
Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏
Vania melangkah menuruni anak tangga dengan langkah gontai dan rambut messynya. Vania mengedarkan pandangannya mencoba mencari Dave di ruang keluarga, namun tak mendapati siapapun di sana.
Mansion Dave benar-benar sangat luas, bahkan Vania belum mengelilingi Mansion ini sepenuhnya. Mansion ini benar-benar sepi, hanya ada pelayan dan pengawal.
"Ehmm... Kau melihat Dave?" tanya Vania saat melihat seorang pelayan hendak berjalan melewatinya.
"Biasanya jam segini Tuan akan berada di ruang kerjanya Nona." jawabnya sambil menunduk.
"Terimakasih. Oh iya satu lagi, apa makan siang sudah siap?" tanya Vania.
"Sebentar lagi selesai Nona."
"Baiklah, aku akan memanggil Dave untuk makan siang." ucap Vania, lalu beranjak ke lantai dua untuk mencari ruang kerja Dave.
Vania melihat sebuah pintu putih gading yang begitu menyorot matanya. Vania menebak jika pintu sebesar ini, pasti ini adalah sebuah perpustakaan. Dengan pelan Vania membuka pintu tersebut, matanya disambut dengan ruangan yang remang dengan pencahayaan minim.
"Dave kau di sini?" tanya Vania sambil meraba dinding untuk menemukan saklar lampu, namun Vania tak kunjung mendapatinya.
Dengan pelan Vania melangkah agar tak menyenggol apapun di ruangan ini. Namun sialnya, jari kelingking kakinya menabrak kaki meja, membuat ia tak kuasa menahan rasa sakit tersebut.
"Awww... Damn, siapa yang meletakkan meja ini disini? Shhh."
"Vania."
"Dave." Vania menoleh ke sumber suara dan mendapati Dave berada di belakangnya.
"Nyalakan lampunya! shhh.." beberapa detik kemudian lampu di ruangan ini menyala dengan sangat terang.
"Apa yang sakit?" tanya Dave khawatir.
"Jari kakiku." ucap Vania.
"Lagipula kenapa ruangan ini begitu gelap? Di sana ada jendela besar, kenapa kau tidak membukanya agar cahaya matahari masuk?" gerutu Vania dengan wajah cemberut.
"Aku tidak suka tempat yang begitu terang."
"Dan aku sangat tidak suka tempat gelap." tambah Vania dengan raut wajah takut. Dave tau Vania masih mengingat kejadian masa kecilnya yang begitu buruk.
"Baiklah, maafkan aku." ucap Dave sambil meraih Vania ke dalam pelukannya.
"Lagipula kenapa kau mencariku?" tanya Dave bingung, namun tak melepas pelukannya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang bersama di bawah." jawab Vania polos, namun berhasil membuat Dave tersenyum dengan begitu lebar.
"Kau ini menggemaskan sekali." Dave menatap wajah Vania yang memerah malu, lalu mengelus pipi berisi Vania.
"A.. Ayo ke bawah!" entah mengapa Vania menjadi gugup seperti ini.
"Kau ingin kugendong?" tanya Dave.
"Kau tidak malu dilihat oleh pelayan dan penjagamu?" tanya Vania balik.
"I'm the boss baby." dengan cepat Dave menggendong Vania ala bridal sampai menuju ruang makan. Para pelayan bahkan dapat mendengar gelak tawa dua insan ini saat menuruni anak tangga.
Sesungguhnya merekapun heran, bagaimana bisa mereka dekat hanya dengan waktu sesingkat ini. Ditambah, mereka sudah seperti sepasang kekasih yang tinggal bersama, bahkan mungkin terlihat lebih dari sepasang kekasih.
Para pelayan ternganga saat melihat majikan mereka tertawa lepas dengan senyum lebarnya, membuat sisi jahat Dave menghilang entah kemana dan digantikan oleh sisi romantisnya.
"Hentikan Dave!" teriak Vania, lalu menyentil bibir Dave yang menciumi wajahnya tanpa henti. Sedetik kemudian Vania tertawa lepas melihat wajah cemberut Dave yang masih menggendongnya.
"Sudah sampai, turunkan aku!" titah Vania.
"Tidak usah, kau makan saja dipangkuanku." Dave duduk di kursi yang biasa ia tempati dan meletakkan Vania dipangkuannya.
"Dave, banyak yang melihat." bisik Vania.
"Cepat suapi aku!" dengan pasrah Vania memakan makanannya sambil menyuapi Dave dari piring yang sama.
"Sekarang sedang musim panas, aku ingin berenang." ucap Vania sambil mengunyah makanannya.
"Ke pantai?" tanya Dave.
"Tidak, aku tidak suka berenang di pantai dan aku juga tidak suka berjemur. Namun aku suka melihat pemandangan sunset dan laut biru di pantai." ucap Vania.
"Baguslah, lagipula aku juga tidak suka kau berlarian di pantai hanya dengan bikini." tambah Dave yang berhasil membuat Vania melotot ke arah Dave.
"Tetapi aku suka memakai bikini saat ke pantai." sanggah Vania.
"Tidak ada bikini di pantai!" titah Dave dengan wajah dingin.
"Ah... Kau ini jahat sekali." Vania memberengut kesal dan memakan makanannya dengan ogah-ogahan.
"Dave, kau tidak ingin membelikan aku ponsel baru? Ponselku hilang entah kemana semenjak tawuran itu." tanya Vania sambil menyuapi Dave.
"Aku akan menyuruh Steve membelikanmu ponsel." jawab Dave santai. Vania berdiri sedikit untuk meraih tissue di atas meja.
"Jangan lama atau aku akan benar-benar mati kebosanan." ujar Vania sambil membersihkan sudut bibir Dave dengan tissue yang baru saja ia ambil. Sedangkan Dave menatap Vania dengan
begitu lekat tanpa berkedip karena aksi tiba-tiba Vania.
"Baby." Vania terkejut heran melihat tingkah Dave yang tiba-tiba bergumam manja, lalu memeluknya erat, membenamkan wajahnya di leher Vania dan Vania jelas merasakan hembusan nafas Dave di lehernya.
"Dave ada apa? Hei para pelayan menertawakanmu diam-diam." ucap Vania sambil menepuk lengan kekar Dave.
"Apa yang kulakukan?" tanya Vania heran.
"Jangan jauh dariku atau aku akan benar benar gila tanpamu." ucap Dave sambil mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah gadisnya.
"Dave kurasa kepalamu pernah terbentur sesuatu. Kenapa belakangan ini sikapmu begitu manis seperti ini?" tanya Vania bingung.
"Sudahlah, cepat habiskan makananmu! Aku sudah kenyang dan aku ingin berenang." ucap Vania sambil bangkit berdiri dari pangkuan Dave dan melangkah ke kamarnya.
Dave terdiam dengan wajah datarnya, pikirannya melayang mendengar kata berenang keluar dari mulut Vania.
"Apa dia berniat berenang dengan bikininya?" batin Dave. Sedetik kemudian ia bangkit berdiri, lalu berlari menaiki anak tangga dengan begitu cepat.
"BABY, JANGAN KELUAR DARI KAMARMU SEDIKITPUN!" teriak Dave yang berhasil membuat seisi rumah terkejut sekaligus terkekeh kecil.
Vania tertawa lebar saat mendengar teriakan Dave yang begitu lantang dari dalam kamarnya. Vania siap dengan bikini santainya, namun tidak terlalu terbuka.
CKLEK
Vania menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka dengan kasar dan mendapati Dave yang sedikit terengah-engah. Dave harus meneguk salivanya kasar saat melihat tubuh putih mulus Vania terpampang jelas dihadapannya.
"Dave kau harus mengetuk pintu dulu sebelum masuk!" gerutu Vania kesal sambil melangkah mendekati Dave.
"Ah... Kau memperlama." ujar Vania kesal, lalu beranjak berlalu keluar kamar.
"Tunggu, jangan bergerak!" dengan spontan Vania berhenti, lalu menatap Dave heran.
"Tunggu di sini, sebentar!" titah Dave, lalu beranjak keluar kamar dan berteriak memanggil pelayannya.
"Jangan ada satupun pria yang mendekati kolam berenang, suruh mereka berjaga di halaman depan, baik pelayan maupun penjaga! lima menit dari sekarang!" titah Dave pada kepala pelayannya. Vania yang mendengarnya hanya bisa mengernyit bingung.
"Aku hanya tak ingin mereka melihat tubuhmu." kata Dave saat ia berbalik badan dan menemukan Vania dengan tampang bingung. Vania dengan kesal menghadiahkan cubitan kuat di perut samping Dave.
"Aww.." ringis Dave sambil mengelus perutnya.
"Aku pergi." ucap Vania kesal, lalu turun menuju kolam berenang, sedangkan Dave mengikuti Vania dari belakang tanpa banyak bicara.
Vania berhenti sebentar saat melintas di depan mini bar saat menuju kolam berenang. "Tolong berikan aku air biasa saja." ucap Vania pada pelayan yang berada diseberang meja. Vania melirik ke arah Dave yang sedang berbicara dengan Lia sang kepala pelayan.
"Ini minuman anda Nona."
"Terimakasih." Vania mengangguk sambil tersenyum meraih gelasnya, lalu meminumnya dengan sekali teguk. Vania meletakkan gelasnya dengan santai, namun semenit kemudian ia merasakan seluruh tubuhnya terbakar dari dalam dan kepalanya seakan memberat.
"Ah...."
"Nona, ada apa? "
"Aghh... DAVE." Vania menggeram memanggil Dave yang lumayan jauh darinya, sedangkan pelayan yang berada di depannya bergerak gusar, lalu berlari memanggil Tuannya.
"Tu.. Tuan, Nona Vania....." belum sempat pelayan tersebut menyelesaikan ucapannya, Dave segera berlari ke arah Vania yang menggeram di tempat duduk sambil meraba kepala dan lehernya.
Davin POV
"Baby, ada apa?" aku dengan cepat meraih wajahnya ke arahku. Aku dengan jelas dapat melihat wajahnya yang bersemu merah dengan mulut terbuka dan mata sayunya berhasil membangkitkan sesuatu dalam diriku untuk memberontak keluar.
"Dave, tubuhku panas. Akhh." kurasakan tangannya meremas baju bagian dadaku dan kulihat ia menggigit bibirnya dengan wajah memerah.
"Damn, kurasa aku tau apa ini." desisku sambil mengusap air matanya yang sedikit keluar. Aku tau ini pasti menyakitkan untuknya.
"Apa yang dia makan sebelumnya?" tanyaku pada pelayan yang tadi memanggilku.
"Nona baru meminum air biasa yang saya berikan padanya Tuan." jawabnya.
"Dave.. Tolong aku." isak Vania sambil menenggelamkan kepalanya di dadaku tanpa melepaskan genggamannya. Kuusap kepalanya lembut.
"Berikan sampel air pada Kenzo, katakan aku ingin hasilnya secepat mungkin." kugendong Vania dengan cepat, lalu membawanya ke kamarnya. Kurasakan nafas Vania yang memburu di leherku dan dapat kupastikan Vania sedang mengendusnya dengan rakus. Kubaringkan tubuhnya dengan lembut, lalu aku merangkak ke atasnya dan menatap wajahnya yang memerah.
"Baby... Kau masih bisa mendengarku?" tanyaku.
"Shhhh... Dave panas."
"Baby.. Kau ingin aku menyembuhkanmu?" tanyaku lembut sambil mengusap pipinya.
"Eghh.. Lakukan apapun." ucapnya dengan pandangan berkabut.
"Aku pastikan besok kamu akan memakiku bahkan menamparku saat kamu menyadarinya. Namun aku tetap tak akan berhenti malam ini, kamu yang memintanya." ucapku sambil menyelusuri tubuhnya dengan tanganku.
Kurasakan bibirnya memangut bibirku dengan begitu rakus, namun kutarik wajahku dan melepasnya dengan lembut.
"Dave." rengeknya sambil menarik kembali wajahku, namun aku menahannya.
"Baby, bukan begitu caranya berciuman. Biar aku yang memimpin, kau bisa mengikutinya nanti." ucapku, lalu mendekati wajahnya dengan senyum mengembang dan ia dengan cepat meraih bibirku kembali dengan bibirnya yang terbuka dan panas.
Tak ingin kalah, kupangut bibirnya dengan begitu panas, tanganku bahkan sejak tadi sudah bergerilya membuka bikininya membuat n*fsuku memuncak. Terdengar jelas Vania mendesah sambil menutup matanya.
"Mari buat malam ini berarti untuk kita." bisikku di telinganya, lalu menggigit pelan cuping telinganya.
Malam ini adalah malam terindah untuk seorang Davin. Ia menikmati setiap detik yang ia lewatkan bersama Vania yang sedang di bawah pengaruh obat.
Bersambung....
Bisa aja Dave, ngambil kesempatan dalam kesempitan. Kucing dikasih ikan asin ya langsung diembatlah 🤣🤣