
Rumah sakit internasional.
Tiba di tempat– dimana Hily dirawat, Harley dengan langkah gontainya masuk kedalam rumah sakit. Ia membawa paper bag, berisikan makan siang untuk Hily bila wanitanya itu sudah sadar.
Namun, dari kejauhan Ia bisa melihat jelas sosok pria tak asing yang baru keluar dari ruang rawat Hily.
" Arya."
Menyerukan nama pria itu dengan pelan. Harley langsung menghampiri Arya.
" kenapa kau disini?" tanya Harley dengan nada tak suka.
" aku ingin menjenguk wanita yang kucintai." jawab Arya santai.
Harley termangu. Ia tidak menyangka bahwa Arya akan mengungkapkan isi hatinya disaat seperti sekarang.
" ais, dugaanku benar. Kau memang menyukai istriku." balas Harley dengan senyum tipisnya.
Arya tak menanggapi, dan Ia segera kembali ke kamar rawat Hily tanpa berucap sepatah kata untuk Harley.
Tiba diruang rawat Hily, tiba-tiba raut wajah bahagia tercetak jelas saat melihat wanita yang dicintainya sudah sadar.
Arya segera menghampiri, dan menekan tombol disamping brankar untuk memanggil dokter. Tak lama Harley juga datang, dan menghampiri istrinya.
" kau sudah sadar." seru Harley bahagia.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ia kembali melembut pada wanita yang sering disakitinya.
Hily terdiam. Dahinya mengkerut, seolah berusaha mengingat pria yang menemaninya bercakap. Sedetik— Hily tersenyum membuat Arya dan Harley bernafas lega.
Dokter pun datang, bersama perawat yang mendampingi. Hily segera diperiksa dan dinyatakan oleh dokter bahwa kondisi fisiknya sudah lumayan membaik, namun kondisi mentalnya masih lemah.
****
" kau membutuhkan sesuatu?" tanya Arya setelah dokter pergi. Sedangkan Harley, Ia mengikut bersama dokter untuk mengetahui detail kondisi sang istri.
" tidak." Hily tersenyum.
" oh, siapa namamu? Kau sangat perhatian padaku"
Deg.
Arya sontak tertegun mendengar ucapan Hily. Posisinya masih sama, berdiri disamping brankar.
" kenapa kau diam?" suara Hily membuyarkan Arya.
" aku Arya. Aku sahabat baikmu sejak kita kecil. Apa kau tidak ingat?" seru Arya menatap intens wajah Hily.
Hily terlihat ragu dan perlahan Ia menggeleng lemah, menandakan Ia sungguh tidak mengenal sosok Arya.
" pulanglah. Aku akan menjaga istriku."
Suara berat tiba-tiba terdengar dari pria tampan— Harley. Sontak Arya dan Hily menatap kearah yang sama dimana Harley tengah berdiri diambang pintu.
Arya tampak biasa, namun Hily— wajah wanita cantik itu mendadak berubah.
" suami?" nada ucapan Hily tampak seperti tak mengetahui tentang statusnya yang sebenarnya adalah istri dari Harley.
Arya yang mendengarnya semakin yakin bahwa Hily lupa ingatan. Sementara Harley, raut wajahnya datar karena sejujurnya Ia sudah mengira hal seperti ini akan terjadi— mengingat penjelasan dokter tadi.
Mendekat pada istrinya yang terbaring diatas brankar, wajah Harley sendu. Rasa sesal pun kian menari-nari dihatinya saat menyadari istrinya sungguh amnesia.
Pandangan Hily masih pada suaminya yang sudah berdiri disamping brankarnya. Wajah yang semula selalu menatap penuh cinta kini tampak biasa saja— seolah tengah menatap sesuatu yang tidak disenangi.
Sepersekian detik Hily memalingkan wajahnya hingga pandangannya terarah pada Arya yang sejak tadi terdiam.
" Arya, aku mau makan. Bisakah kau menyuapiku." pinta Hily.
Hening.
Arya tersenyum, namun Harley justru merasakan kecewa. Ia kini sadar bagaimana rasanya diacuhkan oleh seseorang.
***
Dari celah pintu ruang rawat, Harley melihat istrinya yang begitu antusias menerima suapan dari Arya. Hati bergolak, seakan dirinya tidak menyukai hal yang terjadi didalam sana.
Tiba-tiba, seseorang menepuk bahu Harley membuat Ia menoleh seketika. Rupanya sang Kakak yang baru tiba dan entah darimana.
" kau penipu berkelas saat sekarang masih bisa mengatakan bahwa hatimu baik-baik saja melihat Hily bersama Arya." celetuk Harvey.
Harley terdiam. Tidak menolak kenyataan yang ada, namun tidak pula membenarkan apa yang memang diucapkan Kakaknya.
" Daddy dan Mommy sudah melihat hasil diagnosa Hily. Dia.. memang lupa ingatan."
Harvey kembali bersuara lalu menepuk pelan pundak adiknya. Sama seperti Harley, Ia pun turut merasa sedih atas apa yang menimpa adik kembarnya.