You My Destiny

You My Destiny
Episode. 22



Perusahaan JJ Group.


Berusaha berjalan dengan anggun memasuki perusahaan miliknya, Hily sungguh merasa tak tahan lagi bersikap layaknya seorang wanita feminim. Bagaimana tidak, kesehariannya selama ini hanya dihabiskan sebagai wanita tomboy yang tak menunjukkan sisin kewanitaannya.


" Aku sungguy tidak bisa berjalan dengan hils ini. Padahal hilsnya cuman tiga senti." gerutu Hily dalam hati.


Meski Ia tak bisa berjalan sempurna Hily tetap berusaha terlihat baik-baik saja dengan mengenakan hils hitam yang membalut kaki putih dan mulusnya.


Namun, tetap saja. Hily sungguh tak bisa berjalan dengan baik hingga Ia nyaris terjatuh.


Sebuah tangan kekar meraih tubuh rampingnya saat Ia terhuyung. Hily terdiam sesaat dan menatap nanar pada wajah pria gagah yang telah menolongnya hingga tidak malu di hadapan karyawan yang terus menatapnya.


" jika kau tidak bisa, jangan dipaksa. Ini bukan style mu. Sepatu lebih indah dikakimu." bisik Arya lalu melepaskan tubuh Hily.


Jantung Arya berdebar saat Ia memperhatikan wajah Hily dengaj seksama. Wajah yang terlihat cantik meski tak menyentuh makeup kini terlihat lebih sempurna dengan polesan makeup tipis.


" kau itu sama saja dengan Harley, sama-sama tidak bisa memujiku." celetuk Hily dengan bibir yang mengerucut tajam.


Ia segera berlalu namun, seketika terbersit tanda tanya dihati saat Ia mengingat Aana yang tadi pagi ditemuinya di mansion.


Dengan segera Hily kembali menghampiri Arya yang hendak menyusulnya.


" Aku ingin mengatakan sesuatu." ucap Hily dengan wajah sungguh-sungguh.


Arya pun mengangguk dan mempersilahkan Hily berbicara.


" kau ingat tidak, saat kita berusia delapan tahun. Saat itu kurasa kau ada dirumahku. Saat kecil kau pasti ingat kita bertiga bermain di taman dan Aku tidak sengaja melihat tanda lahir di bawah leher Aana. Tapi, Aku heran karena tadi tanda lahir itu tidak ada." terang Hily, mengingat kejadian lima belas tahun lalu.


" kau serius?" tanya Arya sembari menatap penuh harap Hily.


" Iya. Tadi pagi dia menemui Harley dan memakai baju dress sabrina. Aku lihat persis dibawah lehernya dia tidak punya tanda lahir itu. Padahal itu tanda lahir yang tidak bisa hilang." ucap Hily lagi, masih dengan tanda tanya yang meliputi kepalanya.


" apa Harley tau tanda lahir itu?"


Hily dibuat terheran-heran atas perkara tanda lahir Aana. Dihatinya, Ia merasakan sesuatu yang aneh.


" sudahlah, sebaiknya kau siap-siap. Ada rapat pagi ini. Oh iya, kau tampak cantik. Tetaplah seperti ini." ucap Arya tersenyum tipis dan segera berlalu.


Mendengar perkataan Arya, pipi Hily kini merah merona. Baginya, pujian Arya sangatlah berarti sebab Ia menganggap sahabatnya itu punya kesamaan dengan Harley.


****


Disatu sisi, tampak Harley kini tengah mengambil alih kemudinya sembari menggenggam erat tangan Aana yang juga berada disampingnya.


" sayang, nanti malam ikutlah bersamaku. Aku ingin menunjukkan sesuatu." ucap Harley dengan senyum yang sejak tadi menghiasi wajah tampannya.


" kemana kita akan pergi?" tanya Aana merasa penasaran pada kejutan kekasihnya.


" nanti kau akan tau. Oh iya, pakailah gaun yang ku hadiahkan saat ulang tahunku waktu itu."


" gaun? Kapan kau memberikannya?" Aana merasa bingung pada ucapan Harley dan sebaliknya, Harley jauh lebih kebingungan pada perkataan Aana yang seolah menggambarkan bahwa dirinya tak pernah memberi gaun pada Aana.


" kau tidak tau atau kau lupa? Ulang tahunku tahun lalu Aku memberimu gaunkan." ucap Harley dengan nada santai.


Aana yang baru teringat akan sesuatu kini tersentak. Lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu. Ia terdiam beberapa saat, mencoba mencari alasan yang tepat.


" oh, gaun itu. Aku baru ingat, kurasa Aku meninggalkannya di desa Bandung. Aku sungguh minta maaf." tutur Aana dengan lembut.


Wajahnya dibuat sesedih mungkin untuk meyakinkan Harley agar tak curiga pada identitas aslinya.




BERSAMBUNG....