
Denting jam berputar cepat diporosnya hingga kini malam sudah tiba. Hily saat ini baru pulang bersama Arya.
" terima kasih untuk hari ini. Aku menikmati semuanya." seru Hily.
" baguslah, aku bahagia jika kau senang." Arya menyunggingkan senyumnya.
Hily tak banyak bicara dan segera masuk, namun Ia kembali berbalik lalu memeluk Arya tiba-tiba. Sontak saja Arya dibuat membeku ditempat.
" biarkan seperti ini.. sebentar saja." lirih Hily— membenamkan wajahnya didada bidang Arya.
Arya terdiam, tangannya masih disamping saku celana. Tak berani Ia angkat untuk menyentuh punggung Hily— membalas pelukan wanita yang disayanginya.
" maafkan aku Harley. Untuk sebentar saja.. biarkan aku memeluknya." gumam Arya.
Perlahan tangannya terangkat, lalu membalas pelukan Hily. Senyumnya pun mengembang, dan hatinya berdegup kencang. Kebahagiaan yang selama ini dinanti akhirnya menghampiri setelah penantian lama.
Tanpa disadari Arya dan Hily, sosok bertubuh kekar yang berdiri tak jauh dari keduanya— memperhatikan dengan seksama.
" baiklah, aku masuk. Good night." ucap Hily setelah mengurai pelukannya. Ia langsung masuk kedalam tanpa menoleh lagi.
Sementara Arya, senyumnya belum sirna dengan pandangan mata masih tertuju pada sosok sicantik yang sudah menghilang dibalik pintu utama kediaman Murray.
" jangan terlalu larut, Hily tidak selamanya dalam kondisi ini."
Tiba-tiba terdengar suara berat dari Harvey. Arya menoleh kebelakang dan mendapati Harvey yang tengah menatapnya dengan sorot mata penuh arti.
" aku sarankan... mulai sekarang hapus perlahan perasaanmu untuknya. Kau tau.. ini tidak benar karena Hily adalah istri Harley. Dan... bagaimanapun juga kita sahabat, walau ada jarak diantara kita." ucap Harvey dengan datar.
" maaf.."
" aku tau kau sudah lama mencintai Hily, tapi sadarlah.. dia bukan takdirmu. Ya.. saat ini kau bisa berbahagia karena Hily lupa ingatan, jadi dia memulai lembaran barunya. Tapi nanti.. dia akan kembali lagi sebagai Hily yang seperti dulu." titah Harvey.
" ingatlah, dia tidak mencintaimu. Dia hanya kehilangan ingatannya. Setelah kepingan ingatan itu menyatu, dia akan berlari memeluk Harley lagi. Jadi kumohon, siapkan dirimu saat waktu itu tiba."
Setelah berbicara panjang lebar, Harvey segera berlalu kedalam mansion. Sedangkan Arya, Ia masih berdiam diri ditempatnya.
Kau benar, Hily hanya tersesat untuk sementara. Setelah itu, dia akan menjadi seperti dulu lagi. Tapi maaf, aku mencintainya dan akan memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.
Lama terdiam ditempatnya, Arya pun memutuskan untuk segera meninggalkan mansion Murray.
***
Disatu sisi, ada Hily yang baru masuk kedalam kamarnya. Kebahagiaan saat bersama Arya masih tersisa diraut wajahnya. Saking bahagianya, Ia tidak menyadari Harley yang duduk disofa.
" kau senang bertemu dengannya?"
Suara berat itu mengagetkan Hily. Menoleh pada sumber suara, Hily terpaku mendapati suaminya yang duduk santai disofa.
" aku ingin bertanya." seru Hily dan menghampiri suaminya. Ia lalu duduk disamping pria gagah itu.
" maaf, aku hanya ingin bertanya.. Apakah saat kita menikah, kita saling mencintai atau salah satu dari kita mencintai?"
Deg.
Sebuah pertanyaan yang membuat Harley seketika bungkam. Ia tak tau harus menjawab apa, karena jika mengatakan yang sebenarnya, dirinya pun merasa tak tega bila pada akhirnya Hily kecewa.
" itu... Itu.. Kita tidak saling mencintai. Tapi.. aku mulai mencintaimu sebelum kecelakaan." dusta Harley yang tak ingin menatap pada istrinya.