You My Destiny

You My Destiny
Episode. 29



Waktu bergulir begitu cepat dan pagi pun sudah berganti siang dengan suhu matahari yang semakin naik.


Masih dengan kekesalan dihati, Harley kini mendatangi toko Aana. Menerobos masuk kedalam ruangan owner toko, Harley mendapati Aana yang tengah duduk dikursi kebesaran seraya berfokus pada layar laptop.


" selamat datang. Aku jadi bingung harus memanggilmu apa karena kemarin Aku sudah ketahuan."


Aana yang tiba-tiba berbicara dengan begitu santai semakin membuat Harley merasa kesal.


" kenapa kau melakukan ini? Apa selama ini perasaanmu hanya main-main. Lalu, apakah kau sungguh mencintaiku atau tidak?" cerocos Harley sembari menatap tajam pada Aana yang sama sekali tak bergeming.


" entahlah, tanyakan saja pada Aana."


Sebuah kalimat ringan meluncur begitu saja dari bibir Aana dan membuat Harley kebingungan.


Menautkan kedua alisnya, Harley merasa bingung pada ucapan Aana yang terdengar begitu santai.


" apa maksudmu."  tanya Harley sembari menatap Aana


" tanyakan saja pada Aana soal perasaan cinta yang kau maksud. Oh, tapi Aana tidak disini. Jadi, bertanyalah pada fotonya itu" jawab Aana sembari menunjuk foto berbingkai besar– yang terpajang tepat disampingnya.


" apa maksudmu sebenarnya? Jangan mengalihkan pembicaraan." ucap Harley yang mulai tersulut emosi.


Aana mendengar bagaimana Harley dilanda kebingungan, segera beranjak dari duduknya dan berjalan mendekat pada mantan kekasihnya.


" sepertinya kau belum mengerti, ya. Aku bukan Aana tapi Hanna. Aana sudah meninggal dan kau hanya bisa bertanya pada fotonya saja. Jadi, bertanyalah pada Aana apakah dia sungguh mencintaimu atau tidak."


Pernyataan Aana sontak membuat Harley tercengang. Pria tampan itu yang semula dikuasai amarah seketika terkejut atas apa yang didengarnya.


Beralih menatap pada foto berbingkai besar itu, Harley terdiam dengan bibir yang terkatup rapat.


" Oh, kau pasti sangat syok karena baru mengetahui tentang kekasihmu. Maaf." ucap Hanna dengan seringai licik diwajahnya.


" apa ini benar? Tapi, wajah kalian..." Harley tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia menatap nanar pada Hanna yang tampak begitu santai.


" bagaimana, ya. Kami mirip karena kami memang saudari kembar. Tapi, selama ini semua orang tidak tau dan Aku memang merahasiakannya." ucap Hanna dengan enteng dan kembali duduk dikursi kebesarannya. Diamatinya Harley yang masih berdiri mematung, Hanna tersenyum tipis.


" kau tau, Aana itu sudah mengkhianati Aku. Dulu kami berjanji bahwa jika dia diadopsi lebih dulu maka Aku akan ikut bagaimanapun caranya. Dan, benar saja. Dia diadopsi oleh Ayah Jeremy dan disitulah Aku kabur dari pantu asuhan, menjadi bayangan Aana."


Hanna menjeda, sebelum kembali berbicara.


" Tapi kau tau, Hily dan Ayah Jeremy tidak tau kalau Aku tinggal dirumahnya. Itu karena Aku bersembunyi dirumah tua, belakang rumah utama. Aku tumbuh dan besar dirumah itu lalu, saat Aku remaja– Aku menyuruh Aana meminta uang pada Ayah Jeremy untuk berlibur di Bali. Tapi, di Bali sangat indah jadi Aku memutuskan untuk tinggal lama disana." celoteh Hanna dengan santai.


Harley masih berdiam diri, Ia sungguh tercengang pada semua pernyataan Hanna yang selama ini tidak diketahuinya.


Hanna kembali menjeda sedangkan Harley, Ia masih mendengarkan ocehan Hanna.


" saat Aana pulang, Aku membunuhnya." tambahnya dengan enteng.


Harley terbelalak. Langkah kakinya mundur saat melihat seringai licik diwajah Hanna. Sekelebat ingatan terlintas, saat dimana wanita dewasa direstauran menyuruhnya untuk waspada.


" kau gila, wanita itu berkata benar." ucap Harley dengan suara tertahan.


Hahaha.


Tawa pecah dari bibir Hanna. Ia berdiri dan mendekat pada foto Aana.


" wanita dewasa yang kau bilang itu, dulu dia suruhanku. Setelah Aku menembak Aana, Aku menyuruhnya untuk membawa Aana keluar kota untuk dimakamkan. Tapi, wanita itu juga mau mengkhianati Aku jadi ku buat usahanya bangkrut sampai jadi gelandangan. Sekarang, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena semua orang melihat dia sebagai wanita gila."


Mendengar perkataan Hanna, Harley semakin merasa takut. Ia kini memahami arti dari ucapan wanita dewasa itu, bahwa Hanna bukanlah orang yang berpikiran sehat.


Hendak melangkah pergi, Harley tertahan oleh suara Hanna.


" ku dengar Hily kecelakaan. Pasti dia merasa sakit sekali. Sampaikan maafku untuknya jika masih bisa hidup karena, Aku harus melakukan itu supaya semuanya tetap aman."


Harley menoleh pada Hanna dan menatap nanar pada wajah mantan kekasihnya.


" kau yang membuatnya kecelakaan?" tanyanya dengan tatapan tajam.


" bukan. Aku hanya memberi uang pada seseorang yang membutuhkan." jawab Hanna dengan santai.


" kau benar-benar gila. Aku akan menuntutmu. Tunggulah!" Tegas Harley dan segera berlalu.


****


Sempat merasa masalahnya dengan Aana terselesaikan, Harley kembali diliputi kekalutan saat ternyata Ia mendapati kenyataan berbeda.


Ia sungguh tak mengira bahwa selama ini dirinya dibodohi.


" Aku merasa bingung, siapa yang kulihat pertama kali. Apakah Aana atau Hanna. Bagaimana jika ternyata Hanna adalah orang pertama yang kulihat." Harley bermonolog pada dirinya sendiri.


Fokusnya pada kemudi kini terbagi pada masalah baru yang diketahuinya.


Disepanjang perjalanan, Harley tengah berfikir tentang sebuah cara untuk membuktikan kejahatan Hanna.