
Vania memasuki mobil dave dengan senyum sumringah sedangkan dave masuk dengan wajah pasrah. Setelah melalui banyak perdebatan, dave akhirnya setuju vania ikut datang kekantornya. Awalnya dave tidak ingin vania datang karna ia ingin vania istirahat dirumah dengan cukup, ditambah lagi ia harus menyelesaikan sesuatu disini.
"Kenapa sih dingin gitu? "Tanya vania saat menoleh kearah dave dan menemukan wajah dingin dave.
"Kamu keras kepala. "Jawab dave sarkastik. Vania langsung cemberut dan menoleh kearah supir.
"Yaudah, pak turunin aku dipom bensin. "Ucap vania kesal dengan raut wajah marah.
"Ngapain turun disana? "Tanya dave bingung, seakan tak tau vania marah karna hal apa.
"Bukan urusanmu. "Jawab vania ketus tanpa melihat kearah dave. Dave menghela nafas kasar, seharusnya ia tau vania masih labil dan tak menentu.
"Lanjut jangan berhenti! "Titah dave pada joe. Joe mengangguk pelan dan tetap melajukan mobilnya menuju kantor.
Vania hanya diam tak ingin mendebat dave yang ikut diam tak membuka suara. Vania sudah merencanakan setelah ia turun dari mobil, ia tidak akan mengikuti dave masuk, namun ia akan langsung pergi kemanapun ia mau.
Vania menatap mobil yang perlahan berhenti didepan lobi perusahaan dave. Joe turun dan membukakan pintu untuknya, sedangkan dave membuka pintunya sendiri.
Vania segera turun, lalu berjalan kesal keluar dari daerah bangunan tersebut.
"Vania, kamu mau kemana? "Tanya dave sedikit berteriak.
"Bukan urusanmu. "Jawab vania marah. Dan tetap melanjutkan langkahnya dengan sedikit berlari. Vania menoleh kebelakang dan terkejut saat melihat pengawal dave yang entah darimana mengejarnya. Dengan cepat ia ikut berlari dan menyetop taksi yang beruntungnya akan melintas.
"Jalan pak, cepat! "Vania menggeram saat melihat pengawal dave hampir mendekat. Vania menghela nafas lega saat ia tepat waktu melarikan diri dari mereka.
"Pak cepat! Sebelum ada yang ngejar saya. "Ujar vania. Jika ia menyuruh supir ini mengantarnya ke tempat yang ia tuju, pasti pengawal dave akan tau keberadaannya. Ah iya, ia akan berhenti di jalan saja, dan selanjutnya ia akan berjalan kaki.
"Pak, stop disini saja! "Ujar vania saat melihat halte didepannya. Namun anehnya, supir tersebut malah tetap melaju dan melewati tempat yang ia perintahkan.
"Saya bilang stop! "Ujar vania sedikit berteriak.
"Anda salah masuk taksi yang benar nona. "Ujar pria yang menyetir tersebut, kalau diperhatikan pria ini memang sangat aneh. Vania membola saat sadar kalau saat ini dia sedang diculik.
Vania bersiap akan menonjok supir didepannya ini, namun gerakan kalah cepat dengan sebuah kain yang tiba-tiba menutup hidungnya, dan saat itu juga kesadarannya pudar.
"Tuan, kami kalah cepat. "Ucap pengawalnya.
"Huh.. Biarkan saja! Dia sedang marah, aku akan menghubunginya nanti. "Jawab dave, lalu melanjutkan langkahnya menuju kantornya.
Setelah sampai diruangannya, dave menyibukkan diri dengan berkas-berkas diatas mejanya. Namun pikirannya melayang pada vania. Ia menghela nafas lelah, menyugar rambutnya dengan perlahan.
Cklek.
Dave melihat kearah pintu yang terbuka, dan memperlihatkan sosok Stacey yang masuk dengan senyum manisnya. Dave tak menyangkal, Stacey adalah gadis yang baik dan lemah lembut, ia cukup merasa bersalah dengan gadis dihadapannya ini.
"Sayang, kamu kemana aja menghilang dua minggu ini? Aku tanya steve dia tidak ingin jawab. "Ujar Stacey lembut dan duduk dikursi yang berhadapan dengan dave.
"Aku menyelesaikan sesuatu yang amat penting. "Jawab dave.
"Kamu kelihatan lelah, kamu jangan banyak pikiran nanti kamu sakit. "Ujar Stacey lalu berdiri kearah dave dan mengusap rambut dave perlahan. Dave hanya tersenyum tipis tak tau harus mengatakan apa.
"Sebentar lagi jam makan siang, kita makan bareng yuk. "Ajak Stacey dengan senyum riang. Dave berfikir sejenak, ya ini saat yang tepat untuk memutuskan semuanya. Sejak awal Stacey hanya sebagai umpan, dan mangsanya sejak awal adalah ayah gadis didepannya ini.
"Okey. Tunggu semuanya kelar, kita makan siang bersama. "Jawab dave. Stacey mengangguk senang, lalu duduk disofa ruangan dave sambil menunggu kekasihnya itu.
Dilain sisi.
Mata vania mengerjab perlahan merasakan pening dikepalanya. Vania menyesuaikan pandangannya saat ia menyadari bahwa dirinya terikat disebuah pondasi bangunan terbengkalai.
"Sudah sadar? "Vania menoleh saat mendengar seseorang mengintrupsinya.
"Siapa kalian? "Tanya vania kesal.
"Kami dibayar untuk membunuhmu. Jadi katakan kami adalah malaikat pencabut nyawamu. "Jawab pria tersebut.
"Seseorang menyuruh kami menculik dan membunuhmu, namun jika dipikir kami akan sangat rugi jika langsung membunuhmu. "Ucap pria bertopi tersebut. Tiba-tiba seorang pria datang tanpa menggunakan atribut mencurigakan sekalipun.
"Dia cantik bro, bening, mulus. "Ujar pria Yang baru datang tersebut.
"Iya, kita menahannya disini tentu saja untuk menyicipinya juga. Dilain sisi, dia adalah kekasih pria terkaya itu. Setelah mendapat bayaran dari ibunya, kita bisa juga memeras anaknya yang kaya itu dengan gadis ini. Namun tetap saja kita akan membunuhnya setelah mendapatkan uang itu. "Pria bertopi itu berbicara kesenangan dengan apa yang sedang ia bayangkan.
"Kalian pikir mudah menghadapi kekasihku? "Tanya vania remeh.
Plak.
"Diam kau jalang, seharusnya kau sadar pria itu adalah pemain wanita, dan kau hanya wanita salah satunya. "Ujar pria itu marah setelah menampar vania dengan keras.
"Ambil ponselnya dan hubungi pria itu katakan jika ingin nyawa kekasihnya selamat bawa Lima puluh miliyar sebagai tebusan. "Si pria satu lagi mengangguk dan mengambil ponsel vania dan langsung menghubungi dave.
"Tidak dijawab bos. "
"Huh.. Kurasa gadis ini tidak terlalu penting untuk pria itu. "Ucap pria bertopi tersebut.
"Ini adalah jam makan siang, dia pasti meninggalkan ponselnya dimeja. "Ujar vania.
"Diangkat bos. "
"Perkeras! "
"Halo. "Vania menegang mendengar suara wanita disebrang sana, ia tahu itu pasti stacey.
"Dimana davin? Aku ingin bicara dengannya. "Ujar pria yang memegang ponsel vania.
"Davin, dia sedang ditoilet. Ada apa? Aku kekasihnya, aku akan menyampaikan sesuatu padanya jika ada sesuatu yang penting. "Ujar Stacey ramah.
"Tidak ada. Aku akan menghubunginya nanti. "Ucap bosnya tersebut, lalu bawahannya langsung mematikan telfon tersebut.
"Sudah kukatakan kalau kau adalah salah satu dari jalangnya. "ucap pria bertopi tersebut dengan wajah remeh. Sedangkan vania hanya dapat terdiam tak membalas ucapan pria tersebut.
Dave kembali setelah ia pergi ketoilet sebentar. Dave menatap Stacey yang berdiri heran disamping mejanya dengan ponsel miliknya yang berada ditangan gadis tersebut.
"Kenapa? "Tanya dave ikut heran saat Stacey hanya menatap layar ponselnya.
"Seseorang menelfon, dia bilang akan menelfonmu lagi nanti. "Ucap Stacey.
"Siapa? "Tanya dave.
"Anehnya, itu nama perempuan tetapi yang menelfon laki-laki. Namanya Vania. "Jawaban Stacey berhasil membuat dave menegang sempurna. Dave langsung merebut ponselnya dan melihat history panggilan.
"Laki-laki? "Tanya dave khawatir.
"Iya, laki-laki. Dia mencarimu. "Jawab Stacey heran melihat raut wajah dave yang begitu khawatir. Sedangkan dave kembali menelfon ponsel vania dengan perasaan khawatir.
"Halo. "Dave terperangah saat mendengar suara laki-laki disebrang sana.
"Siapa kau? "Tanya dave dingin.
"Akhirnya Tuan Davin terkaya ini menelfon juga. Kurasa gadis didepanku ini tak berarti untukmu, buktinya kau memiliki kekasih disana bukan? "Ujar pria disebrang sana sinis.
"Jangan banyak omong, dimana dia? "Tanya dave tajam.
"Bersuaralah jalang! Kau dengar kekasihmu ini memanggilmu." Dave mendengar pria tersebut memerintah seseorang disana. Dan terdengar suara grasak-grusuk disebrang sana. Dave menunggu dengan harap.
"Vania. "Panggil dave lembut.
"Dave. "Dave jelas merasakan suara vania yang begitu lemah.
"Sayang, kau baik-baik saja? "Tanya dave khawatir. Stacey yang sejak tadi berdiri, terdiam dengan wajah kaget. Dave baru saja memanggil seseorang disebrang sana dengan kata 'sayang'.
"Kau sudah dengar suaranya, aku minta tebusan 50 miliyar, aku akan mengirim alamatnya lewat pesan. "Ucap pria tersebut. Dave menggeram marah dan tangannya mengeras sempurna.
"Jangan menyentuhnya sekecil apapun, atau kau terima akibatnya. "Ucap dave dingin lalu menutup panggilan tersebut dengan marah. Dave buru-buru mendial nomor kenzo.
"Ya tuan. "
"Siapkan mobil sekarang juga, dan pasukan J7. SEKARANG. "dave berteriak marah lalu menutup telfonnya kasar. Seketika ia tak sadar bahwa Stacey berada diruangan yang sama dengannya.
"Apa maksudnya itu tadi vin? "Tanya Stacey marah.
"Bukan urusanmu. Aku tak ada banyak waktu untuk menanggapi mu. "Ucap dave dingin, lalu pergi keluar dari ruangannya dengan begitu cepat. Pikirannya penuh dengan keadaan vania saat ini. Ditambah gadisnya itu baru saja keluar dari rumah sakit.
"Aku bersumpah jika pria itu menyentuhnya sedikit saja, kubuat dia tak bisa melihat dunia lagi. " geram dave dalam hati.
Bersambung...
hay... hay... hay...
Masih belum lupa kan sama mamanya dave? Jangan lupa dong! 😂😂
menurut kalian davenya yang nggak peka sama perasaan vania, atau vanianya yang masih labil?
Kalian di teamnya siapa nih. Atau diteam cewek selalu benar? 😂😂
teamDave
teamVania
teamAuthor (ada nggak yang berada di team author?)
Atau kalian diteam sam atau randy?
teamSam
teamRandy
Jangan lupa like, share dan komen.
bye😘💕