily.
" Humm, pegawai toko juga memujinya." Harley tersenyum.
Tanpa aba - aba, Ia pun menyingkap rambut hitam istrinya dan membantu memasangkan kalung itu.
" Lihat, kau semakin cantik." puji Harley membuat wanitanya kegirangan hingga lupa pada sakit hati yang tadi mendera.
" Teruslah tersenyum seperti ini." seru Harley.
Hily seketik terdiam sembari menatap dalam manik mata suaminya.
" Ah, A.. Aku masuk dulu." ucap Hily terbata - bata. Ia pun segera beranjak dan perlahan menjauh dari suaminya.
" Hily." panggil Harley menghentikan langkah istrinya.
Hily berbalik dan memandang suaminya dari jarak dua meter. Ia kini tengah menanti apa yang hendak dikatakan suaminya, namun justru Harley malah melangkah mendekatinya.
" Cobalah ingat aku lagi, aku tidak ingin berpisah secepat ini." ujar Harley lalu merengkuh pinggang ramping Hily dengan tiba - tiba. Ia melabuhkan kecupan ringan dibibir mungil istrinya lalu beralih pada kening.
" Jaga kalungnya, dan cobalah ingat aku lagi." tambahnya membuat Hily bungkam.
Setelah membuat Hily diam tercenung, Harley segera berlalu pergi— meninggalkan istrinya yang terkejut karena tindakan yang begitu tiba - tiba.
***
Didalam ruangan CEO, Hily kini tengah memeriksa beberapa berkas diatas mejanya. Ia terlihat begitu fokus, namun siapa sangka bahwa pikirannya ternyata tak berpusat pada pekerjaan— melainkan pada Arya dan juga Hana.