
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Flashback On
"Papa."
Vania kecil berlari dengan kaki kecilnya menghampiri sang Ayah yang baru saja pulang bekerja.
"My Baby Girl." Dengan sigap Papanya—James memeluk putrinya dan menggendongnya dengan mudah.
Vania tertawa merasakan kecupan-kecupan kecil yang Papanya berikan padanya.
"Vania, Papa capek sayang, sini Mama yang gendong." ujar seorang wanita yang datang menghampiri suami dan anaknya itu.
"No Mama." tolak Vania sambil memeluk erat leher Papanya.
"It's okay Honey." ujar James pada Laura sang istri. Laura tersenyum lembut membalas ucapan Suaminya.
"Papa ayo makan! Tadi Vania bantuin Mama masak untuk makan malam loh." ujar Vania menyombongkan dirinya.
"Benarkah Princess Papa memasak?" tanya Papanya lembut sambil mencubit kecil pipi putrinya.
"Tadi Vania mencuci tomat untuk Mama." ucap Vania dengan wajah yang begitu excited.
James tersenyum menatap putrinya dan mencium pipi putrinya gemas. "Princess Papa hebat, besok Vania masak untuk Papa lagi ya." Vania mengangguk lucu dan memeluk Papanya erat.
"Yaudah sekarang kita makan yuk." ajak Laura. James melangkah sambil menggendong Vania dan mendudukkan Vania di kursi meja makan.
Vania memakan makan malam dengan lahap. "Papa, Liburan kita ke pantai yuk." ajak Vania sambil mengunyah makanannya.
"Boleh." jawab James sambil tersenyum pada putrinya. Vania tersenyum senang sambil bersorak.
Laura ikut tersenyum melihat suami dan anaknya.
***
Vania kecil siap dengan gaun merah muda dan pita di rambutnya. Hari ini Vania ikut bersama dengan Papa dan Mamanya untuk pesta pengesahan cabang pertama perusahaan Addison di hotel.
Vania memeluk boneka Baymax di tangan kirinya. Vania nampak berseri di tengah-tengah kumpulan anak-anak kolega teman Papanya yang lain.
"Zee." Vania menoleh ke sumber suara dan tersenyum melihat sosok Samuel berlari ke arahnya dengan jas yang melekat di tubuh kecilnya.
"Sammy." sapa Vania sambil tersenyum lebar.
"Zee bawa boneka itu terus." ujar Sam saat sampai di depan Vania.
"Memangnya tidak boleh ya?" tanya Vania dengan wajah polosnya. Samuel membuang nafas pasrah.
"Ayo, sama teman-teman yang lain!" ajak Samuel. Vania menatap Mamanya untuk meminta ijin dan akhirnya Mamanya mengangguk sambil tersenyum.
Samuel mengamit tangan Vania dan membawa gadis kecil itu ke tempat bermain anak kecil yang sudah tersedia di sana.
"Zee, Samuel." Sam dan Vania sampai dihadapan bocah laki-laki yang memanggil mereka.
"Hai Lewis." Vania melambai dengan tangannya yang bebas dan senyum manisnya. Lewis tampak tersenyum malu dan membalas sapaan Vania.
"Ayo main perosotan!" ujar Sam kecil menghancurkan suasana.
Vania mengikuti Samuel, menaiki undakan tangga kecil dan merosok ke bawah sambil tertawa gembira.
Hingga akhirnya kejadian mengerikan itu terjadi. Hari di mana mereka pulang dari pantai dan satu keluarga itu mengalami kecelakaan mobil. Karena mengelak mobil lain yang mengarah ugal-ugalan tanpa arah, Papa Vania refleks membanting setir hingga mobil mereka terbalik membanting pembatas jalan.
Papanya dinyatakan meninggal hari itu, Mamanya koma dan ia mengalami Amnesia akibat benturan di kepalanya.
Vania bahkan tidak sadar bahwa Jason, saudara kembar Papanya yang tidak pernah ia lihat, berpura-pura menjadi Papanya.
Belum cukup sampai di sana, Mamanya menyusul Papanya ke surga karena tidak berhasil melewati masa kritis dan komanya.
Samuel dan Lewis kecil tidak terkecoh karena tampang James dan Jason yang begitu mirip ketika datang ke rumah Vania untuk mengajak gadis itu bermain.
Vania kecil sedih dan mengurung diri di kamarnya. Jason memanfaatkan kematian Mamanya dan membawa masuk anak kandungnya Reana dan istrinya Rose masuk dan menjadi bagian keluarga Addison.
Semenjak kedatangan kedua wanita itu, Vania semakin terkucilkan dan terasingkan di rumahnya sendiri. Vania hanya bisa menghibur diri ketika Samuel mengajaknya bermain. Lewis entah kenapa mulai jarang bermain dengannya.
Vania sering mengunjungi makam Mamanya saat ia merasa sedih dan rindu.
Lalu, terjadilah hari di mana ia diculik saat ingin pergi bermain dengan Samuel. Tiga hari Vania disiksa dengan begitu sadis.
Namun satu hal yang Vania lupakan dari kejadian penculikannya adalah tepat hari ketiga ia disekap di rumah tua tersebut, pagi hari saat ia bangun, seorang anak laki-laki berada di hadapannya dan duduk tepat didepannya.
"Zee." panggil anak laki-laki tersebut saat melihat Vania mulai membuka matanya.
"Lewis." ujar Vania saat melihat Lewis datang kembali setelah sekian lama mereka tidak bertemu.
"Zee, minum ini dan makan roti ini!" ujar Lewis menyerahkan botol minum dan roti.
Vania berusaha duduk dengan susah payah. Tangannya yang patah begitu sakit saat ia ingin bergerak.
"Tangan Vania sakit." ujar Vania sambil menangis kesakitan. Lewis dengan perhatian membuka botol minum dan menyuapkannya pada Vania, begitupula dengan rotinya.
"Lewis, tolongin Vania keluar dari sini!" ujar Vania dengan wajah sedihnya. Lewis mengangguk.
Namun terdengar suara seseorang masuk ke dalam rumah tua tersebut. Lewis buru-buru membereskan minum dan sampah, lalu pergi bersembunyi.
Lewis melihat jelas setiap kejadian di mana Vania disiksa bagai hewan. Badan kecilnya yang rapuh harus menjadi sasaran orang-orang kejam tersebut. Lewis menggeram marah melihat kejadian tersebut, namun ia tidak dapat melakukan apapun karena badan kecilnya.
Lewis buru-buru pergi ke rumah kediaman Jason dan memberitahu keberadaan Vania pada Jason. Jason menghembuskan nafas lega. Vania masih dibutuhkan saat itu agar Addison dapat jatuh ke tangannya seutuhnya.
Akhirnya, Jason menolong Vania dari penculikan tersebut. Lewis mengetahui keberadaan Vania saat mendengar percakapan Papanya di kamarnya ketika sedang bertelfon dengan seseorang.
Papanya menuntut Lewis menjauhi Vania sejak Mama gadis kecil itu meninggal. Lewis tidak mengerti kenapa Papanya melakukan hal itu. Semenjak hari di mana Vania bebas, Lewis dan Papanya pergi dari negara tersebut untuk kabur.
Flashback Off.
Vania mengerjabkan matanya pelan menyesuaikan pandangannya. Vania menatap lekat kamar asing di sekitarnya dan menyadari tubuhnya terikat X di atas ranjang.
Tidak ada siapapun di kamar ini. Vania menutup matanya saat merasakan denyutan di kepalanya. Vania mengingatnya sekarang. Masa lalu yang ia lupakan. Vania mengingat sosok Lewis yang membantunya bebas. Lewis adalah sosok baik hati sejak kecil, namun kenapa sekarang rasanya berbeda.
Vania menoleh ke arah pintu saat pintu tersebut terbuka.
Bersambung...
Next : up next 28/5
Bye...😘