
...Part ini sudah di Revisi, jadi mungkin pembaca lama akan mendapati sedikit perubahan namun tidak mengubah alur dalam skala besar. Terimakasih🙏...
Keesokan harinya Kenzo kembali datang untuk menemui Davin. Dia datang untuk membawa berita buruk.
Kenzo menuruni mobilnya dengan Tuxedo hitamnya yang rapi tanpa lecet dan sepatu hitamnya yang berkilau. Kenzo tampak tampan dengan wajah dingin dan datarnya.
Jika dilihat, Kenzo benar-benar memiliki aura pemimpin di dalam dirinya. Tak mudah terintimidasi, pintar dan kejam. Paket komplit dengan ketampanan wajahnya.
Tak akan ada yang mengira bahwa Kenzo adalah seorang bawahan Davin. Sekali lihat, orang-orang akan mengira kalau pria itu adalah seorang CEO handal dan kaya, jelas terlihat dari aura dan penampilannya.
Kenzo melangkah memasuki Mansion Davin dengan santai. Setelah masuk, Kenzo diperlihatkan pemandangan sepasang suami-istri yang asik bergelut di atas sofa tanpa tau malu. Davin dengan santai mengurung Vania di bawahnya sambil mencium istrinya.
Vania yang duluan sadar akan kedatangan Kenzo, buru-buru mendorong tubuh Dave menjauh darinya.
Dave yang merasa bingung, langsung menoleh ke arah yang Vania tatap.
"Kenzo."
"Setidaknya lakukanlah di kamar!" Ucap Kenzo dingin. Kenzo lanjut melangkah dan duduk di sofa single yang kosong.
"Ada apa kau datang?" Tanya Dave dengan wajah kesal. Dia kesal kegiatannya diganggu oleh kedatangan Kenzo.
"Kau lupa? Seekor tikus berani mencuri remahan rotimu." Ucap Kenzo ambigu. Seakan mengerti, Dave mengangguk paham ke arahnya.
Dave menoleh ke arah Vania dan menatap istrinya dengan pandangan lembut.
"Sayang, naiklah ke kamar, lalu tidur siang okey?" Ucap Dave. Vania menggeleng dengan bibir mengerucut.
"Ada sesuatu yang perlu ku bahas dengan Kenzo." Ucap Dave dengan nada membujuk sambil mengusap pipi Vania agar dapat mengerti.
"Kalau begitu aku ingin pergi berbelanja saja dengan Lia, boleh? "
Dave langsung menggeleng tidak setuju. "Tidak! Kamu tidak boleh pergi keluar selain bersamaku!" Ucap Dave tegas tak ingin dibantah.
"Aku bosan hanya duduk diam di Mansion Dave." Ucap Vania.
"Tetap tidak!" Dave menoleh ke sembarang arah, tanda tak ingin lanjut berdebat dengan Vania.
Di luar sana berkeliaran orang yang mengincar istrinya dan sampai sekarang orang tersebut belum ia temukan. Bagaimana bisa dia membiarkannya keluar di saat-saat panas seperti ini?
Vania menatap ke arah Dave yang memalingkan wajah darinya dengan pandangan sedih. Vania memutuskan beranjak berdiri dan melangkah pelan menuju lift tanpa sepatah katapun.
Dave menatap punggung istrinya dengan raut bersalah, namun dia tak menyesal dengan keputusannya. Ini sudah benar, dia harus melindungi istri dan anak-anaknya.
Hingga tubuh Vania tertelan pintu lift, baru Dave menoleh menatap Kenzo.
"Bagaimana?" Tanya Dave langsung.
"Mereka tetap gagal." Ucap Kenzo.
"Benar-benar tak berguna." Dave mendesis marah. Seberapa hebat orang itu sampai orang-orang yang sudah lama ia pekerjakan tak dapat melacaknya?
"Namun dia sama sekali tak menunjukkan pergerakan apapun sampai sekarang." Tambah Kenzo lagi.
"Dia menunggu dengan sabar sampai waktunya datang." Ucap Dave.
"Sepertinya tidak ada pilihan lain selain memanggil Ansell kembali." Tambah Dave.
"Ansell masih tidak bisa datang ke Negara ini dalam waktu dekat. Kau tau bagaimana ketatnya Korea Utara."
"Katakan pada mereka untuk secepatnya mengirim Ansell kemari!" Ucap Dave dingin tak peduli.
Ansell satu-satunya harapan untuk melacak keberadaan orang yang mereka cari. Ahli peretas terbaik hingga di pakai oleh banyak Negara. Us, Rusia, Jepang, Israel, Jerman, Prancis, Arab Saudi, Italy dan Korea Utara tak dapat menutup mata pada keahliannya.
"Baik." Jawab Kenzo patuh.
"Sudah tidak ada lagi yang mau kau bicarakan?" Tanya Dave.
"Tidak. "
"Sepertinya aku akan mengajak Vania berbulan madu dalam waktu dekat. Dia akan sangat terkekang jika aku menahannya di sini terlalu lama. Kau tau apa yang harus kau lakukan Ken!" Ucap Dave. Kenzo mengangguk mengerti, lalu bangkit berdiri untuk kembali mengerjakan pekerjaannya.
Dave bangkit berdiri, lalu melangkah menuju kamar mereka. Setelah sampai, Dave membuka pintu kamarnya dengan perlahan.
Dave melangkah pelan, lalu mengambil duduk di atas ranjang yang Vania belakangi. Terdengar suara sesenggukan dari istrinya yang terdengar begitu menganggu dirinya.
"Sayang." Panggil Dave. Vania menegang karena baru sadar Dave sudah berada di dalam kamar dan duduk di belakangnya.
Vania mengusap air matanya dan bertahan untuk mencueki Dave.
"Sayang." Panggil Dave lagi karena tidak mendapat respon dari istrinya.
"Pergi! Aku nggak mau lihat kamu! " Ucap Vania marah dan tak menoleh sedikit pun.
Dave terdengar membuang nafas kasar, lalu memutar tubuh Vania agar menatapnya.
"Pergi Dave!" Ucap Vania memberontak sambil mendorong lengan Dave yang mencengkramnya.
"Sudah cukup!" Ucap Dave tegas, namun terdengar membentak di telinga Vania.
Tangis Vania kembali pecah karena bentakan Dave dan ia berhenti memberontak.
Dave kembali merasa bersalah melihat aliran air mata di pipi istrinya itu. Dave melepas cengkramannya, lalu menarik Vania ke dalam pelukannya.
"Ssttt... Sayang maafkan aku." Ucap Dave sambil mengelus punggung Vania naik turun.
Vania menangis hebat dipelukan suaminya. "Jahat." Ucap Vania sambil memukul dada bidang Dave.
"Iya, aku jahat." Ucap Dave lembut untuk dapat menenangkan istrinya.
"Tidak... Hiks.. Suamiku tidak jahat padaku." Kening Dave mengerut heran, sedangkan Vania kini memeluk Dave erat dan mulai menghentikan tangisnya.
Baru saja Vania mengatakan Dave jahat, kini ibu hamil itu langsung menyangkalnya juga. Dave baru tahu hormon wanita hamil benar-benar menyeramkan.
Vania menghapus air matanya di kaus yang Dave pakai, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap suaminya.
"Kamu jahat cuekin aku!" Ucap Vania lagi dengan wajah sedih.
"Apa karena aku memalingkan wajah darinya?" Batin Dave mencari-cari jawaban. Sepertinya memang iya.
"Maaf sayang, aku hanya tidak ingin berdebat denganmu." Ucap Dave lembut. Vania mengangguk mengerti dengan begitu mudah. Dave sudah dimaafkan?
"Aku dimaafkan? "
"Iya."
Dave tersenyum senang, lalu mengecup kedua mata Vania lembut.
"Sudah, jangan menangis lagi! Aku ingin memberitahumu sesuatu." Vania tampak antusias dan menatap Dave ingin tau.
"Tiga hari lagi kita pergi berbulan madu." Ucap Dave senang. Vania terkejut dan menegakkan tubuhnya.
"Benarkah?" Tanya Vania tak percaya.
"Iya."
"Yes. Kemana?" Tanya Vania girang dengan senyum sangat lebar.
"Indonesia."
Bersambung....
Yang pernah hamil dan moodnya sama kayak Vania, tunjuk tangan! 😂😂
Davin dan Vania mau ke Indonesia nih. Lihat postan ttng perjalan mereka di Indonesia dari Ig @violet_slavny.
Happy ending walau nyesek itu artinya apa guys? 🤔
Jangan lupa like, komen dan share.
Bye... 😘💕