
Melajukan mobilnya ditengah malam yang pekat, Harley sungguh merasa tak percaya pada kenyataan yang sebenarnya. Ingin rasanya Ia berteriak atas rasa sakit yang diciptakan wanitanya
" mungkin sakit yang kurasakan tidak jauh beda dengan yang dirasakan Hily."
Harley menyadari kesalahannya selama ini pada Hily, wanita yang selalu bersamanya selama belasan tahun. Fokusnya pun terbagi, pada kemudi dan juga masalah hatinya.
Kekalutan dihati bertambah kala Ia harus terjebak macet dimalam hari. Berusaha mengontrol suasana dihati, Harley pun memilih bersandar sembari mengusap kasar wajahnya.
Menunggu ditengah kemacetan adalah satu hal yang paling tidak disukai Harley hingga dirinya memilih memejamkan mata untuk sesaat.
Namun, kelopak mata itu terbuka saat seseorang dari arah kanannya mengetuk kaca mobilnya. Dilihatnya orang itu yang ternyata adalah Hily, Harley pun segera menurunkan kaca mobilnya.
" Hily, apa yang kau lakukan." tanya Harley menatap heran pada istrinya.
" mobilku terjebak macet didepan sana dan Aku melihatmu jadi, Aku kemari." jawab Hily dengan wajah semringah.
Sebuah senyuman manis Ia tampilkan pada sang suami hingga membuat Harley menjadi heran. Sebab, setahu Harley saat Hily dimansion, istrinya itu tak ingin melihat wajahnya.
Harley tak banyak bicara, Ia hanya mengamati wajah istrinya yang tengah tersenyum manis. Seolah wanita cantik yang berstatus istrinya itu, tak memiliki masalah dengannya.
Tatapan itu beralih saat seseorang yang kembali mengetuk kaca mobilnya dari arah yang berlawanan. Dilihatnya seseorang itu yang berpakaian seragam polisi, Harley pun segera menurunkan kaca mobilnya.
" maaf atas ketidaknyamanannya, Pak. Didepan ada kecelakaan jadi, mungkin akan macet sampai proses evakuasi selesai." Jelas sang polisi itu dengan nada sopan.
Mendengar kecelakaan, jantung Harley seketika berpacu dengan kuat. Ia menoleh kesampingnya dan benar saja, Hily sudah tidak ada.
" tidak mungkin, pasti hanya firasatku."
Tubuh Harley mendadak lemas. Pria tampan itu menerka-nerka kejadian didepan sana. Rasa penasaran pun kian bermunculan dan dengan segera Harley keluar dari mobilnya.
Berlari melewati deretan mobil yang juga terjebat macet, kini Harley sudah berada ditengah kerumunan orang-orang. Hatinya semakin ketar-ketir, Ia belum siap menerima kenyataan bila seandainya dugaannya adalah sebuah kebenaran.
Kaki yang menobang tubuh beratnya pun perlahan lemah dan tanpa sadar setetes air mata meluncur begitu saja.
Puncaknya- ketika dengan mata yang berkaca-kaca, Harley dapat melihat jelas sosok wanita yang dikenalnya baru saja dikeluarkan dari mobil yang sudah sangat hancur.
" Hily." Menyerukan nama istrinya dengan suara yang lemah, Harley tak kuasa lagi menahan gejolak dihati hingga tangis pun pecah seketika.
Berlari mendekat pada wanitanya yang terbaring lemah diatas brankar ambulans darurat, Harley berteriak histeris saat melihat jelas wajah dan tubuh Hily yang berlumur darah.
" maaf, Pak. Korban harus segera ditangani." ucap salah seorang perawat yang berdiri didekat brankar.
" Hily, apakah ini sungguh dirimu? Apa ini benar nyata?" Serentetan pertanyaan diajukan Harley pada istrinya.
Melihat bibir pucat yang terkatup rapat, membuat Harley merasa sangat hancur dan rasa bersalah itupun menghantam dadanya.
" Hily, bangunlah. Kita harus pulang dan bicara berdua. Kau tidak boleh menyelesaikan semuanya seperti ini." celoteh Harley dengan wajah yang berlinang air mata.
Dengan tubuh yang tak berdaya, Ia memeluk Hily dengan erat. Tangisnya semakin pecah saat tubuh wanitanya terasa sangat lemah.
Aakkkhhhh.
Berteriak frustasi sembari memeluk erat tubuh istrinya yang berlumur darah, Harley merasakan kehancuran yang amat dalam. Seolah yang terjadi adalah sebuah mimpi. Semua yang berada ditempat kejadian, menatap sedih pada Harley dan juga Hily.
Mengurai pelukannya, Harley memandangi wajah Hily yang berlumur darah.
" tolong, cepat bawa istriku kerumah sakit. Tangani dengan cepat, pasti dia merasa kesakitan." Harley yang tak melepaskan tatapannya pada sang istri, berbicara dengan suara yang begitu lemah.
Brankar segera dimasukkan kedalam ambulans dan dengan cepat ambulans itu melaju, meninggalkan Harley yang berdiam diri ditempat.
Dengan langkah gontai, Harley segera meninggalkan tempat dimana semula istrinya mengalami kecelakaan. Ia berlari, dan masuk kedalam mobilnya. Dengan hati yang kocar-kacir, dirinya segera menyusul sang istri yang sudah dilarikan kerumah sakit.